Di tengah hiruk-pikuk Shibuya, Tokyo, di mana neon menyala seperti darah arteri kota, hidup seorang pria bernama Hiroshi Tanaka. Berusia 32 tahun, ia adalah programmer biasa di perusahaan teknologi raksasa di gedung pencakar langit Shinjuku. Setiap pagi, ia naik Yamanote Line yang padat, tubuhnya bergesekan dengan ribuan pejalan kaki anonim. Hiroshi tak pernah menonjol; rambut hitam rapi, kemeja putih kusut, dan mata yang selalu tertunduk ke layar ponsel.
Semuanya berubah pada suatu malam musim panas yang lembap. Hiroshi pulang larut dari kantor, badannya lelah setelah coding maraton. Di apartemen kecilnya di kawasan Meguro, ia merasakan gatal aneh di punggungnya. Awalnya, ia pikir itu gigitan serangga dari taman Sakura di dekat stasiun. Ia menggaruknya sambil mandi, air panas mengalir deras dari shower modern yang terhubung ke smart home system. Namun, gatal itu tidak hilang, malah bertambah parah, seperti ada sesuatu yang bergerak di bawah kulit.
Pagi berikutnya, Hiroshi bangun dengan punggung sakit. Di cermin kamar mandi, ia melihat benjolan kecil di antara tulang belikatnya. Bentuknya bulat, seperti jerawat raksasa, tetapi berdenyut pelan.
"Mungkin alergi," gumamnya sambil meminum kopi hitam dari mesin Nespresso. Ia buru-buru berpakaian dan berangkat kerja, melupakan hal itu di tengah kemacetan Tokyo.
Hari pun berganti, benjolan itu makin membesar. Hiroshi mulai merasa aneh, seperti ada pandangan ekstra yang menyusup ke pikirannya. Saat meeting di ruang konferensi ber-AC dingin, ia tiba-tiba melihat rekan kerjanya di belakangnya, meski matanya menghadap depan.
"Apa ini?" bisiknya dalam hati.
Ketika pulang malam itu, di kereta bawah tanah yang gelap, ia merasakan benjolan itu bergerak. Di apartemen, ia melepas baju dan melihatnya di cermin. Benjolan itu retak dan dari celahnya muncul sesuatu yang basah serta mengilap, sebuah mata.
Mata itu bukan miliknya. Warnanya hijau keabu-abuan, bukan cokelat seperti matanya sendiri. Kelopaknya tipis, bergetar seperti baru lahir. Hiroshi panik, tetapi tak berani ke dokter.
"Mungkin halusinasi karena overwork," katanya pada diri sendiri.
Namun, mata itu nyata. Ia bisa merasakannya berkedip dan yang lebih mengerikan, ia bisa melihat melalui itu. Pandangan 360 derajat: dari depan matanya biasa, dari belakang mata baru ini. Saat berbaring di futon, ia melihat dinding belakang kamarnya tanpa berbalik.
Keesokan harinya, Hiroshi mencoba menutupinya dengan plester besar. Di kantor, saat coding di cubicle sempit, mata itu mulai "berbicara". Bukan dengan suara, melainkan gambar. Ditunjukkannya hal-hal yang tak seharusnya ia lihat, seperti bayangan orang di lift yang sebenarnya kosong atau gerakan aneh di ventilasi AC. Malam itu, di izakaya dekat stasiun sambil minum sake dengan teman, mata itu terbuka lebar. Hiroshi melihat seorang wanita di belakangnya, tetapi bukan wanita biasa. Wajahnya meleleh seperti lilin, meski di dunia nyata dia tersenyum normal.
Hiroshi mulai curiga. Ia ingat berita tentang kecelakaan di laboratorium rahasia di pinggiran Tokyo, tempat perusahaan farmasi menguji coba obat mutasi genetik. Mungkin ia terpapar saat lewat di kereta? Atau air minum yang tercemar? Ia mencari di internet, tetapi tidak ada bukti. Mata itu tumbuh lebih kuat. Sekarang mata itu punya iris yang berputar seperti kamera CCTV, menangkap detail yang tak terlihat mata manusia, seperti gelombang radiasi dari ponsel atau aura gelap di sekitar orang-orang di jalan Roppongi yang ramai.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur jendela apartemen, mata itu lahir sepenuhnya. Hiroshi merasakan sakit menusuk, kulit punggungnya robek, dan mata itu muncul utuh, lengkap dengan bulu mata panjang yang bergerak sendiri. Sekarang, ia tak bisa mengendalikannya. Mata itu berkedip independen, memutar ke arah yang tak ia inginkan. Saat tidur, mata itu tetap terbuka, menunjukkan mimpi buruk: kota Tokyo dari belakang, tempat gedung-gedung tinggi berubah menjadi makhluk hidup, dindingnya berdenyut seperti daging.
Hiroshi menjadi paranoid. Di jalan Akihabara yang penuh otaku dan lampu LED, ia merasakan mata itu memandang orang-orang, dan mereka merasakannya juga. Seorang gadis cosplay berhenti, menatap punggungnya dengan heran.
"Ada apa di sana?" tanyanya.
Hiroshi lari, naik kereta ke arah Yokohama. Di sana, di pelabuhan modern dengan kapal kontainer raksasa, ia mencoba memisahkan mata itu dengan pisau dapur. Namun saat menyentuh, mata itu berteriak. Bukan suara, melainkan gelombang rasa sakit yang membuatnya pingsan.
Saat pagi, mata itu tidak hilang, malah bertambah. Sekarang ada dua, berdampingan di punggungnya, seperti mata kembar yang saling pandang. Mereka menunjukkan rahasia kota: di bawah permukaan Tokyo, ada jaringan makhluk serupa, manusia dengan organ ekstra yang lahir dari polusi dan teknologi. Hiroshi melihat tetangganya melalui dinding, seorang pria dengan telinga di perut yang mendengar rahasia orang lain.
Klimaks datang saat festival Obon di kuil Asakusa. Di tengah kerumunan berpakaian yukata, mata-mata di punggungnya terbuka lebar, menarik perhatian. Orang-orang mulai berbisik. Beberapa punya mata serupa, tersembunyi di balik baju.
"Kau sudah bangun," kata seorang pria tua dengan suara pelan. "Ini evolusi baru, dari radiasi Fukushima yang bocor ke air kota."
Hiroshi tak percaya. Ia lari ke rumah, tetapi mata-mata itu mengendalikan tubuhnya sekarang. Mereka memutar ke belakang, membuatnya berjalan mundur di jalan Ginza yang mewah. Orang-orang berteriak, tetapi Hiroshi tak bisa berhenti. Mata itu ingin melihat dunia dari perspektif baru, memaksa dia jadi monster kota.
Akhirnya, di atap gedung kantornya di Shinjuku, Hiroshi berdiri di tepi. Mata-mata di punggungnya melihat kota di bawah: Tokyo yang berkilau, tetapi penuh kegelapan.
"Aku ingin bebas," rasanya mata itu berbisik melalui sarafnya.
Hiroshi melompat? Tidak, mata itu mengendalikan, membuatnya mundur, jatuh ke belakang. Saat jatuh, ia melihat langit dari depan dan kota dari belakang, dua dunia yang bertabrakan.
Tubuhnya hancur di trotoar, tetapi mata-mata itu selamat. Mereka berguling, lahir kembali di aspal basah, menatap pejalan kaki yang berhenti. Besok, mata baru akan lahir di punggung orang lain, menyebar seperti virus di kota yang tak pernah tertidur.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Rampungkan Bab Terakhir, Manga Blue Exorcist Umumkan Hiatus 4 Bulan
-
Resep Roti Goreng Krispi di Luar Lembut di Dalam, Cocok Buat Teman Ngopi di Tanggal Tua
-
Judi Online: Hiburan Murah yang Membuat Hidup Jadi Mahal
-
MotoGP 2026 Segera Dimulai! Ini Daftar Tim dan Pembalap yang akan Tampil
-
Gabung Film Live Action Blue Lock, Yuki Tachibana Perankan Gin Gagamaru