Hayuning Ratri Hapsari | Wilda Febriani
Ilustrasi Cahaya dalam Lapar (ChatGPT)
Wilda Febriani

Lapar bukan hanya tentang perut yang kosong. Kadang ia hadir dari pertanyaan-pertanyaan yang belum mampu dijawab. Dari jeritan-jeritan yang bersembunyi di balik kalimat, “aku baik-baik saja.”

Padahal ada hari yang begitu ironis, hidup bertahan dengan air putih dan keyakinan yang sangat tipis, "aku bisa melewatinya." Meskipun kenyataannya aku tengah berdiri di tengah kota yang tak pernah peduli siapa yang kenyang dan siapa yang hampir menyerah.

Ia hanya menuntut satu hal, janji aku akan baik-baik saja.

Kelihatannya saja hidup di kota itu keren, bebas, dan nikmat. Saat orang bertanya kerja di mana? Aku punya jawaban yang cukup baik untuk reputasi.

Bukan untuk menyombongkan diri, tapi sekadar menyelamatkan diri dari tetangga yang lidahnya lebih tajam dari pada pisau di dapur. Menjadi benteng dari keluarga yang selalu bertanya dengan ekpektasi yang menekan dada.

Ini bukan tentang membanggakan diri. Ini hanyalah caraku bertahan karena pergi dengan harapan dan mimpi yang terlalu besar.

Hari pertama semuanya seperti healing di tempat ternyaman. Ada rasa tenang dan juga nikmat. Jauh dari pertanyaan dan juga perbandingan. Hari kedua, ekspektasi itu dibalas dengan kenyataan yang menyakitkan, aku gagal bekerja. Tabungan menipis lebih cepat dari perkiraan. Untuk beli makanan saja aku harus berpikir dua kali.

Jika hari ini membeli sebungkus nasi Padang, esok tidak ada uang tersisa. Buat numpang makan sama teman, rasanya tidak mungkin, karena ini hanya kos-kosan yang dihuni oleh orang-orang yang sedang berjuang dengan hidupnya.

Hari ketiga, aku berusaha untuk mencari jalan. Menyusuri ikon kota, masuk ke toko-toko yang tampak mewah, bertanya tentang pekerjaan. Ada wajah-wajah simpati, tapi lebih banyak yang menolak. Seorang pegawai dengan riasan tebal berkata singkat, “Di sini tidak ada lowongan.”

Padahal papan pengumuman masih tergantung jelas.

Hatiku tersentak, baru jadi karyawan di toko, tapi gayanya sudah seperti orang yang punya toko.

Ahh lupakan orang-orang itu. Saat azan Zuhur memanggil, aku bergegas ke masjid terdekat. Aku melihat orang-orang berpakaian rapi di sana. Tapi dibalik rapinya pakaian mereka, ternyata mereka hanyalah pedagang asongan yang ingin menyeru pada Tuhan, meminta rezeki lebih hari ini.

Selesai salat, aku melihat handphone, membuka aplikasi lamaran pekerjaan tapi belum ada jawaban.

Aku rapuh, tapi aku masih berjalan dengan perut yang kosong dan juga buku catatan yang selalu menemaniku. Buku yang selalu mendengarkan curahan hatiku.  Setelah menulis kalimat yang begitu panjang. Entah kebetulan atau jawaban dari Tuhan, hatiku tergerak menemui teman yang sudah berpengalaman kerja di berbagai toko.

Namanya Nur, seperti cahaya dalam lapar. Ia mendengarkan tanpa menghakimi, tapi pikirannya sudah berkelana membayangkan tempat yang sedang membutuhkan pekerjaan.

“Kamu mau bekerja apa saja?” tanyanya.

Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya yakin pada diriku sendiri.

Selesai bekerja, Nur membawaku ke sebuah rumah, aku lihat banyak tumpukan baju yang sudah dijahit tinggal menunggu dilipat dan dimasukkan ke dalam plastik.

Aku hanya mendengarkan Nur berbicara dengan pemilik rumah, menawarkan aku untuk bekerja. Aku tahu, pemilik rumah itu tak sepenuhnya yakin, tapi Nur mampu meyakinkannya. Aku disuruh melipat satu pakaian, aku lakukan.

“Besok silakan datang,” katanya.

Upah yang ditawarkan tak begitu besar, melipat satu kodi pakaian dihargai enam ribu rupiah. Tapi aku bahagia. Setidaknya aku punya pegangan.

Hari berikutnya, aku datang. Aku sudah memasang target buat menyelesaikan tiga atau empat kodi. Tak sesuai ekspektasi, aku mengira dibayar per hari, ternyata per minggu. Tapi tidak apa lumayang buat tabungan. Walaupun uang di kantong tinggal sepuluh ribu rupiah, cukup buat angkot hari ini dan esok. Rencananya aku mau nginap di rumah Nur beberapa hari ke depan.

Di perjalanan pulang, aku bertemu ibu yang tadinya mengantar pakaian ke tempat aku bekerja. Kami tak saling kenal, hanya berbicara sekadarnya karena naik angkot yang satu tujuan. Ia memberiku uang lima ribu rupiah. Awalnya aku menolak, tapi ia selipkan uang itu ke genggamanku, “Anggap rezeki hari ini,” katanya.

Aku ambil uangnya, dalam hati, “Tuhan inikah yang namanya keajaiban?”

Dengan uang itu aku bisa beli makanan untuk makan malam. Tidak nasi, tapi makan sebungkus bakso harga lima ribu rupiah. Lumayan untuk mengisi kekosongan perut.

Setelah dua hari bekerja, aku semakin cepat melipat pakaian. Duduk seharian, berhenti hanya untuk salat. Makanan tak sempat aku jamah, karena aku mengejar target kecilku untuk mendapatkan upah lima puluh ribu rupiah di akhir pekan.

Sampai suatu pagi, kabar buruk datang: pemilik rumah berpulang.

Uang yang aku harapkan tidak jadi aku dapatkan tapi satu seruan dari orang tua Nur, “Ikhlaskan saja.”

Dengan hati yang lapang aku ikhlas, walaupun uang di tangan sudah semakin menipis.

Hari minggunya, perjanjian terakhir aku dengan orang tua, jika tidak dapat pekerjaan esok aku harus pulang kampung. Tapi aku belum menyerah, aku mengikuti Nur ke tempat kerjanya. Aku minta diajari cara melamar kerja ke toko-toko.

Tak sepenuhnya yakin. Tapi Nur meyakinkan aku. Ia  memberi semangat dikala diri ini sudah tak banyak berharap.

Aku kembali mencari kerjaan dari toko ke toko, tapi tak ada orang yang mau menerima aku bekerja. 

Aku pulang ke tempat kerja Nur, kembali bercerita tentang hari ini. Merepotkan memang, tapi aku tak ada tempat kembali selain Nur. Disaat orang lain tak ada yang peduli, Nur masih mendengarkan rintihan hati ini dengan penuh belas kasihan.

Lagi dan lagi, Nur menyelamatkanku dari pulang kampung dengan kepala tertunduk. Ia menawari aku bekerja di salah satu toko rekannya. Ia benar-benar meyakinkan rekannya bahwa aku bisa bekerja dengan baik dan jujur.

Semesta memberi aku kesempatan untuk tinggal lebih lama di kota yang sungguh tak pernah peduli nasib orang-orang seperti aku.

Sebulan bekerja terasa sangat berat, tapi perlahan, keadaan mengajari aku arti bertahan. Bukan berarti semua masalah selesai. Tapi aku belajar hidup meski belum sepenuhnya menang.

Kadang apa yang diharapkan tak selalu datang dalam bentuk uang, tapi pengalaman yang tak dapat dinilai dengan uang.