Bimo Aria Fundrika | Sendi Sudrajat
Setiap coretan menjadi kejadian nyata
Sendi Sudrajat

Di sudut kota yang bahkan Google Maps pun ragu menandainya, ada sebuah gang sempit yang hanya muncul saat langit mendung dan angin bau hujan berembus pelan.

Orang-orang biasanya melewatinya tanpa sadar, kecuali mereka yang sedang bingung menentukan masa depan atau setidaknya, sedang sangat butuh keajaiban kecil.

Namaku Raka, mahasiswa tingkat akhir yang lebih sering menatap langit-langit kamar kos daripada menatap masa depan. Skripsi mandek, tabungan menipis, dan mantan sudah tunangan. Paket kombo.

Hari itu aku berjalan tanpa tujuan, hanya mengikuti kaki. Awan gelap menggantung, dan tiba-tiba aku menemukan gang yang belum pernah kulihat sebelumnya. Di ujungnya ada toko kecil dengan papan kayu bertuliskan: TOKO PENSIL – Menggambar Apa Saja.

“Apa saja?” gumamku. “Termasuk nilai A?”

Tokonya terlihat tua, tapi bersih. Di dalam, rak-rak kayu penuh pensil dengan berbagai warna, ukuran, dan bentuk aneh. Ada yang ujungnya bercahaya, ada yang berasap tipis, bahkan ada yang seperti terbuat dari kaca.

Seorang kakek berkacamata bulat muncul dari balik tirai.

“Selamat datang,” katanya santai. “Butuh masa depan yang baru, atau cukup revisi kecil?”

Aku terkekeh. “Kalau bisa, yang diskon.”

Kakek itu tidak tertawa. “Di sini tidak ada diskon. Hanya konsekuensi.”

Oke. Agak aneh.

“Apa maksudnya toko pensil menggambar apa saja?” tanyaku.

Kakek itu mengambil satu pensil hitam polos. “Coba gambar satu kejadian yang ingin terjadi besok.”

“Serius?”

“Silakan. Gratis untuk coretan pertama. Setelah itu, ada harga yang harus dibayar.”

Aku mengangkat bahu. Kupikir ini hanya gimmick toko seni. Aku mengambil kertas dan menggambar sesuatu yang sederhana: diriku duduk di ruang sidang skripsi, dosen penguji tersenyum, dan ada tulisan besar: LULUS.

Gambar stick figure, jelas. Bahkan tidak layak jadi meme.

Kakek itu melihat, mengangguk kecil. “Baik. Simpan kertasnya. Jangan ditunjukkan ke siapa pun. Besok lihat hasilnya.”

Aku pulang sambil menahan senyum geli. Tapi anehnya, gang itu sudah hilang saat aku menoleh ke belakang.

Besoknya, dosen pembimbing tiba-tiba mengirim pesan: “Raka, penguji kosong hari ini. Mau sidang cepat?”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

Sidang yang biasanya tegang berubah jadi santai. Penguji yang terkenal killer malah banyak bercanda. Revisi? Hanya typo. Nilai? A.

Aku pulang dengan kepala ringan dan jantung berisik.

Malamnya, gang itu muncul lagi.

Aku kembali ke toko.

“Berhasil,” kata kakek itu sebelum aku bicara. “Kebanyakan pelanggan datang lagi setelah coretan pertama.”

“Ini… bagaimana bisa?”

“Pensil kami tidak menggambar gambar,” katanya. “Ia menggambar kemungkinan, lalu memaksa dunia memilihnya.”

“Berapa harganya?”

“Untuk pensil standar: satu kenangan penting per gambar.”

Aku mengerutkan dahi. “Kenangan penting?”

Kakek itu menunjuk rak. “Mau coba lagi atau cukup satu keajaiban?”

Tentu saja aku coba lagi.

Kali ini aku membeli satu pensil biru. Hangat saat disentuh. Aku menggambar rekening bank dengan saldo banyak dan diriku tersenyum lebar.

“Kenangan apa yang diambil?” tanyaku.

Kakek itu menyentuh keningku sebentar. Ada sensasi seperti file dihapus.

Aku pulang.

Besoknya, aku menerima email: proyek freelance lama yang kukerjakan ternyata dipakai perusahaan besar, dan mereka mentransfer bayaran plus bonus. Saldo melonjak drastis.

Aku senang, sampai ibu menelepon.

“Ibu lihat foto kamu sidang,” katanya. “Bangga sekali. Sayang Ayah tidak sempat lihat sebelum….”

Sebelum apa?

Aku diam.

“Ayah pasti bangga,” lanjutnya.

Nada suaranya terasa seperti mengulang cerita lama. Terlalu lama.

Setelah telepon ditutup, aku menatap foto di dinding kos. Foto wisuda SMA-ku, harusnya ada Ayah di situ. Tapi sekarang hanya Ibu dan aku. Ruang di sisi kiri kosong, seperti di-crop rapi.

Aku tidak ingat wajah Ayah.

Jantungku turun satu lantai.

Malamnya aku kembali ke toko.

“Kau ambil kenangan tentang Ayah,” kata kakek itu tenang. “Nilainya cukup untuk satu perubahan finansial sedang.”

“Kembalikan!”

“Tidak ada pengembalian. Hanya penukaran baru.”

Aku marah, tapi juga penasaran. “Kalau saya gambar sesuatu yang besar?”

“Semakin besar gambarnya, semakin mahal kenangan yang hilang.”

Aku menatap rak paling atas. Ada pensil emas.

“Itu?”

“Untuk perubahan hidup total,” katanya. “Harga: satu hubungan yang menentukan.”

Logikaku bilang berhenti. Ambisiku bilang lanjut.

Aku membeli pensil emas.

Di kertas, aku menggambar diriku menjadi penulis terkenal. Buku laris. Wawancara di mana-mana. Hidup mapan. Banyak pembaca.

Tanganku gemetar saat selesai.

Kakek itu menyentuh pelipisku. “Transaksi selesai.”

Dua minggu berikutnya seperti roket. Tulisan-tulisanku viral. Penerbit menghubungi. Kontrak datang. Semua terasa tidak masuk akal cepatnya.

Tapi ada yang aneh.

Nomor seseorang hilang dari ponselku. Chat kosong. Foto tidak ada. Namanya tidak muncul di daftar kontak, tapi ada ruang kosong di antara huruf N dan P yang terasa… salah.

Aku bertanya ke teman.

“Laras?” kata mereka. “Siapa itu?”

Padahal Laras adalah orang yang menemaniku dari semester satu. Yang selalu membaca tulisanku pertama kali. Yang bilang, “Kalau kamu terkenal nanti, jangan lupa tetap nulis yang jujur.”

Aku tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas lagi.

Aku kembali ke toko dengan langkah cepat.

“Kau menukar hubungan penentu,” kata kakek itu pelan. “Biasanya orang memilih pasangan, sahabat, atau mentor. Otakmu yang memilih mana paling mahal nilainya.”

“Aku mau berhenti.”

“Boleh. Jangan menggambar lagi.”

“Kalau saya gambar agar semua kembali?”

Kakek itu menatapku lama. “Bisa. Tapi kau harus membayar dengan semua hasil coretanmu. Karier, uang, kelulusan instan dan semua kembali ke jalur biasa. Dan satu lagi yaitu kenangan tentang toko ini juga hilang.”

Aku duduk lama.

“Berarti saya tidak akan ingat pernah sukses cepat?”

“Benar.”

“Dan mungkin hidup biasa saja?”

“Biasa itu sering diremehkan,” kata kakek itu sambil tersenyum tipis.

Aku mengambil pensil paling sederhana, pensil kayu biasa.

Aku menggambar: diriku kembali ke kamar kos, skripsi penuh revisi, rekening pas-pasan, tapi duduk bersama seorang perempuan yang wajahnya belum jelas, hanya ada tulisan kecil di atasnya: Laras.

Tidak ada gemerlap. Hanya hangat.

Kertas itu bersinar sebentar.

Saat aku mengangkat kepala, toko sudah kosong. Rak hilang. Pintu terbuka ke gang biasa.

Aku terbangun di kamar kos dengan laptop menyala. File skripsi penuh komentar dosen. Revisi di mana-mana.

Ponsel berbunyi.

Pesan masuk:
Laras: “Bab 3 kamu kepanjangan. Mau kupotong tanpa ampun, atau kamu yang sadar diri?”

Aku tersenyum tanpa tahu kenapa rasanya lega sekali.

“Potong saja,” balasku. “Tapi jangan potong aku dari hidupmu.”

Dia membalas dengan emoji ketawa dan, “Gombal kamu kambuh.”

Aku menatap meja. Ada satu pensil kayu pendek, sudah tumpul. Tidak ingat dari mana asalnya.

Di badannya ada tulisan kecil hampir pudar:
Menggambar Apa Saja.

Aku tidak mencoba lagi.

Kadang masa depan memang bisa digambar, tapi mungkin paling aman digambar pelan-pelan, pakai usaha, bukan keajaiban. Karena tidak semua yang terhapus bisa digambar ulang.