Lintang Siltya Utami | Ryan Farizzal
Poster film Kuyank (IMDb)
Ryan Farizzal

Film Kuyank (2026), yang juga dikenal sebagai Kuyank: Saranjana The Prequel, merupakan karya terbaru dari sutradara Johansyah Jumberan. Diproduksi oleh Dari Hati Films (DHF Entertainment), film ini menjadi prekuel dari Saranjana: Kota Ghaib (2023), memperluas semesta horor berbasis mitologi Indonesia.

Dengan durasi 100 menit, Kuyank menggabungkan elemen drama, horor, dan misteri, fokus pada budaya Banjar di Kalimantan Selatan. Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2026. Rilis nasional ini disertai rating 13+ dari Lembaga Sensor Film Indonesia, menandakan konten yang cocok untuk remaja dengan pengawasan. Sebelum rilis luas, film ini diputar premier di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada 6 Desember 2025, di mana ia mendapat sambutan hangat dari penonton festival.

Tekanan Adat dan Rahasia Gelap Rusmiati

Salah satu adegan di film Kuyank (IMDb)

Cerita Kuyank berlatar tujuh tahun sebelum peristiwa di Saranjana, di sebuah desa terapung di rawa-rawa Kalimantan. Kisahnya mengikuti Rusmiati (diperankan oleh Putri Intan Kasela), seorang gadis desa sederhana, yang menikah dengan Badri (Rio Dewanto), seorang pria terhormat.

Tetapi, pernikahan mereka diramalkan membawa sial oleh dukun setempat. Tekanan adat istiadat Banjar dan masyarakat memaksa Rusmiati terjerumus ke dalam ilmu hitam Kuyank makhluk mitologi Banjar yang memangsa bayi dan wanita hamil. Plot ini mengeksplorasi konflik antara cinta, tradisi, dan kegelapan supranatural, dengan elemen teror yang muncul dari rahasia identitas Rusmiati. Tanpa spoiler, cerita berpuncak pada pilihan tragis Badri: mempertahankan cinta atau menyerah pada tuntutan masyarakat yang berdarah-darah.

Review Film Kuyank

Salah satu adegan di film Kuyank (IMDb)

Dari segi akting, Rio Dewanto sebagai Badri tampil solid, membawa nuansa emosional yang mendalam, mirip dengan peran-perannya di film-film drama sebelumnya. Ia berhasil menyampaikan dilema internal seorang suami yang terjebak antara loyalitas dan ketakutan.

Putri Intan Kasela, pendatang baru yang menonjol, memberikan performa autentik sebagai Rusmiati, dengan ekspresi yang menangkap keputusasaan dan transformasi gelap karakternya. Pendukung seperti Ochi Rosdiana, Jolene Marie, Dayu Wijanto, dan Barry Prima (veteran horor Indonesia) menambah kedalaman ensemble. Barry Prima, khususnya, membawa karisma klasiknya sebagai tokoh otoritas desa, mengingatkan pada era film horor 80-an. Cast lokal dari Kalimantan, seperti Hazman Al-Idrus dan Betari Ayu, turut memperkaya autentisitas.

Sutradara Johansyah Jumberan berhasil menyajikan visual yang memukau, dengan sinematografi Iman Samudera yang menangkap keindahan dan kegelapan rawa-rawa Kalimantan. Pengambilan gambar di lokasi asli, seperti kanal-kanal Banjarmasin, memberikan rasa autentik yang jarang ditemui di horor Indonesia yang sering Jawa-sentris.

Efek visual (VFX) oleh Kalvin Irawan meningkat signifikan dibanding Saranjana, dengan CGI Kuyang yang realistis–makhluk tanpa tubuh bawah yang terbang malam hari. Akan tetapi, horornya lebih ke arah psikologis dan creature feature daripada jumpscare murahan, yang membuatnya lebih seperti drama sosial dengan bumbu supranatural. Musik oleh Ganden Bramanto S. mendukung atmosfer, dengan lagu Kasih Matan Di Hawas oleh JEF Banjar yang menambah nuansa budaya.

Kelebihan utama Kuyank adalah representasi budaya Banjar yang kental. Film ini memamerkan adat seperti betapung tawar (upacara pernikahan), bahasa Banjar dalam dialog (dengan subtitle), dan mitos Kuyang yang diadaptasi secara hormat. Ini menjadi angin segar di tengah dominasi horor Jawa, seperti KKN di Desa Penari atau Pengabdi Setan.

Isu sosial tentang pandangan masyarakat terhadap perempuan–stigma pernikahan, tekanan adat, dan diskriminasi–diangkat dengan tajam, membuatnya lebih dari sekadar horor. Komedi ringan di awal juga menyeimbangkan nada, menghindari kesan berat sepanjang film. Trailer resmi, dirilis di YouTube, berhasil membangun hype dengan adegan teror air dan transformasi Kuyang.

Akan tetapi, ada kekurangannya tentang plot yang nanggung: babak pertama terlalu cepat, sementara horornya terasa tipis, lebih condong ke drama yang draggy. Sebagai prekuel, ia tidak banyak menjawab misteri Saranjana, malah terasa seperti cerita mandiri dengan elemen generik mirip FTV daerah. Endingnya mengharukan tapi prediktabel, dan momen teror kadang hilang momentum. Dari segi kulturnya sangat epik tapi kritikku atas kurangnya intensitas horor.

Secara keseluruhan, Kuyank adalah pencapaian bagi horor lokal, membuktikan potensi folklore non-Jawa. Bagi penonton yang mencari horor autentik dengan kedalaman budaya, film ini wajib tonton, sih! Rating pribadi: 7/10. Dengan rilis 29 Januari 2026, ia bersaing dengan horor lain seperti Dowa Juseyo dan Kafir: Gerbang Sukma, tapi uniknya dengan latar Kalimantan membuatnya standout. Kalau kamu di Surabaya, cek jadwal di bioskop seperti CGV atau XXI untuk pengalaman layar lebar ya, Sobat Yoursay!