"Namanya juga masih muda, Bu Fatma. Mungkin Hera masih pengen santai dulu di rumah. Lagian yang tugas nyari nafkah kan udah ada."
Suara Bu RT terdengar seperti basa-basi.
Seperti biasanya, saat sore, ibu-ibu kompleks selalu berkumpul di teras rumahku bersama Ibu mertua yang bisa dibilang... julid.
Ibu mertuaku, Bu Lastri, langsung berdecak begitu ada yang membelaku.
"Tapi ya tetep aja toh, Bu. Ini udah dua tahun, lho. Agung itu kerja banting tulang di pabrik, berangkat pagi pulang sore, kadang sampe lembur-lembur," jawab mertuaku dengan suara ketus.
"Eh, yang di rumah cuma bisa ngabisin nasi. Belanja online. Belum lagi urusan momongan, kosong terus setiap bulan. Kalau cuma masak dan nyapu mah, saya juga bisa sendiri!" imbuhnya.
Aku meremas kain lap di balik pintu ruang tamu. Perih, tapi aku memilih diam.
Aku tahu, Ibu sengaja menjelek-jelekkan namaku. Ya, meskipun faktanya aku memang pengangguran. Namun, kulakukan semua ini atas keputusan bersama suamiku.
Hanya saja, aku tidak menyangka Ibu mertuaku justru keberatan kalau menantunya menganggur di rumah dan hanya mengurusnya.
"Udah toh, Bu. Jangan ngomongin Hera terus."
Aku langsung mengintip dari jendela begitu mendengar suara suamiku.
Dia baru saja pulang dari pabrik. Aku langsung membukakan pintu untuknya tanpa menatap ibu-ibu yang kaget melihatku ada di sana.
Mungkin mereka tidak menyangka kalau aku mendengar obrolan mereka.
"Jangan dipikirin omongan mereka, Ra. Nggak ada gunanya. Mas masih sanggup nafkahin kamu kok," ujar suamiku sambil memberikan tasnya padaku.
Aku mengangguk dan tersenyum. Kukecup punggung tangannya yang lengket dan berbau keringat.
Namun, aku tidak berniat untuk melupakan perkataan Ibu mertuaku begitu saja. Soalnya, aku mulai muak setiap hari mendengar kalimat yang sama keluar dari mulutnya.
•••
Malamnya, saat Mas Agung sedang rebahan di kamar, aku memberanikan diri untuk bicara padanya.
"Mas, aku mau coba jualan online. Jadi affiliator. Boleh?"
Mas Agung langsung duduk dan menatapku dengan ragu.
"Lho, bukannya selama ini gajiku udah cukup untuk makan dan belanja kebutuhanmu, Ra?"
"Bukan soal cukup atau enggak, Mas. Aku cuma pengen punya penghasilan lagi kayak waktu masih gadis. Biar aku nggak cuma diem di rumah ngabisin beras sama belanja online," jawabku, menyembunyikan luka hati karena ucapan ibunya.
"Kamu yakin? Kan Mas udah bilang, jangan dipikirin omongan Ibu."
Aku mengangguk lalu tersenyum padanya.
"Aku juga bosen, Mas, kalo kelamaan nganggur. Nggak papa toh aku kerja online? Kan kerjanya juga di rumah."
"Ya udah, kalo itu memang bisa bikin kamu seneng. Tapi jangan sampe kecapekan ya?" pinta suamiku sambil memijat lenganku.
Ah, baiknya suamiku. Padahal dia juga sudah lelah bekerja seharian.
Setelah mendapatkan izin dari Mas Agung, akhirnya aku mulai bekerja dari nol.
Aku mengedit video sampai jam dua pagi di sebelah suamiku yang lagi mendengkur. Kemudian, mengunggah video tersebut dengan menyertakan tautan produk yang aku promosikan.
Untung saja sebelum menikah, aku sudah terbiasa dengan aktivitas semacam ini. Jadi, sekarang sudah tidak kaget.
Sebulan kemudian, aku menunjukkan layar ponselku pada Ibu saat makan malam.
"Bu, liat. Ini penghasilan pertamaku. Baru dua ratus sepuluh ribu sih, tapi lumayan kan?" tanyaku dengan bangga.
Ibu melirik sekilas lalu mendengus. "Dua ratus ribu? Buat beli beras satu karung dan minyak goreng aja masih kurang, Ra. Buat apa pamer recehan?"
Aku tidak menduga, Ibu mertuaku tetap saja meremehkan aku walaupun tahu aku sudah berpenghasilan sendiri. Setidaknya, aku sudah bukan pengangguran.
"Tapi ini baru awal, Bu. Semua orang mulai dari hasil yang sedikit toh?" sanggahku pelan.
"Sudahlah! Fokus aja urus rumah. Masakanmu tadi siang kurang asin. Belajar masak yang benar itu lebih berguna buat suami daripada cari uang receh nggak jelas begitu."
Astaghfirullah! Kemarin, menganggur disalahkan. Sekarang aku kerja pun tetap saja salah.
"Bu," panggil Mas Agung.
Dia mencoba menengahi. "Tolong hargai usaha Hera. Itu hasil keringatnya."
"Halah, Agung! Kamu itu terlalu memanjakan istri. Nanti dia malah keenakan main HP, terus lupa sama kewajiban!" tutup Ibu sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Sejak hari itu, aku bungkam. Tak pernah membahas pekerjaan ataupun penghasilanku di depan Ibu.
Aku masih sering begadang. Aku ingin menunjukkan kalau aku bukan istri yang cuma bisa mengandalkan suami.
Beruntungnya, lima bulan kemudian algoritma berpihak padaku. Uang mulai mengalir deras sejak kebanyakan konten buatanku FYP.
Aku punya penghasilan sampai puluhan juta per bulan.
Meski begitu, aku tak berniat memberi tahu Ibu mertua soal karierku yang mulai sukses.
Aku tetap menjadi menantunya yang bangun paling pagi. Hanya saja kini aku punya "dunia" di dalam ruangan yang terkunci rapat.
Setelah selesai mengurus pekerjaan rumah, aku pasti langsung ke kamar yang tidak terpakai. Mengedit video dan promosi.
Puncaknya, Ibu jatuh sakit. Darah tingginya kambuh dan mengalami strok ringan.
"Ini gimana, Gung," isak Ibu di atas ranjang. "Biaya rawat inap kan lumayan. Dan Ibu harus bolak-balik kontrol."
"Jangan dipikirin, Bu. Insya Allah ada rezekinya," sahut Mas Agung.
Aku menyimak obrolan mereka dari balik tirai. Ibu dirawat di bangsal yang diisi oleh empat pasien.
Aku mendekat dan meletakkan kartu ATM di nakas. "Pake ini aja, Mas. Insya Allah cukup untuk wara-wiri sekalian makan selama ngurus Ibu di rumah sakit."
Ibu menatapku sinis. "Kartu siapa itu? Jangan main-main, Ra. Ini urusan serius, bukan buat gaya-gayaan."
"Ini uang hasil kerja yang selama ini Hera tabung, Bu. Isinya lebih dari cukup."
Aku membuka aplikasi m-Banking dan menyodorkan ponselku ke Mas Agung.
Suamiku tertegun melihat saldo di layar ponselku. "Ra... ini serius? Kamu bisa dapat sebanyak ini?"
"Iya, Mas. Selama ini aku diem karena nggak ada gunanya juga mau cerita. Toh tetep diremehin sama Ibu."
Ibu terdiam seribu bahasa begitu mendengar aku berterus terang.
Tapi dia tidak lagi mencelaku. Mau tak mau, akhirnya biaya rumah sakit tetap memakai uang dariku.
Namun, setelah Ibu pulih dan kembali ke rumah, keadaan berubah. Aku menjadi sangat sibuk dengan banyaknya produk endorse yang berdatangan. Aku bahkan sampai menyewa asisten rumah tangga untuk mengurus segalanya.
Suatu sore, Ibu mengetuk pintu ruang kerjaku dengan wajah lesu. "Ra, kok sekarang jarang keluar kamar? Ibu pengen makan masakanmu, bukan masakan Mbak Siti. Ibu kangen ngobrol."
Ibu menggerakkan kursi rodanya sendiri untuk masuk ke ruangan.
"Semua ini dari paket-paket yang setiap hari dateng?" tanyanya penasaran.
"Iya, Bu. Produknya gratis. Tinggal dipromosikan aja."
Ibu mengangguk. Dia seperti terkagum-kagum melihat semua barang mewah dan bermerek di ruangan ini.
"Terus, kapan liburnya? Ibu pengen ditemenin kamu."
"Maaf, Bu. Jadwal Hera padat banget. Hera ngejar deadline konten. Terus, harus live juga biar makin banyak yang beli produknya."
Ibu menunduk. "Dulu... kamu selalu ada buat Ibu. Selalu dengerin Ibu cerita meski ujung-ujungnya tetep Ibu sindir. Sekarang kamu sibuk."
Aku belum sempat menjawab perkataan Ibu, tetapi Mas Agung yang baru pulang dari pabrik langsung menghampiri kami.
"Bu, inget enggak, dulu Ibu sering bilang kalo Hera itu cuma pengangguran yang jadi beban?"
"Iya, Gung. Ibu khilaf...."
"Sekarang, keinginan Ibu tercapai. Hera sukses, dia bisa biayai pengobatan Ibu, dia angkat derajat keluarga kita. Tapi sebagai gantinya, waktunya bukan lagi milik kita sepenuhnya. Semua ada plus minusnya, Bu," ujar Mas Agung tenang.
Ibu mulai terisak.
"Dulu, waktu Hera nggak kerja, dia punya seluruh waktunya buat Ibu. Dia sigap mengurus Ibu meski sering Ibu rendahkan. Sekarang, saat Hera sukses, waktunya habis untuk bekerja. Kita nggak bisa mendapatkan semuanya secara bersamaan."
Mas Agung menjeda perkataannya.
"Dulu Ibu menyia-nyiakan ketulusannya hanya karena dia nggak berpenghasilan toh?"
Setelah Mas Agung diam, Ibu langsung memegang tanganku sambil menangis.
"Ra... Maafin Ibu. Ibu salah. Kehadiranmu ternyata jauh lebih berharga daripada uang."
Aku memeluknya. "Aku udah maafin, Bu. Jauh sebelum hari ini."
"Kalo gitu... kamu mau kan berhenti kerja? Ibu janji nggak bakal cerewet lagi. Kita hidup seperti dulu saja."
Aku melepaskan pelukan itu perlahan, menatap mata Ibu dengan hangat.
"Hera tetap akan mengurus Ibu dan Mas Agung. Tapi Hera nggak akan berhenti bekerja."
"Kenapa, Ra? Uang kita kan sudah cukup?" tanya Ibu heran.
"Bukan soal uangnya, Bu. Aku pengen membuktikan kalo wanita nggak harus selamanya di sumur, kasur, dan dapur. Aku bisa berkarya dan mandiri. Ini menyenangkan."
Aku sadar, dengan bekerja, aku akhirnya mengangkat derajatku sendiri. Selagi semua yang aku lakukan atas izin suamiku.
Ibu terdiam, lalu mengangguk.
"Iya, Hera bener. Lagi pula kamu udah berjuang. Sayang kalo harus dilepas begitu aja," ujar Ibu.
Kemudian kami tersenyum. Begitulah. Akhirnya Ibu mengerti bahwa semua yang terjadi selalu ada sisi lebih dan kurangnya.
Sama sepertiku, yang hampir tak banyak waktu untuk keluarga, tetapi bisa punya penghasilan sendiri. Yaps, ini sesuai dengan yang dulu Ibu mau.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
5 Drama Korea Genre Misteri Tayang Februari 2026, Ada Bloody Flower
-
Eksodus Pemain Naturalisasi ke Liga Indonesia: Konspirasi di Balik Target Juara Piala AFF 2026?
-
Gara-Gara Telat Ngopi, Aku Terjebak Caffeine Withdrawal Syndrome
-
Lelah di Balik Seragam: Menyingkap Beban Emosional Guru yang Tersembunyi
-
Novel Fantasi The Eternal Fool's Words of Wisdom Resmi Dapat Adaptasi Anime