Sebagai seorang penikmat kopi hitam yang doyan menulis puisi galau, kopi hitam adalah rutinitas harian. Tidak usah muluk-muluk kopi dengan brand mahal, cukup bubuk kopi, gula, dan diseduh dengan air panas, kemudian dinikmati sambil melihat laba-laba di dahan-dahan pohon bidara.
Namun, ada kalanya aku kesiangan hingga tidak sempat mengopi. Dan apa akibatnya? Aku "edan" dalam gejolak Caffeine Withdrawal Syndrome.
Apa Itu Caffeine Withdrawal Syndrome?
Mengutip laman Healthline, Caffeine Withdrawal Syndrome adalah situasi yang terjadi ketika seseorang yang rutin mengonsumsi kafein justru mengurangi asupannya atau malah berhenti total. Kafein sendiri bisa terdapat dalam kopi ataupun cokelat, ya.
Caffeine Withdrawal Syndrome terjadi dalam kurun waktu yang bervariasi pada setiap orang. Namun, kebanyakan kasus terjadi dalam 12–24 jam setelah kafein terakhir, atau 24–48 jam, hingga bisa berlangsung selama 2–9 hari.
Gejala umum yang dirasakan meliputi:
- Pusing,
- Kelelahan,
- Tidak bertenaga alias loyo,
- Susah fokus,
- Tremor,
- Nyeri otot,
- Gangguan mood semacam anxiety atau depresi.
No Coffee, No Life!
Aku sendiri mendapatkan asupan kafein dari kopi hitam yang kukonsumsi setiap pagi sebagai rutinitas harian. Kalau mentok kehabisan bubuk kopi yang dibeli kiloan oleh ibu, aku tidak masalah membeli kopi saset asalkan judulnya tetap kopi hitam.
Namun, pernah suatu kali bangun kesiangan dan buru-buru berangkat kerja tanpa mengopi dulu. Alhasil, aku terjebak dalam Caffeine Withdrawal Syndrome yang menyiksa. Kala itu jam masih menunjukkan pukul 9 pagi dan gejala yang mencolok adalah pusing. Tanpa pikir panjang, aku langsung membeli cappuccino botolan dari sebuah toko.
Apakah aku sembuh dari Caffeine Withdrawal Syndrome? Tidak. Pusingnya agak mereda meski tidak benar-benar hilang. Alhasil, aku pun kembali membeli kopi hitam seduhan di warung terdekat. Barulah pusingnya lenyap.
Caffeine Withdrawal Syndrome Pernah Bikin Aku Gila
Menjelang bulan puasa alias Ramadan, aku sengaja mengurangi bahkan menyetop asupan kopi karena tidak mau membebani diri. Sebab, dulu pernah nyaris "sekarat" karena saking ketergantungan dengan kopi saat puasa.
Biasanya, aku mulai berhenti di H-3 atau H-2 puasa. Lagipula, tingkat kecanduanku pada kopi hanya satu cangkir per hari, jadi bisa dibilang ringan. Meski begitu, dalam prosesnya terasa berat bahkan gila.
Di hari pertama berhenti kopi, rasa pusing datang mulai dari gelombang ringan sampai berat. Disusul tremor dan nyeri beberapa sendi, umumnya di area lengan dan kaki. Pikiran perlahan nge-blank, bingung, dan mulai plenger. Meski aku masih bisa diajak berkomunikasi dengan jelas dan masih bisa berpikir dengan jernih. Lama-lama, terjadi perubahan mood dari ceria menjadi uring-uringan, serta kondisi badan yang mirip orang sakau karena tidak bertenaga.
Namun, jalan ini harus kutempuh karena tidak mau membebani tubuh dan agar ibadah puasaku berjalan nyaman.
Efek Kembali Mengopi Setelah Beberapa Waktu "Hiatus"
Di aku, Caffeine Withdrawal Syndrome berlangsung selama 12–24 jam saja. Jadi, tidak perlu lama-lama tersiksa. Sesudah melewati masa "sakau" itu, badan terasa normal tanpa rasa sakit atau pusing-pusing. Benar-benar seperti tidak terjadi apa-apa.
Nah, lalu bagaimana kalau kembali ke rutinitas mengopi?
Setelah melakukan hiatus kopi selama beberapa saat, tubuh sudah beradaptasi dan terbiasa tanpa asupan kafein. Namun, ketika memutuskan untuk kembali berkontak dengan kafein, rasanya seperti menerima lonjakan energi besar. Mirip seperti karakter Popeye yang dapat asupan bayam dan jadi punya super power, hihi.
After all, ini berdasarkan pengalamanku sendiri menghadapi Caffeine Withdrawal Syndrome, ya. Barangkali gejala yang dirasakan bisa berbeda pada orang lain. Sekian.
Baca Juga
-
Drama Perkara Busi: Jangan Suruh Orang Beli Suku Cadang Tanpa Catatan Spesifik!
-
Pesona Male Lead Tengil di Drama Undercover Affair, Sukses Bikin Penonton Salah Tingkah!
-
Bedah MV Penggantine Happy Asmara: Angkat Pesona Kediri Lewat Bus Bagong hingga Jalan Dhoho
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
Artikel Terkait
Health
-
Jangan Asal Lahap! Perhatikan Bahaya Asam Domoat pada Kepiting dan Cumi-Cumi
-
Diam-Diam Mengintai, Infeksi TORCH Bisa Berdampak Sejak Dini pada Janin
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari
-
Sering Capek Padahal Nggak Ngapa-ngapain? Bisa Jadi Otakmu 'Kelebihan Muatan'
-
Waspada Bahaya Abu Vulkanik, Dokter Ini Bagikan 4 Tips untuk Lindungi Diri
Terkini
-
Sinopsis Take Charge of My Heart: Romansa Fantasi, Tayang 9 Oktober
-
Review Kaiji: Final Game, Ketika Hidup Hanya Bisa Dimenangkan Orang Kaya
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
Review Film Resurrection: Sajikan Keindahan Sinematik dalam Balutan Misteri
-
4 Brightening Cleanser Buat Remaja Lawan Kusam setelah Beraktivitas Outdoor