Tidak ada peta yang mencatat Desa Rawa Kuning dengan jelas. Nama desa itu sengaja dihilangkan dari arsip lama. Para tetua percaya bahwa menuliskan namanya sama saja dengan memanggil sesuatu yang tidur di dasar sungai.
Sejak ratusan tahun lalu, sungai di desa itu dikenal sebagai Sungai Penagih. Airnya tidak pernah benar-benar jernih, bahkan saat kemarau panjang. Legenda rakyat menyebutkan bahwa sungai itu lahir dari air mata seorang dukun sakti yang mengingkari perjanjian gaib. Dari tangisnya, muncul buaya putih pertama; bukan hewan, bukan pula roh, melainkan perwujudan sumpah yang dilanggar.
Orang-orang tua percaya bahwa buaya putih adalah jelmaan siluman sungai. Namun, yang lebih menakutkan, ia bukan datang untuk memangsa. Ia datang untuk mengingatkan janji yang dibuat. Setiap kali sisik putihnya muncul di permukaan air, itu merupakan pertanda mutlak, yakni akan ada tumbal yang mati di sungai. Tidak bisa ditawar, tidak bisa pula dicegah. Hal yang bisa dilakukan hanya menunggu siapa yang "dipilih" oleh sosok siluman itu.
Dalam legenda, buaya putih hanya menampakkan diri kepada mereka yang memiliki utang perjanjian, baik disadari maupun tidak. Keluarga-keluarga tertentu diwarisi kemakmuran yang tidak wajar: panen selalu berhasil, usaha tak pernah rugi, hingga penyakit selalu menjauh. Namun, bersamaan dengan itu, garis keluarga mereka tidak pernah panjang. Selalu ada yang mati tenggelam, hilang tanpa jasad, atau ditemukan kaku dengan mata terbuka menatap sungai. Inilah yang dinamakan hukum "tanam tuai". Jika mereka berani berbuat sesuatu yang buruk, maka hal itu akan kembali kepada si penanamnya.
Hingga pada suatu hari yang cerah dengan cahaya langit yang biru, ada seorang pemuda gagah yang memiliki latar belakang tak biasa. Pemuda itu, anak dari salah satu keluarga tersebut, tidak pernah percaya pada cerita itu. Hingga suatu senja, ketika sungai mendadak sunyi dan dari balik kabut muncul sesuatu yang tidak seharusnya ada: sosok yang menyeramkan dan bergigi tajam.
Buaya putih itu tidak bergerak seperti makhluk hidup. Ia meluncur perlahan seolah airlah yang mengantarkannya. Sisiknya pucat seperti tulang manusia yang terlalu lama terendam. Di sepanjang punggungnya, terukir bayangan wajah-wajah yang menangis, berteriak, dan memohon, yang diyakini warga sebagai roh tumbal terdahulu. Makhluk itu berhenti tepat di seberang sungai. Matanya yang kemerahan menatap lurus ke arah pemuda tersebut.
Para tetua desa langsung menutup pintu rumah mereka. Anak-anak dilarang keluar dan api dapur dipadamkan. Dalam kepercayaan lama, buaya putih membenci cahaya dan doa yang dipaksakan.
Tiga hari setelah kemunculan itu, ayah pemuda tersebut menghilang. Jasadnya ditemukan di belokan sungai dengan tubuh yang utuh namun kosong. Lidahnya tercabut. Dadanya cekung seolah sesuatu keluar dari dalam tubuhnya, bukan masuk. Menurut legenda rakyat, buaya putih tidak memakan daging. Ia memakan janji yang disanggupi orang dalam memenuhi pesugihan.
Di ruang rahasia rumah keluarganya, pemuda itu menemukan bukti pesugihan: kepala buaya yang dikeringkan, koin-koin hitam yang berbau lumpur, dan mangkuk berisi air sungai yang terus bergetar pelan. Mbah Wiryo, tetua desa, akhirnya mengaku bahwa perjanjian pesugihan itu sudah ada sejak zaman buyut-buyut mereka. Setiap kekayaan harus dibayar. Jika tidak segera, maka buaya putih akan memilih sendiri tumbalnya. Ketika memilih, ia selalu mengambil yang paling dicintai.
Malam Jumat Kliwon, legenda itu mencapai puncaknya. Kabut tebal menelan desa. Sungai meluap meski langit cerah. Dari dasar air terdengar suara yang bukan gemericik, melainkan bisikan ratusan mulut. Buaya putih muncul lebih besar dari sebelumnya. Wajah-wajah di punggungnya bergerak hidup. Beberapa dikenali warga sebagai keluarga mereka yang telah lama mati. Mata makhluk itu berhenti pada pemuda tersebut.
Legenda mengatakan bahwa bila buaya putih menatap seseorang terlalu lama, maka namanya sudah tertulis di dasar sungai dan menjadi tumbal selanjutnya. Pemuda itu melangkah ke air. Di bawah permukaan, arus berubah menjadi tangan-tangan pucat yang memegang kakinya, menyentuhnya dengan dingin yang menusuk jiwa. Roh-roh tumbal berdiri di dasar sungai, setengah menyatu dengan lumpur, berbisik serempak, "Tidak ada yang benar-benar selamat dari perjanjian iblis."
Namun, pada malam itu, legenda berubah. Sungai bergejolak dan jeritan membelah air. Tubuh buaya putih retak; wajah-wajah di punggungnya meleleh kembali menjadi lumpur dan darah yang menggenangi sungai. Saat fajar tiba, sungai surut. Pemuda itu ditemukan hidup, namun matanya berubah menjadi kosong, seolah sebagian jiwanya tertinggal di dasar sungai.
Sejak malam itu, buaya putih tidak pernah muncul lagi di Desa Rawa Kuning. Namun, para tetua memperingatkan satu hal dalam legenda penutupnya: "Siluman buaya putih itu tidak mati, tetapi ia hanya berpindah mencari pemilik untuk persekutuan pesugihan yang baru."
Dan jika suatu hari sungai di tempat lain mendadak sunyi, airnya dingin tanpa sebab, dan seseorang melihat sisik putih berkilat di bawah permukaan, maka legenda itu sedang mencari tumbal baru.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Novel Etnik Menik: Mimpi dan Realitas Sosial yang Diam-diam Menyentil
-
Sinopsis Film Jepang Kokuho, Bakal Tayang di Bioskop pada 18 Februari Nanti
-
WIB: Waktu Indonesia Bercanda
-
Membaca Lelaki Tua dan Laut: Tentang Kekuatan Mental dan Seni Bertahan
-
Murah dan Stylish, Ini Pilihan Daily Sneakers Lokal Berkualitas Agar Tampil Effortless