Aku mendapat sebuah warisan dari paman Leo, yakni sebuah toko buku kecil yang berada di ujung gang sempit di dekat pasar lama. Tempatnya sangat tidak mencolok; cat dindingnya sudah mengelupas, jendelanya berdebu, dan jika turun hujan, ada satu titik yang selalu bocor persis di atas rak fiksi klasik. Namun, entah mengapa, setiap kali masuk ke sana, rasanya seperti pulang ke rumah.
Paman Leo memang jarang bicara. Kalau diajak mengobrol, ia biasanya hanya menyengir atau mengangguk-angguk. Namun, matanya selalu tenang, seolah tahu sesuatu yang orang lain belum paham. "Buku itu jiwa yang dibekukan," katanya suatu sore saat kami bersama-sama membersihkan debu dari rak kayu. Aku hanya manggut-manggut. Waktu itu aku masih SMA, masih percaya bahwa jawaban hidup ada di buku teks atau nilai rapor.
Setelah ia pergi karena sakit jantung yang tiba-tiba, aku mulai menjaga tokonya sendiri. Awalnya aku ragu karena aku bukan pencinta buku fanatik. Namun, toko ini adalah satu-satunya tempat aku merasa aman sejak ibu pergi dan ayah lebih sering diam daripada bicara.
Hari pertama, aku bersih-bersih sampai ke rak paling atas. Di sana, terselip sebuah buku bersampul cokelat pudar tanpa judul dan tanpa nama penulis. Aku membukanya. Isinya hanya satu halaman dan benar-benar kosong. Tidak ada tulisan, tidak ada gambar. Hanya kertas putih yang anehnya terasa sangat lembut, seperti kulit bayi.
Aku pikir ini adalah kesalahan cetak, tetapi aku merasa penasaran.
Kuserahkan buku itu kepada Rani, teman SMA-ku yang sering mampir sambil membawa kopi instan. "Coba baca ini," kataku sambil tertawa. Ia membukanya, lalu terdiam. Matanya berkaca-kaca. "Ini kisah cinta yang paling indah," katanya pelan. "Ada lelaki yang menunggu aku setiap sore di bawah pohon kenanga, meski hujan deras..."
Aku terbelalak. "Tetapi... itu kosong!"
"Tidak bagiku," jawabnya, masih menatap halaman itu.
Aku jadi semakin penasaran. Kuberi buku itu kepada Dito, temanku yang baru saja gagal SBMPTN. Ia membacanya, lalu tertawa, tetapi senyumnya terasa getir. "Ini tentang orang yang tersesat di gurun pasir, tetapi akhirnya menemukan oasis yang ternyata ia ciptakan sendiri." Ia menatapku. "Seperti hidupku, ya? Mungkin selama ini aku hanya menunggu jawaban datang, padahal harus membuatnya sendiri."
Sejak itu, aku sering memberikan buku itu kepada siapa saja: nenek penjual jamu, anak SD yang takut gelap, bahkan pengamen yang sering bernyanyi di depan toko. Semua melihat kisah yang berbeda, tetapi semuanya terasa nyata. Tidak satu pun dari mereka berkata bahwa halamannya kosong.
Aku sendiri belum berani membukanya.
Aku takut jika yang kulihat benar-benar kosong. Takut jika itu berarti hidupku juga kosong; tidak ada tujuan dan tidak ada arti. Aku sering bertanya dalam hati: Kenapa aku di sini? Apa yang harus kulakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin keras setiap malam, terutama saat toko sepi dan hanya suara jangkrik yang menemani.
Sampai suatu malam saat hujan deras dan listrik mati, aku duduk di lantai diterangi lampu teplok kecil dengan buku itu di pangkuan. Jantungku berdebar. "Apa yang akan kulihat?" bisikku.
Kubuka halamannya.
Dan... aku melihat diriku sendiri.
Bukan dalam cerita, melainkan seperti kilasan: aku saat kecil yang menangis karena ibu pergi, ayah yang diam terus, rapor yang biasa saja, hingga mimpi menjadi penulis yang kubuang karena takut diejek. Aku melihat semua keputusan yang kubatalkan, semua kata yang kutelan, dan semua langkah yang kuurungkan.
Namun, di tengah semua itu, ada satu hal yang muncul: kebebasan.
Halaman itu tetap kosong. Namun, justru karena kosong, aku bisa menulis apa saja. Aku sadar bahwa buku ini bukan cermin. Ini adalah kertas kosong. Selama ini, aku hanya menunggu orang lain memberi tahu apa yang harus kutulis.
Besok paginya, aku bangun lebih awal. Aku mengambil pulpen merah kesukaanku yang selama ini hanya menjadi hiasan di meja. Aku duduk di depan jendela, dan untuk pertama kalinya, aku mulai menulis. Bukan untuk nilai, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diriku sendiri.
Beberapa hari kemudian, seorang gadis muda masuk. Matanya lelah dan ranselnya compang-camping. "Ada buku yang bisa bantu aku mengerti kenapa hidup ini rasanya tidak ada artinya?" tanyanya pelan.
Aku tersenyum, lalu kuserahkan buku cokelat itu.
Ia membukanya. Matanya membesar, lalu air matanya berlinang. "Ini... tentang seorang penulis yang akhirnya berani menulis kisahnya sendiri," katanya.
Aku mengangguk. "Dan kisahmu belum selesai."
Sekarang, di rak paling atas, buku itu tidak sendirian lagi. Aku mengisi rak itu dengan buku-buku kosong yang hanya berisi satu halaman putih. Karena akhirnya aku mengerti apa yang dimaksud paman Leo:
Makna hidup bukan sesuatu yang kita temukan di luar sana. Makna itu lahir saat kita berani menulisnya sendiri. Dan kadang, halaman paling indah adalah yang belum ditulis.