M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
Ilustrasi bekal (Pexels/Antoni Shkraba Studio)
Reza Agustin

Rina, anakku yang bungsu, sering tidak menghabiskan bekalnya. Tiap kali mencuci kotak makan, selalu saja ada makanan yang ia sisakan. Entah itu potongan sayur, bawang putih, nasi, bahkan nuget yang sering jadi favorit anak-anak. Jelas saja aku kesal karena ulahnya tersebut. Namun, ia yang memang agak keras kepala, cuek-cuek saja saat diomeli. Hingga suatu hari, ketika mencuci kotak bekalnya, aku menemukan kotak itu bersih tanpa sisa.

Lebih mengagetkan lagi, ia minta tambahan nasi dan lauk. Senang? Tentu saja! Kapan lagi picky eater satu itu minta porsinya dilebihi. Selama seminggu ini, ia selalu membawa kotak bekal kosong. Tandanya, ia menghabiskan bekal itu. Awalnya aku senang-senang saja karena bobotnya mungkin akan bertambah sehabis ini. Sebagai anak bungsu, Rina jauh lebih kurus dan pendek dibandingkan dengan kedua kakak perempuannya, bahkan jika dibandingkan dengan mereka berdua di usia yang sama. Maka, besar harapanku agar berat badannya bertambah. Ibu mana yang tak ingin pertumbuhan anaknya meningkat?

Setiap seminggu sekali, aku selalu mengajak anak-anak mengukur tinggi dan menimbang berat badan. Suamiku juga ikut serta mencatat pertumbuhan mereka. Sehabis diukur, anak-anak berlari ke halaman belakang. Mereka bermain trampolin yang sudah disiapkan oleh suamiku tadi pagi sepulang jogging. Namun, setelah sesi menimbang dan mengukur berakhir, suamiku tampak kebingungan sampai mengerutkan kening. Ia memanggilku, lalu menunjukkan data pengukuran minggu kemarin. Melihat perbandingan tersebut, aku juga ikut bingung.

“Mah, bukannya kata kamu belakangan ini Rina selalu minta tambahin porsi makannya? Ini kok bobotnya kalau dibandingkan sama minggu kemarin malah turun, ya?” kata suamiku sambil menunjukkan catatannya.

“Loh, bener kok, Pah. Masa bobotnya turun? Padahal makannya makin banyak, sudah tidak sisa lagi malah.”

“Kok bisa, ya? Apa jangan-jangan selama ini bekalnya Rina tidak dimakan sama sekali?”

“Maksudnya dibuang begitu, Pah?”

Kami berdua saling pandang, lalu tatapan beralih pada Rina yang sedang bermain dengan kakak-kakaknya di luar. Suamiku lantas memberikan sebuah ide yang segera kuaplikasikan pada hari Senin ketika anak-anak bersekolah. Sepulangnya mereka, aku segera mengecek kotak bekal masing-masing. Kotak bekal mereka kosong, ludes, tak bersisa. Rina kuhampiri sambil membawa kotak bekalnya. Ia yang sedang sibuk main ponsel tidak merasa curiga ketika aku duduk di sampingnya.

“Bekal yang Mamah bawakan tadi enak tidak, Rin?” tanyaku.

“Iya, Mah. Enak. Aku sampai habiskan bekalnya.”

“Nasi gorengnya enak banget, ya?”

“Iya, Mah.”

Nah, bohong, kan! Sesuai ide suamiku, kuberikan bekal berbeda kepada Rina. Kakak-kakaknya mendapat nasi goreng, sementara Rina kubungkuskan nasi kuning beserta lauknya yang kubeli dari penjual keliling. Jelas ia tidak membuka kotak makannya sama sekali. Masalahnya adalah, apa yang Rina lakukan pada bekal itu? Apakah memang dibuang seperti kecurigaan kami?

“Rina bohong, ya. Mamah kan tidak membekali Rina nasi goreng.”

Wajah anak itu segera panik. Ia segera menurunkan ponselnya.

“Hayo, bekalnya selama ini Rina apakan? Rina buang, ya?”

Wajahnya makin panik. “Tidak kok, Mah. Tidak Rina buang. Kan, sayang.”

“Kalau kamu sayang sama bekalnya, terus bekalnya selama ini kamu apakan? Kamu pasti juga tidak makan sama sekali di sekolah, kan? Mamah curiga soalnya berat badan kamu turun, padahal selama ini kamu minta tambah porsi. Kok bisa begitu? Jujur saja sama Mamah.”

Dengan wajah sedih, Rina lantas menjawab, “Rina kasih bekal Rina ke Tia, Mah.”

“Tia?” beoku sambil berpikir ulang, adakah anak bernama Tia di kelasnya? Lantas aku teringat pada satu anak yang sangat kurus di kelas Rina. “Ah, Tia yang anaknya kurus itu, ya? Dia yang paling kecil di kelas dan sering membantu ibunya jualan gorengan itu, kan?”

Rina mengangguk. Ia pun bercerita, “Rina kasihan sama dia, Mah. Bapaknya kabur dari rumah membawa uang terakhir yang dipunyai ibunya. Padahal itu modal untuk jualan lagi. Mana kata Tia, ibunya sekarang sakit-sakitan tetapi memaksakan diri kerja mencuci baju dan menyetrika di rumah orang. Tia tidak dikasih uang jajan dan bekal kalau sekolah, makanya Rina berikan bekal Rina ke dia. Sengaja Rina minta tambahin nasi sama lauk soalnya Tia tidak sarapan. Jadi biar Tia bisa kenyang di sekolah.”

Dadaku seketika sakit. Tak pernah terbayangkan anak sekecil itu harus mengalami luka demikian. Niatan memarahi Rina luruh seketika. Niatnya membantu Tia memang mulia, namun caranya kurang tepat. Aku segera menepuk bahunya lalu berkata, “Rina kalau mau bantu Tia jangan begitu, ya. Rina sudah berbohong. Minta ditambahin nasi dan lauk tapi bilangnya Rina yang makan. Besok antar Mamah ke rumah Tia, ya. Mamah mau bertemu dengan Tia dan ibunya.”

Rina mengangguk. Ia segera memelukku, sepertinya ia menangis. Aku pun jadi ikut menangis.