M. Reza Sulaiman | Angelia Cipta RN
Ilustrasi Luke si Ikan Bijaksana (Gemini AI)
Angelia Cipta RN

Di sebuah sungai panjang yang airnya jernih dan mengalir tenang, hiduplah berbagai jenis ikan dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda. Sungai itu berkelok dari pegunungan hingga mendekati muara, menjadi rumah yang aman bagi makhluk-makhluk kecil yang belajar bertahan hidup dari hari ke hari.

Setiap pagi, sinar matahari menembus permukaan air dan memberikan kehangatan bagi ikan yang kedinginan pascamalam yang nyaris membekukan tubuh. Cahaya itu membuat sisik ikan berkilau seperti bintang kecil yang menari.

Di antara semua ikan itu, ada satu ikan kecil bernama Luke. Tubuhnya tidak besar, warnanya pun tidak mencolok, hanya perak pucat dengan garis biru tipis di punggungnya. Namun, Luke memiliki mata yang selalu waspada dan hati yang tenang. Ia mengenal sungai itu seperti mengenal napasnya sendiri; kapan arus menguat, di mana batu licin bersembunyi, dan di sudut mana predator sering menunggu menyantapnya ketika ia lengah.

Setiap sore, ikan-ikan muda berkumpul di balik akar pohon besar yang menjuntai ke air. Di sanalah mereka saling bercerita tentang mimpi terbesar mereka.

“Aku ingin hidup dan pergi ke laut!” seru ikan bernama Rilo dengan mata berbinar. “Katanya laut itu luas, penuh makanan, dan tidak ada batasnya. Aku jadi ingin berenang bebas di sana.”

“Iya,” sambung ikan lain, “di laut kita bisa menjadi besar dan kuat, tidak seperti di sungai yang sempit ini. Untuk makan pun kadang hampir tidak ada.”

Semua ikan mengangguk setuju, semua kecuali Luke. Luke mendengarkan dalam diam. Ia tidak ikut bersorak, tidak pula mengejek. Saat semua mata tertuju padanya, ia hanya tersenyum kecil.

“Kau tidak ingin pergi ke laut, Luke?” tanya Rilo heran.

Luke menggeleng pelan. “Aku mencintai sungai ini. Aku tahu arusnya, tahu musimnya. Aku tahu kapan harus bersembunyi dan kapan harus bergerak. Jadi, aku akan tetap tinggal di sini saja.”

Ikan-ikan lain tertawa kecil. “Kau takut,” kata mereka. “Itu sebabnya kau tidak berani bermimpi besar karena kau hanya tinggal di tempat kecil seperti ini.”

“Ayolah, Luke. Laut itu sangat luas, kita bisa pergi ke sana bersama-sama dan hidup terjamin di sana daripada di sungai ini,” kata ikan kecil lainnya, Milo.

“Iya, betul. Kita akan tinggal bersama-sama,” tambah Rilo yang menguatkan gagasan Milo.

Luke tidak membalas. Ia tahu bahwa tidak semua mimpi harus diikuti tanpa pertimbangan yang matang.

Musim demi musim berlalu. Sungai tetap setia mengalir dan memberi kehidupan. Namun, suatu hari, hujan turun tanpa henti, dari pagi hingga malam, dari malam hingga pagi. Gunung di hulu "menangis" deras, mengirimkan air yang semakin lama semakin kuat. Arus sungai berubah total; air yang tenang kini menjadi liar. Batu-batu yang biasanya diam kini terguling. Air menjadi keruh dan sangat dingin.

“Ini pertanda!” teriak Rilo dengan semangat. “Inilah saatnya kita ke laut! Arus ini akan membawa kita dengan cepat ke sana!”

Tanpa banyak berpikir, banyak ikan mengikuti arus deras itu. Mereka percaya bahwa semakin cepat mereka sampai ke laut, semakin dekat mereka pada mimpi.

Luke mencoba memperingatkan. “Arus ini berbahaya. Kita belum siap. Kita tidak tahu apa yang menunggu di depan sana.”

“Ayolah, Luke. Jangan jadi penakut, ini kesempatan emas kita,” kata ikan lainnya.

“Bukan begitu, kita tidak tahu bagaimana kehidupan laut. Apakah benar aman untuk kita yang bertubuh kecil ini?”

Namun, suaranya tenggelam oleh sorak kegembiraan. Satu per satu ikan membiarkan diri mereka terseret arus menuju hilir. Luke menatap mereka dengan hati bergetar. Ia ingin ikut, tetapi nalurinya berkata lain. Ia tahu bahwa air yang terlalu deras bukanlah sahabat, melainkan ujian.

Ia memilih bersembunyi di balik batu besar yang kokoh, tempat arus terpecah dan menjadi lebih lembut. Dengan sekuat tenaga, Luke menahan diri agar tidak ikut terseret.

Hari berganti hari. Banjir besar datang. Sungai meluap hingga ke daratan. Air asin dari laut perlahan masuk ke sungai dan bercampur dengan air tawar. Ikan-ikan yang bermimpi ke laut akhirnya tiba, namun bukan dalam kondisi yang mereka bayangkan.

Tubuh mereka lelah. Insang mereka perih oleh perubahan air. Makanan yang mereka kenal tidak ada. Predator asing mengintai dari segala arah. Banyak yang tidak sanggup bertahan. Satu per satu ikan-ikan itu jatuh lemah. Mimpi yang indah berubah menjadi kenyataan yang pahit.

Sementara itu, Luke tetap bertahan di sungai. Ia tahu kapan harus berpindah ke air yang lebih tenang dan kapan harus bersembunyi di balik tanaman air. Ia makan secukupnya dan menghemat tenaga. Sungai, yang telah lama ia pahami, ikut melindunginya.

Saat banjir mulai surut, sungai perlahan kembali ke bentuk semula. Air menjadi jernih lagi. Arus melambat dan kehidupan mulai pulih. Suatu pagi, Luke melihat bayangan lemah mendekat. Itu Rilo, atau yang tersisa darinya. Tubuhnya kurus dan sisiknya kusam.

“Luke...” suaranya hampir tidak terdengar. “Aku salah.”

Luke mendekat dan menopangnya. Ia tidak berkata, “Aku sudah bilang.” Ia hanya berkata, “Istirahatlah. Sungai masih mau menerimamu.”

Hari-hari berikutnya, Luke membantu ikan-ikan yang kembali. Tidak semua selamat, tetapi yang bertahan belajar sesuatu yang penting. Mereka belajar bahwa mimpi bukanlah musuh, namun mimpi harus berjalan bersama pengetahuan dan kesiapan yang matang. Mereka belajar bahwa tempat asal bukanlah penjara, melainkan rumah yang memahami mereka.

Sejak hari itu, ikan-ikan tidak lagi mengejek Luke. Mereka mendengarkan saat Luke berbicara tentang arus dan musim, tentang waktu yang tepat dan risiko yang harus dihitung.

Sementara Luke tetap menjadi ikan sungai. Bukan karena takut bermimpi, melainkan karena ia tahu tidak semua jalan menuju kebahagiaan harus mengalir ke laut. Terkadang, bertahan dan memahami diri sendiri adalah keberanian yang paling besar. Bermimpi itu penting, tetapi memahami kemampuan, lingkungan, dan kesiapan diri jauh lebih penting. Mengikuti mimpi tanpa mengenal realitas bisa membawa bahaya, sementara kebijaksanaan sering lahir dari kesabaran dan pengenalan diri.