"Duh, rasanya pengin mati!" keluh Arum ketika ia mengalami demam selama 2 hari terakhir. Sudah pergi periksa ke dokter dan meminum obat, tetapi rasanya gadis itu semakin lemas karena badannya yang terasa begitu capek akhir-akhir ini.
Yah, mau bagaimana lagi. Bekerja sambil kuliah membuat ia terpaksa harus super disiplin dalam membagi waktu. Tak ketinggalan pula tugas kuliah yang semakin menumpuk membuat kepala gadis itu semakin pusing tujuh keliling.
Padahal cuma demam biasa, flu musiman ketika tubuhmu tak bersahabat dengan cuaca yang tak menentu. Namun, di tengah sakit yang mendera, Arum masih memiliki keberuntungan sendiri. Ada seseorang yang selalu mendengarkan keluh kesahnya, yakni sang kakak perempuan.
"Ya, sudah, kalau begitu biar tugas kuliah kamu kakak saja yang kerjakan dulu sampai kamu sembuh," sahut Kak Amel dari ujung telepon, membuat Arum semakin merengek manja padanya saat ia mengabarkan kondisi kesehatannya.
Kedua kakak adik itu memang tengah berjauhan saat ini, Arum tengah merantau untuk bekerja sambil kuliah. Sementara Kak Amel sudah pulang dan bekerja di kampung halaman mereka.
Namun, siapa sangka kenyamanan itu tak berlangsung lama. Keistimewaan memiliki sosok kakak perempuan yang penuh perhatian harus terpaksa berhenti sampai di sini ketika berita naas itu datang satu minggu kemudian.
"Rum, kamu yang sabar ya nduk, mbak-mu Amel kecelakaan dan kondisinya kritis saat ini," suara tangis di ujung telepon itu sontak membuat tubuh Arum meluruh. Ia yang tengah berdiri di dapur tempat kosnya pun langsung jatuh ke lantai.
Untung saja teman sekamar Arum tengah berada di rumah, ia pun langsung menghampiri Arum, dan menanyakan keadaan gadis itu. 3 jam berlalu Arum penuhi dengan tangis dan rapalan doa agar sang kakak tercinta selamat dari masa kritisnya.
Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain, kabar duka pun kembali menyapanya di hari yang sama. Kak Amel telah berpulang ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk selama-lamanya.
Arum menjerit dan menangis sejadinya. Seolah tak percaya dengan kabar yang baru saja ia dengar. Padahal baru satu minggu yang lalu ia berkeluh kesah dengan sang kakak, dan masih sempat bercanda dengannya. Namun, hari ini sang kakak benar-benar sudah tak memiliki kehadiran yang nyata di dunia.
Sesal mendalam pun memenuhi pikiran Arum. Ia bahkan tak bisa langsung pula ke kampung halaman untuk setidaknya ikut menyaksikan proses pemakaman sang kakak. Gadis itu masih harus mencari waktu cuti yang tepat untuk benar-benar bisa kembali ke rumah.
Mengapa di saat sang kakak masih hidup Arum hanya bisa membebaninya dengan rengekan dan sejumlah keluh kesah lainnya. Harusnya ia bisa berbuat lebih, menciptakan setidaknya kenangan manis, atau melakukan hal yang membuat Mbak Amel bangga. Pertanyaan itu terus menghantui Arum di hari-hari berikutnya.
Tapi, apa daya, takdir seseorang tidak ada yang tahu. Umur dan kematian tidak pernah memandang apakah kamu siap atau tidak, apakah kamu masih muda atau sudah tua, semua itu tak menjadi patokan. Karena takdir itu sudah tergaris. Barang siapa yang hidup dan bernapas, maka ia akan mati dan kembali juga pada Sang Pecinpta.
Arum hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar sang kakak mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Meski kini hatinya merasa kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang hilang, Arum tetap berusaha kuat dalam melanjutkan hidup. Kilasan kenangan masa lalu saat mereka berdua tumbuh bersama, berjuang bersama mewujudkan mimpi yang berbeda, hingga keluh kesah yang pernah mereka serukan satu sama lain kini menjadi satu-satunya hal bisa mengobati kerinduan yang ia rasakan akan kehadiran sosok sang kakak.
Saat sang kakak masih hidup dan berada jauh darinya, Arum masih merasakan kehadiran dan kehangatan itu saat mereka berbagi kabar lewat ponsel. Namun, kini ia merasakan kesunyian yang mendalam ketika sosok itu tak lagi nyata berada di dunia.
Ternyata memang benar adanya. Sesuatu hal atau kehadiran seseorang itu akan terasa begitu sangat berharga ketika kamu telah kehilangannya. Arum telah merasakan dan membuktikan semuanya itu. Kepergian sang kakak membuat ia belajar untuk lebih menghargai waktu, serta orang-orang yang selama ini berada di sampingya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Baca Juga
-
RIIZE Ungkap Perasaan Cinta yang Tulus di Single Jepang Terbaru, All of You
-
Satu Mimpi Kecil yang Tertindas
-
Dari Seoul ke Bangkok, Tur Konser SMTOWN Live 2025-26 Resmi Berakhir
-
No Way Back oleh Enhypen Feat. So!YoON!: Jalani Takdir Hidup Tanpa Ragu
-
Cinema oleh Woodz: Kenangan Kisah Cinta Masa Lalu yang Bikin Gagal Move On
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Impian Terwujud, Tao Tsuchiya Akan Isi Suara Pantan di Film Anpanman ke-37
-
Wayahe Ngopi: Mengapa Kita Perlu Berhenti Sejenak dari Hiruk Pikuk Dunia?
-
Sinopsis Punch Drunk Woman, Drama Jepang Dibintangi Ryoko Shinohara
-
Jelang MotoGP 2026: Jorge Martin Ingin Pulih dan Adaptasi dengan Cepat
-
Potret Kuasa dan Moralitas dalam Krisis Ekonomi di Buku Negeri Para Bedebah