M. Reza Sulaiman | Habibah Husain
Buku Wayahe: Ngopi Ngopeni Ati (Doc. Pribadi/Habibah)
Habibah Husain

Saat ini, hidup terasa seperti berlari di atas mesin yang tidak pernah berhenti. Semakin cepat kita bergerak, tuntutan dunia justru terasa makin kencang mengejar kita. Kita seolah-olah dipaksa mengejar standar sukses, mulai dari jabatan tinggi hingga pamer gaya hidup mewah.

Fenomena ini membuat banyak orang terjebak dalam budaya gila kerja (hustle culture) yang sangat melelahkan. Akibatnya, kita sering merasa bersalah jika diam atau beristirahat sebentar di tengah kesibukan. Kita memaksa diri bekerja tanpa henti hanya demi dipuji orang lain, padahal hati merasa hampa.

Tekanan Hidup Modern dan Kesehatan Batin

Tekanan hidup yang tidak ada habisnya ini berdampak sangat buruk pada kesehatan batin kita. Banyak orang merasa stres dan cemas karena kehilangan pegangan hidup yang sebenarnya. Ketika kita hanya fokus mengejar hal lahiriah, batin kita justru sering merasa menderita dan gelap.

Di mata manusia, kita mungkin tampak sukses, namun di hadapan Tuhan, hati bisa jadi kosong. Inilah masalah besar yang banyak dialami oleh masyarakat modern saat ini. Masalah tersebut harus segera diatasi agar kita tidak kehilangan jati diri dan makna hidup.

Solusi Spiritual dalam Buku "Wayahe"

Buku berjudul Wayahe: Ngopi Ngopeni Ati karya Tri Wibowo BS hadir memberikan solusi yang mudah. Buku ini mengajak kita untuk kembali mengenali diri sendiri dan tidak hanya mengejar materi. Melalui ulasan ini, kita diajak memahami bahwa kebahagiaan sejati berasal dari batin yang sehat.

Penulis memperkenalkan istilah "Ngopi" bukan sekadar minum kopi biasa di warung pinggir jalan. Ngopi diartikan sebagai waktu untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang sangat bising. Istilah "Ngopeni Ati" atau merawat hati mengajarkan kita cara penting dalam mengelola emosi harian.

Pentingnya Menjaga Pola Pikir Positif

Penulis mengingatkan bahwa kita punya kekuatan untuk memilih berhenti agar kesehatan mental tidak rusak. Cara merawat hati yang paling mudah adalah dengan selalu menjaga pola pikir yang positif. Bagaimana cara kita melihat sebuah masalah akan menentukan tenang atau tidaknya hidup yang dijalani.

Buku terbitan DIVA Press ini juga menekankan pentingnya membaca isyarat Tuhan dalam setiap kejadian. Jika kita terus menuruti ambisi yang tidak ada habisnya, kita hanya akan menyiksa diri sendiri. Sebaliknya, jika kita mau memberi waktu bagi jiwa untuk beristirahat, hal positif akan masuk ke dalam jiwa.

Praktik Nyata Merawat Jiwa

Orang yang hidup tanpa pernah merenung biasanya akan mudah marah dan emosinya tidak stabil. Oleh karena itu, kita butuh waktu untuk berpikir tenang dan melihat kembali ke dalam diri. Penulis mengingatkan bahwa sekadar membaca teori saja tidak cukup untuk mengubah keadaan batin kita.

Kita harus melakukan praktik nyata, seperti belajar melepaskan beban pikiran dan memaafkan diri sendiri. Proses penyucian jiwa ini sangat penting agar kita tidak terus merasa tertekan oleh lingkungan. Merawat batin adalah investasi jangka panjang agar kita bisa hidup lebih bahagia dan tenang.

Kesimpulan: Sukses dengan Ketenangan Hati

Sukses di dunia tanpa ketenangan hati itu seperti membangun istana megah di atas pasir. Kerja keras tanpa kesadaran spiritual bagaikan berlayar di tengah lautan tanpa arah. Jangan menunggu sampai stres kalian semakin parah untuk mulai peduli pada kesehatan jiwa sendiri.

Mari mulai merawat hati dan mengenali diri sendiri melalui ritual ngopi spiritual yang menenangkan. Semoga buku Wayahe: Ngopi Ngopeni Ati karya Tri Wibowo BS ini bisa membantu kita semua meraih kemenangan atas ego diri kita sendiri. Jangan hanya merawat raga, rawat juga hatimu. Percuma sukses jika hati tak tenang. Selamat membaca dan temukan kedamaian hidup yang selama ini kamu cari.

Identitas Buku:

  • Judul: Wayahe: Ngopi Ngopeni Ati
  • Penulis: Tri Wibowo BS
  • Penerbit: DIVA Press
  • Tahun Terbit: Cetakan Pertama, September 2019
  • Tebal Buku: 218 halaman (14 x 20 cm)
  • ISBN: 978-602-391-768-6