Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Ilustrasi Cerpen Puasa Pertama Arka (Gemini AI)
Angelia Cipta RN

Langit subuh masih berwarna biru gelap ketika ibu membangunkan Arka dengan lembut. Suaranya pelan, seperti takut memecahkan mimpi indah putranya. Tapi, ini dilakukan agar Arka bisa dan kuat berpuasa.

“Arka, bangun, Kita sahur.”

Arka membuka mata dengan berat. Biasanya ia masih terlelap pada jam seperti itu. Namun pagi ini berbeda. Ini adalah hari pertama ia akan belajar berpuasa penuh. Semalam, ia begitu bersemangat, bahkan sempat berkata dengan dada dibusungkan, “Arka sudah besar. Arka kuat puasa sampai magrib!”

Ayah tersenyum waktu itu. “Puasa bukan cuma soal kuat menahan lapar, Nak. Tapi juga kuat menahan marah dan sabar.”

Arka mengangguk, meski belum benar-benar mengerti tantangan puasa yang sebenarnya bagi anak-anak seusianya.

Setelah sahur, ia merasa sangat bangga. Ia makan lebih banyak dari biasanya, takut nanti kelaparan. Ibu menatapnya sambil tersenyum, “Makan secukupnya saja. Jangan berlebihan itu gak baik, lho.”

Saat azan Subuh berkumandang, Arka ikut ayah shalat berjamaah. Hatinya hangat. Ia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang membuatnya lebih dewasa.

Namun perasaan itu mulai berubah ketika matahari naik tinggi. Di sekolah, aroma makanan dari kantin terasa lebih tajam dari biasanya. Biasanya ia tidak terlalu peduli, tetapi hari ini bau gorengan dan mi hangat seperti sengaja menggoda hidungnya. Temannya, Bima, yang belum berpuasa karena sakit, membuka bekal roti cokelat tepat di sebelahnya.

“Wangi banget,” kata Bima tanpa rasa bersalah.

Arka menelan ludah. Perutnya mulai berbunyi pelan. Ia memalingkan wajah dan berbisik dalam hati, Arka kuat. Arka mau puasa penuh.

Jam pelajaran terasa lebih lama dari biasanya. Saat istirahat, anak-anak lain berlari ke kantin. Arka dan beberapa teman yang berpuasa duduk di kelas. Ia mencoba membaca buku cerita, tapi pikirannya melayang-layang. Kepalanya terasa sedikit ringan.

Lalu kejadian kecil itu datang. Saat pelajaran olahraga, tanpa sengaja seorang teman menyenggolnya hingga ia hampir terjatuh. Anak itu tertawa, bukan mengejek, hanya refleks. Tapi Arka yang sudah lemas dan lapar tiba-tiba merasa kesal.

“Kamu gak hati-hati, kalau berlari lihat-lihat dong!” bentaknya.

Temannya terdiam. “Maaf, Arka aku nggak sengaja.”

Arka masih merasa panas di dada. Ia ingin terus marah. Rasanya ada api kecil yang menyala di perutnya, bukan karena lapar, tapi karena emosi. Namun tiba-tiba ia teringat ucapan ayah. Puasa bukan cuma menahan lapar, tapi juga menahan marah.

Ia menunduk. Nafasnya masih berat. “Iya, maaf juga, aku jadi ikutan marah-marah” gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya hari itu, Arka sadar bahwa menahan marah ternyata lebih sulit daripada menahan rasa hausnya.

Siang hari menjadi ujian berikutnya. Matahari terasa menyengat. Tenggorokannya semakin kering. Ia membayangkan segelas air dingin yang biasanya selalu menemaninya setelah pulang sekolah. Tubuhnya terasa lemas, langkahnya lebih lambat saat berjalan pulang.

Setibanya di rumah, ibu menyambutnya, “Gimana puasanya? Lancar?” tanya ibu lembut.

Arka tidak langsung menjawab. Ia meletakkan tasnya pelan, lalu duduk di sofa. “Lapar, haus, capek,” katanya jujur. Matanya mulai berkaca-kaca.

Ibu duduk di sampingnya dan mengusap rambutnya. “Wajar. Ini pertama kalinya kamu puasa penuh. Tubuhmu masih belajar. Tapi, nanti kamu akan terbiasa.”

“Aku haus dan ingin minum air es, Bu.” suara Arka nyaris berbisik.

Ibu tersenyum, tapi tidak memaksa. “Kalau memang tidak kuat, tidak apa-apa. Allah tahu kamu sedang belajar.”

Arka terdiam. Ada pergulatan kecil di dalam hatinya. Ia ingin menyerah. Ingin berlari ke dapur dan minum air sebanyak-banyaknya. Tapi ia juga ingin membuktikan bahwa ia bisa.

“Tidak, Arka tahan saja sampai magrib,” katanya akhirnya.

Sore hari terasa paling berat. Tubuh Arka benar-benar lemas. Ia mencoba tidur, tapi tidak bisa. Perutnya seperti kosong melompong. Ia melihat jam berkali-kali. Waktu berjalan lambat sekali.

“Kapan adzan magribnya ya? Kenapa lama sekali?” gumamnya dalam hati sambil mengelus perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi meminta makan.

Jam tepat menunjuk pukul 3 sore dan Ayah baru saja pulang kerja dan langsung menghampirinya.

“Pejuang kecil kita masih bertahan?” tanya ayah sambil tersenyum.

Arka mengangguk lemah. “Tapi rasanya lama banget, Yah. Jam seperti tidak berputar sama sekali.”

Ayah duduk di sebelahnya. “Coba lihat ke luar jendela.”

Langit sore mulai berubah warna, dari biru terang menjadi jingga keemasan. Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun kering yang jatuh di halaman.

“Setiap detik yang kamu lewati itu berharga,” kata ayah pelan. “Kamu sedang belajar sabar. Belajar menahan diri. Itu bukan hal kecil dan kamu sudah berjuang sampai seharian ini, itu baru laki-laki keren.”

Arka menatap langit. Ia tidak pernah benar-benar memperhatikan perubahan warna sore seperti itu. Ternyata indah.

Ayah melanjutkan, “Saat kamu lapar, kamu belajar merasakan bagaimana orang lain yang tidak punya makanan. Saat kamu haus, kamu belajar bersyukur atas segelas air.”

Arka terdiam. Ia teringat Bima yang kemarin bercerita bahwa ada anak di televisi yang kesulitan mendapatkan makanan. Tiba-tiba laparnya terasa berbeda. Bukan sekadar kosong di perut, tapi seperti pelajaran yang sedang ditanamkan di hatinya.

Akhirnya suara azan Magrib terdengar.

“Allahu Akbar…”

Suara itu seperti angin segar yang menyapu seluruh kelelahan Arka. Ia duduk tegak. Ibu sudah menyiapkan kurma dan segelas air es di meja.

“Silakan, Arka sudah waktunya berbuka,” kata ibu lembut.

Tangan Arka sedikit gemetar saat mengambil kurma pertama dalam hidupnya sebagai anak yang berpuasa penuh. Ia menggigit perlahan. Manisnya menyebar di lidahnya. Air putih yang diminumnya terasa lebih nikmat dari minuman apa pun yang pernah ia rasakan.

Ia tersenyum lebar.

“Aku berhasil…” katanya pelan, hampir tidak percaya.

Ayah dan ibu tersenyum.

“Bukan cuma berhasil menahan lapar,” kata ayah. “Tapi berhasil menahan marah dan menyerah.”

Arka menunduk, merasa hangat di dada. Ia ingat saat hampir membentak temannya. Ia ingat saat hampir menyerah di sofa. Ia ingat haus yang menyiksa dan waktu yang terasa lambat.

Hari itu terasa sangat panjang. Tapi justru karena panjang itulah, ia belajar banyak. Belajar bahwa sabar itu tidak selalu mudah. Belajar bahwa menahan diri membutuhkan keberanian dan juga belajar bahwa dukungan orang tua adalah kekuatan terbesar.

Malam itu, setelah salat tarawih, Arka berbaring di tempat tidur dengan tubuh lelah namun hati penuh. Ia tidak lagi merasa seperti anak kecil yang ingin cepat dewasa. Ia merasa seperti anak yang sedang bertumbuh.

Sebelum tidur, ia berbisik pelan, “Besok Arka puasa lagi dan semoga bisa lebih kuat daripada hari ini.”

Dari balik pintu, ibu yang mendengarnya tersenyum haru. Ramadan baru saja dimulai. Tapi bagi Arka, hari itu adalah awal dari perjalanan panjang memahami arti sabar, syukur, dan cinta dalam keluarga.

Dan ia tahu, selama ada ayah dan ibu yang mendukungnya, tidak ada hari yang terlalu panjang untuk dilewati.