"Semua yang silau kegemilangan masa silam, tidak akan mendapat masa depan." Kutipan di halaman 4 buku ini seolah menjadi lonceng kematian bagi kejayaan Mpu Manyu. Bagaimana rasanya menjaga nama besar sebagai empu keris ternama ketika harta sudah tak lagi tersisa? Novel Kuda karya Panji Sukma memotret dengan getir kehidupan seorang perajin keris yang tergilas oleh roda zaman.
Sinopsis: Tragedi Sang Empu dan Simbol Pengkhianatan
Pada era Orde Baru (Orba), Mpu Manyu adalah sosok digdaya. Kliennya berderet, mulai dari pejabat tinggi hingga perwira tentara yang memburu keris sebagai jimat keberuntungan atau pelicin proyek. Namun, tak ada kejayaan yang abadi. Pasca-Orba, kemewahan itu lenyap. Mpu Manyu menarik diri dari masyarakat desa, bahkan rumah megahnya kini gelap gulita karena tunggakan listrik.
Di tengah kejatuhan itu, hiduplah Kuda Anjampiani, putra semata wayangnya yang putus sekolah sejak SMP. Nama "Kuda" bukan sekadar sebutan nyeleneh; ia merujuk pada putra Ronggolawe, sosok pengkhianat di masa Majapahit. Nama ini seolah menjadi nubuat atas luka lama yang kembali terbuka saat Abdul Aziz, sahabat masa lalu yang mengkhianati Mpu Manyu, tiba-tiba muncul kembali. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan pembuka kotak pandora tentang asal-usul Kuda yang selama ini terkunci rapat.
Melintasi Ruang, Waktu, dan Dendam
Membaca Kuda terasa seperti melintasi lorong waktu. Panji Sukma dengan cerdas menjahit narasi sejarah Majapahit dengan realitas sosial pasca-Orba. Mpu Manyu digambarkan sebagai sosok arkais yang gagap beradaptasi dengan modernitas. Ia terjebak dalam memori sebagai penatah keris, sementara dunia di luar sana sudah tak lagi memuja jimat besi.
Keunikan novel ini terletak pada sensitivitas panca indra tokoh Kuda yang terjawab melalui proses kelahirannya yang mistis. Panji Sukma juga mengingatkan kita bahwa benda pusaka—terutama yang "berisi"—bisa membawa petaka lintas zaman jika jatuh ke tangan yang salah. Isu pengkhianatan menjadi benang merah yang sangat kuat; dari pengkhianatan di era kerajaan hingga pengkhianatan dalam persahabatan modern, dendamnya tetap membara dan keris sering kali menjadi perantaranya.
Urip Iku Urup
Di balik nuansa gelap dan dendam, novel ini menyimpan filosofi luhur: Urip iku urup. Hidup haruslah menyala laksana pelita yang menerangi kegelapan. Pesan ini menjadi kontras yang menyakitkan bagi Mpu Manyu yang kini hidup dalam kegelapan fisik dan batin. Buku ini mengajarkan bahwa pengabdian tanpa pamrih adalah mahkota sebenarnya, namun kesombongan masa lalu bisa menjadi racun yang mematikan masa depan.
Setelah membaca Sang Keris, novel Kuda ini semakin mempertegas posisi Panji Sukma sebagai penulis yang jeli membedah budaya keris. Novel ini sangat direkomendasikan bagi pencinta sastra sejarah yang ingin melihat bagaimana sebuah tradisi sakral berbenturan dengan kerasnya kenyataan politik dan ekonomi.
Identitas Buku:
- Judul buku: Kuda
- Penulis buku: Panji Sukma
- Penerbit: Gramedia
- Terbit: Cetakan pertama, 2022
- Tebal: 100 halaman
- ISBN: 9786020664552
Baca Juga
-
Proposal Cinta di Bawah Proyek Mangkrak dan Halusinasi Negara
-
Jari ke Janji, saat Pena Menjadi Pedang dan Kata Kehilangan Makna
-
Teori Konspirasi di Warkop: Antara Hutan Terbakar dan BBM yang Langka
-
Di Bawah Lampu Loteng: KKN, Kenangan, dan Perpisahan
-
Jangan Disalahkan, Korban Baper Akibat "Pemberi Harapan Palsu" Adalah Korban Ketidakadilan Emosional
Artikel Terkait
Ulasan
-
Hendrix and Rocket: Being Brave, Rasa Takut Mengajarkan Arti Keberanian
-
He's Just Not That Into You: Kisah Cinta yang Mengajarkan Arti Kepastian
-
Ulasan Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Sekuel Horor Religi yang Penuh Drama!
-
Review Hasut: Teror Paling Berbahaya Tumbuh dari Prasangka
-
Pentingnya Berdamai dengan Masa Lalu dalam Buku Heal from the Things You Don't Talk About
Terkini
-
Film Gundam SEED FREEDOM ZERO Tayang 2027, Shinn Asuka Jadi Tokoh Utama
-
Netflix Umumkan 16 Peserta The Devil's Plan Season 3, Ada Jang Dong Min!
-
Kenapa Korban Sering Disalahkan? Stop Bungkam Orang yang Menceritakan Luka
-
Jeda Pikiran Lewat Journaling: Seni Menumpahkan Isi Kepala di Atas Kertas
-
Usai Live Action, The Remarried Empress Dapat Adaptasi Anime Tayang 2027