Asap kemenyan tipis merayap di antara celah-celah nisan yang berlumut, bersaing dengan aroma pandan iris yang baru saja kutaburkan. Di depanku, gundukan tanah itu masih tampak basah, seolah menolak untuk kering, sama seperti luka di hatiku yang belum juga mengatup.
"Kenapa harus sekarang, Mak? Besok lusa kita harusnya makan apem bersama di teras," bisikku pada nisan kayu yang masih baru itu.
Di desa kami, tradisi Mungguhan bukan sekadar makan-makan. Itu adalah ritual sakral untuk membersihkan hati sebelum memasuki gerbang Ramadan yang suci. Tapi tahun ini, tradisi itu terasa seperti racun bagiku. Bagaimana mungkin aku merayakan "bulan baik" jika cahaya di rumahku baru saja padam?
"Nak, bulan puasa itu soal mengosongkan perut untuk mengisi jiwa. Kalau jiwamu masih penuh dengan amarah pada takdir, puasamu cuma jadi lapar yang sia-sia," suara parau itu mengagetkanku.
Aku menoleh. Itu Mbah Dirgo, juru kunci makam yang sudah hidup lebih lama dari pohon kamboja tertua di sini. Ia sedang memegang sapu lidi, membersihkan dedaunan kering di makam sebelah.
"Bicara memang mudah, Mbah. Tapi Mak meninggal tepat saat aku membelikan mukena baru untuk tarawihnya. Apa itu adil?" tanyaku dengan nada yang tak bisa kusembunyikan ketajamannya.
Mbah Dirgo berhenti menyapu. Ia mendekat, lalu duduk di akar pohon besar di sampingku. "Ramadan tahun ini unik, Nak. Kau lihat di pasar tadi? Orang Tionghoa sibuk dengan lampion Imleknya, orang Nasrani bersiap dengan Prapaskahnya, dan kita bersiap dengan puasa kita. Semua orang sedang mencoba 'mendekat' pada Tuhan dengan caranya masing-masing. Tapi kau? Kau malah ingin menjauh hanya karena pintu rumahmu tertutup satu?"
Aku terdiam. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara anak-anak kecil sedang melakukan tradisi Padusan—mandi di sendang desa untuk menyucikan diri. Gelak tawa mereka terdengar seperti ejekan bagi kesedihanku.
"Tradisi itu bukan soal siapa yang ada di meja makan, tapi soal siapa yang masih ada di dalam doamu," lanjut Mbah Dirgo. "Mak-mu tidak pergi. Dia hanya 'pindah ruang'. Sekarang, tugasmu adalah menjadi 'takjil' bagi jiwanya lewat doa-doamu."
Mbah Dirgo bangkit, meninggalkan sepotong kue apem di atas nisan Mak. "Makanlah nanti saat magrib. Ini simbol permohonan maaf. Maafkan takdirmu, maka takdir akan memelukmu."
Aku terduduk lama di sana hingga langit berubah jingga kemerahan. Saat azan magrib berkumandang dari masjid desa—tanda resmi masuknya malam satu Ramadan, sebuah fenomena alam yang langka terjadi. Di langit barat, sabit tipis (hilal) muncul dengan sangat jelas, sementara di timur, sisa-sisa kembang api dari perayaan warga lain mulai menghiasi langit.
Aku mengambil kue apem pemberian Mbah Dirgo. Saat aku menggigitnya, rasa manis gula jawa dan gurih santan meledak di lidahku. Tiba-tiba, aku teringat ucapan Mak tahun lalu: "Puasa itu belajar mencukupkan diri dengan yang sedikit, agar kita tahu rasanya menjadi mereka yang tak punya apa-apa."
Aku tersentak. Aku merasa paling menderita karena kehilangan Mak, padahal di luar sana, mungkin ada orang yang kehilangan seluruh keluarganya, kehilangan rumahnya, atau bahkan kehilangan imannya.
Aku berdiri, mengusap nisan Mak untuk terakhir kalinya hari itu. "Selamat puasa, Mak. Mukenanya... akan kuberikan pada janda tua di ujung gang yang mukenanya sudah penuh tambalan."
Saat aku berjalan keluar dari gerbang makam, langkahku terasa lebih ringan. Namun, tepat di pintu keluar, aku melihat seseorang yang sangat kukenal sedang berdiri mematung. Ia mengenakan baju koko putih yang kusam, membawa bungkusan kain jarik yang isinya tampak berat.
Langkahku terhenti. Itu adalah pria yang sepuluh tahun lalu pergi meninggalkan Mak dan aku tanpa kabar. Pria yang membuat Mak harus membanting tulang sendirian hingga napas terakhirnya. Ayahku.
Dia menatapku dengan mata yang hancur. "Dia... di sebelah mana?" suaranya bergetar.
Tanganku mengepal di balik saku. Amarah yang tadi sempat mereda kini mendidih kembali. Ramadan baru saja dimulai beberapa menit yang lalu, dan ujian terbesarnya sudah berdiri di depanku. Apakah aku harus menunjukkan jalan ke makam Mak, atau membiarkannya tersesat dalam penyesalan selamanya?
Aku menatap hilal di langit, lalu menatap pria di hadapanku.
"Ikut aku," kataku pendek.
Kami berjalan dalam sunyi kembali menembus nisan-nisan. Di bawah cahaya bulan yang mulai meninggi, aku menyadari bahwa Ramadan kali ini bukan tentang hidangan lezat di meja makan, melainkan tentang meja makan di dalam hati yang harus dibersihkan dari kerak kebencian bertahun-tahun.
Namun, saat kami tiba di depan nisan Mak, Ayah tidak bersimpuh. Ia justru merogoh bungkusan jariknya dan mengeluarkan sebuah benda yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
"Ini bukan milikku," bisik Ayah sambil menyerahkan sebuah kotak kayu tua yang digembok rapat. "Mak-mu mengirim ini padaku sebulan sebelum dia tiada. Dia bilang, jangan dibuka sampai Ramadan 2026 tiba."
Aku menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Di atas kotak itu tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan Mak yang mulai miring: "Untuk rahasia yang tak sempat selesai."
Aku menatap Ayah, lalu menatap kotak itu. Suara tadarus mulai terdengar menggema dari pengeras suara masjid, membelah keheningan malam yang mencekam.
Apa isi kotak kayu itu? Mengapa Mak mengirimnya ke Ayah yang sudah lama pergi? Rahasia apa yang tersimpan sebenarnya?
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Aktris Jo Bo Ah Sambut Kelahiran Putra Pertama setelah Dua Tahun Menikah
-
Stray Kids dan KPop Demon Hunters Masuk Top 10 IFPI Global Album Chart 2025
-
Sinopsis The Legend of Kitchen Souldier, Drakor Komedi Baru Park Ji Hoon
-
Sampaikanlah Walau Satu Konten, Kiat Menjadi Kreator Konten Profesional
-
Go Soo Digaet Bintangi Drama Baru Park Min Young dan Sungjae, Nine to Six