"Jangan pernah sentuh piring itu lagi, Laras! Itu piring najis!"
Suara Bapak menggelegar, lebih nyaring dari tadarus yang menggema di musala depan rumah. Aku terpaku. Di tanganku, sebuah piring keramik putih dengan motif bunga mawar merah yang sudah retak di tepinya—bergetar hebat. Piring itu baru saja kugunakan untuk mengantar sepiring rendang ke rumah Koh Ahwat, tetangga sebelah yang sedang merayakan Imlek sekaligus menyiapkan cokelat untuk cucunya di hari Valentine.
"Tapi Pak, ini bulan Ramadan. Mak bilang kita harus berbagi..."
"Berbagi itu ada aturannya! Kita sedang puasa, sedang suci. Jangan kau campur adukkan dengan aroma dupa dan hiasan merah-merah itu!" Bapak merampas piring itu, lalu dengan sekali sentakan, Prang! Piring itu hancur berkeping-keping di lantai dapur yang dingin.
Tahun 2026 ini memang ajaib, tapi bagi Bapak, ini adalah tahun ujian keimanan. Baginya, ketika Ramadan, Prapaskah, Imlek, dan Valentine berhimpit, dunia sedang merencanakan konspirasi untuk mengaburkan batas suci. Bapak menjadi penjaga gerbang yang kolot, memastikan tidak ada bau hio yang masuk ke rumah, dan tidak ada salam "Gong Xi Fa Cai" yang keluar dari bibirku.
Namun, ada satu hal yang Bapak tidak tahu.
Setiap sore, sebelum azan Magrib, aku diam-diam sering berdiri di balik pagar belakang. Di sana, ada seorang wanita tua bernama Nek Aminah. Beliau sebatang kara, penganut Katolik yang taat, yang setiap sore di bulan Ramadan ini selalu sibuk memasak kolak. Bukan untuk dirinya—karena ia sedang berpantang daging dalam masa Prapaskah, tapi untuk para musafir yang lewat di depan gang.
"Laras," panggil Nek Aminah sore itu dari balik pagar kayu. Wajahnya yang keriput tampak pucat. "Bisa bantu Nenek? Tangan Nenek gemetar, tidak kuat mengangkat panci."
Aku bimbang. Menolong Nek Aminah berarti mengkhianati titah Bapak. Tapi melihat asap yang mengepul dari dapurnya dan tubuh ringkihnya yang hampir tumbang, nuraniku berontak. Aku melompati pagar.
Di dapur Nek Aminah, aku melihat pemandangan yang takkan pernah kulihat di rumahku. Di atas mejanya, ada Alkitab yang terbuka, sebuah jeruk mandarin pemberian Koh Ahwat, dan sebuah mangkuk berisi kurma.
"Nenek masak kolak sebanyak ini untuk siapa?" tanyaku sambil membantu menuang santan.
"Untuk Tuhan, Laras," jawabnya tenang. "Tuhan sering menyamar jadi orang lapar yang lewat di depan rumah. Di tahun yang ramai ini, Tuhan pasti sedang lelah berkeliling melihat anak-anak-Nya sibuk bertengkar soal siapa yang paling benar."
Deg. Kata-kata itu menghantam ulu hatiku.
Tiba-tiba, pintu depan rumah Nek Aminah digedor kasar. "Laras! Keluar kamu!"
Itu suara Bapak. Jantungku serasa copot. Bapak masuk dengan wajah merah padam. Ia melihatku memegang centong sayur di dapur orang yang ia anggap "berbeda".
"Pulang! Kamu sudah mencoreng wajah Bapak!" teriaknya. Ia nyaris menarik lenganku ketika tiba-tiba Nek Aminah ambruk. Tubuh tuanya luruh ke lantai.
Bapak terpaku. Kebencian di matanya beradu dengan insting kemanusiaannya. Untuk beberapa detik, ruangan itu hening. Hanya ada suara azan Magrib yang mulai berkumandang dari jauh.
"Pak... Nek Aminah tidak punya siapa-siapa," bisikku sambil menangis.
Bapak melihat kolak yang masih mengepul, melihat kurma di meja, lalu melihat salib kecil yang menggantung di leher Nek Aminah yang kini tak sadarkan diri. Di momen itulah, dinding ego Bapak yang setinggi langit seolah runtuh oleh satu aroma: aroma kemanusiaan.
Tanpa berkata-kata, Bapak mengangkat tubuh Nek Aminah. "Cepat panggil Pak RT! Siapkan mobil!"
Malam itu, di rumah sakit, suasana Ramadan terasa sangat berbeda. Bapak duduk di kursi tunggu, sementara Koh Ahwat datang membawa air mineral, dan seorang suster yang sedang mengenakan abu di keningnya (tanda Rabu Abu) sibuk memeriksa tensi Nek Aminah.
Bapak tertunduk lesu. Di tangannya, ia memegang sebuah benda yang tadi ia ambil dari meja Nek Aminah sebelum berangkat: sebuah piring keramik bermotif mawar merah. Piring yang sama persis dengan yang Bapak pecahkan tadi sore.
"Itu piring dari Ibu kamu, Pak," suaraku memecah keheningan. "Dulu, sebelum Ibu meninggal, dia memberikan satu set piring itu kepada Nek Aminah sebagai tanda persaudaraan. Mak bilang, piring itu boleh retak, tapi silaturahmi tidak boleh pecah."
Bapak mengelus tepian piring yang retak itu. Air matanya jatuh. Di malam pertama puasa yang harusnya penuh kesucian, Bapak justru baru menyadari bahwa kesucian sejati tidak ditemukan dalam pengkotak-kotakkan doa, melainkan dalam luasnya penerimaan.
"Laras," suara Bapak parau. "Besok, buatkan kolak yang lebih banyak. Kita antar ke semua rumah di gang kita. Tanpa terkecuali."
Aku tersenyum dalam tangis. Namun, saat kami hendak masuk ke ruang rawat Nek Aminah, seorang dokter keluar dengan wajah tertunduk. Ia menggeleng pelan.
Nek Aminah pergi di malam yang paling indah, saat semua doa dari berbagai bahasa membubung ke langit yang sama.
Bapak masuk ke dalam ruangan, meletakkan piring mawar itu di samping jasad Nek Aminah. Ia kemudian berdiri di pojok ruangan, menghadap kiblat, dan memulai salat Isya-nya dengan khusyuk. Di ruangan yang sama, Koh Ahwat menunduk memberikan penghormatan terakhir, dan aku... aku menyadari satu hal yang menggigit.
Di saku baju Nek Aminah, aku menemukan sepucuk surat kecil yang basah oleh tumpahan kolak. Isinya hanya satu kalimat singkat yang ditujukan untuk Bapak: "Terima kasih sudah membiarkan Laras membantu saya, Pak. Di piring yang retak ini, saya selalu melihat wajah Tuhan yang tersenyum pada kita berdua."
Tanganku gemetar. Jika Nek Aminah tahu piring itu sudah dipecahkan Bapak tadi sore, rahasia apa lagi yang sebenarnya ia bawa pergi? Dan kenapa piring di tangan Bapak sekarang tampak begitu utuh tanpa ada retakan sedikit pun? Siapa yang menukar piring itu? Apakah itu mukjizat atau sekadar halusinasi Laras?
Aku menoleh ke arah meja. Piring itu menghilang. Hanya ada wangi kasturi yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Baca Juga
-
Lewat Dongeng Boneka Tangan, KKNT UNP Kediri Ajarkan Kecerdasan Emosional di KB Mentari
-
Diplomasi Sandi Wi-Fi: Kisah Sedekah Sinyal dan Solidaritas di Gang Sempit
-
Ruang Hampa di Kepala Elias
-
Filosofi Baju Bekas Kakak: Warisan Kasih yang Tak Pernah Luntur
-
Tukang Sayur: Psikolog Jalanan Tanpa Gelar dari Gang ke Gang
Artikel Terkait
-
Nonton Video Mukbang saat Puasa, Bisa Mengurangi Pahala? Ini Kata Ustaz
-
72 Jam Nonstop! Modinity Raya Festival Hadir dengan Konsep Baru untuk Belanja Ramadan Lengkap
-
Rahasia Kecil antara Aku, Ibu, dan Ramadan
-
Gelas Kelima di Meja Tanpa Takjil
-
5 Rekomendasi Takjil Buka Puasa Selain Gorengan, Perut Tak Gampang Begah
Cerita-fiksi
Terkini
-
Stray Kids dan KPop Demon Hunters Masuk Top 10 IFPI Global Album Chart 2025
-
Sinopsis The Legend of Kitchen Souldier, Drakor Komedi Baru Park Ji Hoon
-
Sampaikanlah Walau Satu Konten, Kiat Menjadi Kreator Konten Profesional
-
Go Soo Digaet Bintangi Drama Baru Park Min Young dan Sungjae, Nine to Six
-
Cari Kulkas Dua Pintu Murah? Ini 4 Pilihan Harga 2 Jutaan yang Worth Dibeli