Gemetar di ujung jemari Damar bukan karena lapar yang mulai menggerogoti lambungnya, melainkan karena sepotong angka ganjil yang seperti merayap di bawah kulit lengan kanannya. Ia menarik naik lengan baju koko murahnya yang kusam, memperlihatkan guratan tinta hita, pekat, kasar, terasa asing di serambi masjid yang suci.
Itu bukan bunga atau naga; melainkan deretan angka koordinat dan sebuah nama kecil, dikelilingi bekas luka parut yang menonjol. Tato itu jelaga masa lalu yang ia bawa pulang ke desa, tanda dari sel penjara yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Kini Damar adalah muazin baru di masjid tua itu. Suaranya dikenal sebagai getar yang membasuh letih, tapi tak seorang pun tahu tenggorokan yang merdu itu pernah terbiasa menelan caci maki dan udara apek ruang isolasi. Ramadan tahun ini menjadi panggung persembunyian paling sunyi. Ia menjaga lengannya tetap tertutup, seakan jika tinta itu tersentuh matahari, reputasi “orang saleh” yang baru ia rintis akan runtuh di mata penduduk desa.
Di menara masjid yang sempit dan berdebu, Damar berdiri menghadap mikrofon tua berkarat. Di luar, aspal menguapkan panas. Ia menyentuh tombol amplifier. Keringat membuat kain bajunya tersingkap. Pada saat yang sama, seorang bocah tujuh tahun, anak pengurus masjid yang paling vokal, muncul di ambang pintu menara.
Bocah itu diam, matanya yang bulat tertuju tepat pada guratan hitam di lengan Damar.
Jantung Damar berdegup dengan ritme yang tidak sinkron dengan ketenangan masjid di siang hari. Ia merasa masygul. Seluruh skenario ampunan atau aksama yang ia bangun selama lima belas hari terakhir mendadak terasa seperti istana pasir yang siap disapu ombak. Ia segera menarik turun lengan bajunya, namun kilat di mata bocah itu memberi tahu bahwa rahasianya sudah berpindah tangan.
"Itu gambar apa, Pak?" tanya bocah itu, suaranya jernih, tanpa prasangka, namun terasa lebih tajam daripada mata pahat kayu.
Damar terdiam cukup lama, menatap keluar jendela menara menuju deretan makam desa yang sunyi.
"Itu adalah catatan tentang seseorang yang tidak bisa pulang, Nak," bisiknya dengan suara yang kering.
"Kenapa Bapak menyembunyikannya? Apa gambarnya jahat?" bocah itu melangkah masuk, mengabaikan debu yang menempel pada sarung barunya.
Damar berlutut, menyamakan tingginya dengan bocah itu.
"Gambarnya tidak jahat, tapi cara Bapak mendapatkannya yang penuh kesalahan. Bapak menyembunyikannya karena Bapak takut orang-orang di masjid ini hanya melihat gambar hitam ini, bukan melihat siapa Bapak sekarang."
Bocah itu menyentuh pergelangan tangan Damar yang tertutup kain.
"Tapi Bapak yang selalu memanggil kami untuk shalat. Suara Bapak membuat kakek berhenti marah-marah setiap adzan tiba. Kakek bilang, suara Bapak itu seperti air wudhu yang sejuk."
Tenggorokan Damar terasa tercekat, lebih perih daripada rasa haus siang itu. Ia menyadari sebuah refleksi yang sangat tajam: bahwa "Sepotong Kisah Ramadhan" miliknya bukan tentang seberapa nirmala kulitnya dari tinta, melainkan tentang bagaimana ia sanggup memaafkan dirinya sendiri sebelum menuntut ampunan dari Tuhan.
Ibadah yang paling berat di bulan suci ini bukanlah menahan lapar, melainkan keberanian untuk tetap mengabdi meski tubuh penuh dengan tanda kegagalan masa lalu yang tidak bisa dihapus.
"Bapak akan tetap adzan?" tanya si bocah lagi.
Damar mengangguk pelan. Ia bangkit, mendekati mikrofon, dan dengan sengaja ia menggulung kedua lengan bajunya hingga ke siku secara literal. Ia membiarkan tinta penjara itu terpampang jelas di bawah cahaya Baskara yang menembus celah menara. Ia membiarkan kejujuran yang pahit itu menjadi saksi bagi suaranya yang sebentar lagi akan terbang ke langit.
Saat ia mulai mengumandangkan adzan, suara Damar terdengar lebih bergetar, lebih dalam, dan lebih jujur dari biasanya. Ia tidak lagi berteriak untuk memanggil warga; ia sedang berteriak untuk memanggil jiwanya sendiri agar berhenti berlari.
Di serambi masjid, para jamaah yang mulai berdatangan menengadah ke atas menara, mungkin mereka akan mulai berbisik tentang muazin bertato yang nekat memperlihatkan identitas candala-nya. Namun di atas sana, Damar merasa beban berton-ton di pundaknya baru saja luruh bersama setiap bait adzan yang ia lepaskan.
Bocah di sampingnya tersenyum, lalu berlari turun menuju tempat wudhu. Damar tetap berdiri di sana, menatap matahari yang mulai bergerak condong ke barat. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin yang tersisa di botol kecilnya, merasai setiap tetesnya yang menyentuh kulit lengannya yang bertinta. Ramadan adalah jeda, dan di dalam jeda itulah, Damar akhirnya mengizinkan dirinya untuk menjadi manusia yang paling jujur di hadapan takdir.
Gema adzannya masih menyisa di udara, memantul di antara tembok-tembok rumah desa yang bisu. Damar melepaskan kabel mikrofon dengan tangan yang kini tak lagi gemetar. Tinta hitam itu tetap ada, permanen dan kasar, namun di dalam dadanya, ia baru saja menemukan selembar cahaya putih yang selama ini ia curi dari kepalsuannya sendiri.
Baca Juga
-
Mencuri Kain Kafan di Teras Rumah
-
Teror Relevansi: Membedah Cara Algoritma Memanen Waktu dan Menghancurkan Batin
-
Fetisisme Kesibukan: Saat Lelah Menjadi Simbol Status Sosial
-
Dosa di Keranjang Online: Pengakuan 'Checkout Addict' dan Cara Tobatnya
-
The Power of 'Nggak, Makasih': Heroiknya Menolak Sedotan dan Tas Kresek
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Belajar Menerima Setiap Luka di Novel Matahari Minor karya Tere Liye
-
Spesifikasi iQOO Z11x Bocor di Geekbench, Upgrade Chipset ke MediaTek Dimensity 7400
-
Work-Life Balance Saat Ramadan: Tetap Produktif Tanpa Kehilangan Makna
-
5 Pilihan Makanan Instan untuk Sahur Anti-Ribet dan Hemat Waktu
-
Overthinking Tiap Malam? Stoikisme Bisa Membantumu Mengendalikan Pikiran