M. Reza Sulaiman | YESRUN EKA SETYOBUDI
Sejumlah andong parkir di kawasan Malioboro, Jumat (11/4/2025). [Kontributor/Putu]
YESRUN EKA SETYOBUDI

Suara denting lonceng andong yang beradu dengan derap kaki kuda di atas aspal Jalan Malioboro adalah musik latar yang abadi bagi Yogyakarta. Namun, di bawah langit Ramadan yang terik, suara itu sering kali terdengar lebih sunyi, menyimpan narasi perjuangan yang luput dari jepretan kamera wisatawan.

Di saat sebagian besar masyarakat kota menepi untuk mencari keteduhan menjelang waktu berbuka, para kusir andong tetap bertahan di atas sadel kayu mereka, menanti penumpang di tengah kepulan asap kendaraan dan panasnya aspal yang memuai. Fenomena ini bukan sekadar urusan transportasi wisata. Berdasarkan perspektif sosiokultural, andong adalah museum hidup yang merepresentasikan keteguhan rakyat kecil dalam menjaga marwah budaya sekaligus menyambung napas ekonomi keluarga di bulan yang penuh berkah namun penuh tantangan ini.

Secara historis, andong memiliki kedudukan yang sangat prestisius dalam struktur masyarakat Mataram Islam. Menurut catatan sejarah transportasi Jawa, andong pada awalnya merupakan kendaraan eksklusif bagi kaum bangsawan dan raja-raja Mataram, yang kemudian diadopsi oleh rakyat jelata dengan menyesuaikan ornamen serta jumlah rodanya.

Jika dahulu andong adalah simbol status sosial kelas atas, kini ia telah bertransformasi menjadi simbol resiliensi ekonomi kelas bawah. Berdasarkan data terbaru, saat ini terdapat sekitar 387 andong yang aktif beroperasi di kawasan Malioboro dengan total kusir di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 421 orang. Jumlah ini bukan sekadar angka statistik. Setiap unit andong menghidupi satu keluarga dan setidaknya satu nyawa kuda yang perawatannya tidaklah murah, terutama saat harga pakan cenderung naik menjelang Hari Raya.

Wajah Ramadan di sekitar Malioboro bagi seorang kusir adalah tentang ujian kesabaran yang berlipat ganda. Di bulan-bulan biasa, wisatawan mungkin datang silih berganti. Namun, saat puasa, ritme kedatangan pengunjung mengalami pergeseran drastis. Menurut Purwanto, Ketua Paguyuban Kusir Andong DIY, setiap tahun saat bulan Ramadan, pendapatan para kusir selalu mengalami penurunan yang sangat signifikan karena jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta menurun. Kondisi ini menciptakan dilema yang nyata; di satu sisi pendapatan berkurang, namun di sisi lain, kuda-kuda mereka tetap harus diberi makan dan diajak bergerak agar tidak kembali liar atau jatuh sakit. Biaya operasional untuk pakan kuda tetap berjalan setiap hari tanpa peduli apakah ada penumpang yang naik atau tidak—sebuah ironi di balik gemerlapnya lampu-lampu kota yang mulai menyala menjelang waktu Magrib.

Ketajaman refleksi dalam profesi ini terlihat dari bagaimana para kusir memandang pekerjaan mereka bukan sekadar sebagai mata pencaharian, melainkan sebagai bentuk pengabdian pada tradisi. Meskipun pendapatan harian saat Ramadan sering kali tidak menentu—terkadang hanya berkisar antara Rp100.000,00 hingga Rp200.000,00 saja—mereka tetap setia mangkal sejak pagi hingga malam hari. Berdasarkan pengalaman Marsaya, seorang kusir andong senior asal Bantul, kondisi ekonomi pascapandemi sebenarnya belum sepenuhnya pulih ke level normal, namun semangat untuk tetap melayani wisatawan tidak pernah pudar. Para kusir ini adalah penjaga gerbang keramahan Yogyakarta; mereka harus tetap tersenyum dan memberikan pelayanan terbaik meskipun perut sedang menahan lapar dan dompet sedang menipis demi menabung untuk keperluan Idulfitri yang kian dekat.

Selain tantangan ekonomi, para kusir andong juga harus beradaptasi dengan berbagai kebijakan penataan ruang di Malioboro. Uji coba kawasan full pedestrian atau bebas kendaraan bermotor sering kali menjadi pisau bermata dua bagi mereka. Menyadur laporan lapangan saat uji coba kebijakan tersebut, meskipun jalanan menjadi lebih lengang dan ramah bagi pejalan kaki, aksesibilitas penumpang menuju titik pangkalan andong terkadang justru terhambat oleh penutupan sirip-sirip jalan. Hal ini menuntut para kusir untuk memiliki strategi pemasaran yang lebih proaktif, bukan sekadar menunggu bola. Mereka harus mampu meyakinkan wisatawan bahwa berkeliling Malioboro dengan andong saat sore hari adalah cara terbaik untuk menikmati "ngabuburit" yang autentik, sebuah pengalaman yang tidak bisa didapatkan dari moda transportasi modern mana pun.

Analisis sosiologis menunjukkan bahwa keberadaan andong di tengah aspal kota adalah bentuk perlawanan terhadap percepatan zaman yang sering kali melupakan nilai-nilai kemanusiaan. Di saat moda transportasi online menawarkan kecepatan dan efisiensi, andong menawarkan ketenangan dan koneksi emosional. Mengutip pandangan para pemerhati budaya lokal, andong adalah simbol slow living yang nyata di Yogyakarta, di mana perjalanan lebih dihargai daripada sekadar tujuan akhir. Di bulan Ramadan, nilai ini menjadi semakin relevan sebagai momentum untuk melatih pengendalian diri dan empati. Ketika kita memilih untuk naik andong, kita tidak hanya membayar tarif perjalanan, tetapi kita sedang berinvestasi pada keberlangsungan warisan budaya dan memberikan napas bagi keluarga para pejuang aspal ini.

Menjelang Hari Raya, harapan para kusir biasanya tertumpu pada lonjakan wisatawan saat libur Lebaran. Berdasarkan data prediksi kunjungan wisata tahun 2026, Yogyakarta diperkirakan akan diserbu jutaan wisatawan yang berpotensi meningkatkan pendapatan kusir hingga dua kali lipat. Namun, masa-masa menunggu "panen" di akhir bulan Ramadan ini adalah fase yang paling krusial. Mereka harus memastikan kuda-kuda mereka tetap prima melalui pengecekan kesehatan rutin dan perawatan kereta di bengkel khusus andong. Ketangguhan mental para kusir dalam menghadapi ketidakpastian pendapatan selama puasa adalah cermin dari semangat "Manunggal Ing Karso", sebuah tekad bulat untuk tetap tegak berdiri meskipun badai ekonomi menerjang.

Pada akhirnya, lonceng andong di Malioboro adalah pengingat bahwa di balik setiap simbol pariwisata yang megah, ada peluh dan doa dari orang-orang kecil yang menjaganya. Ramadan 2026 ini memberikan pelajaran berharga tentang bagaimana wajah sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh keindahan arsitekturnya, tetapi oleh keberpihakan kita pada mereka yang setia merawat tradisi di tengah kerasnya aspal kehidupan. Para kusir andong adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang memastikan bahwa detak jantung kebudayaan Yogyakarta tetap berdenyut, mengalirkan memori dari masa kerajaan menuju masa depan yang penuh harapan. Selama langkah kuda masih terdengar di sepanjang Jalan Malioboro, maka selama itulah identitas Yogyakarta sebagai kota yang memuliakan sejarahnya akan tetap abadi.