Sekar Anindyah Lamase | Rie Kusuma
Ilustrasi anak yang bersedih (Gemini AI/Nano Banana)
Rie Kusuma

Ulat-ulat berdesing di gendang telinga Nunito. Suaranya merayap dari sel-sel otak lalu menyusup ke liang telinga. Mereka berkerumun, bergerak gelisah sambil memanggil Nunito berulang kali. Mereka bilang, bosan dengan pelajaran di kelas. Mereka mengajak Nunito pulang. Mereka ingin tidur di kamar Nunito yang berpendingin udara.

Tubuh-tubuh bulat ulat menggeliat. Resah. Nunito ikut menggeliat. Suara mereka kian gemerisik, seperti layar televisi yang bersemut di akhir acara. Nunito ingin sunyi. Nunito mau mereka diam.

Duk! Duk! Duk!

"Nunito! Berhenti membenturkan kepalamu ke meja atau Ibu terpaksa menghukummu lagi di depan kelas!"

Seisi kelas senyap mendengar teriakan Ibu Guru Sonya. Semua anak menoleh pada Nunito yang mencengkeram pinggiran meja, berusaha menahan agar tak kembali membenturkan kepala. Semua anak menahan napas. Menunggu.

Duk! Duk! Duk!

"Cukup! Nunito, ke depan kamu!"

***

Ibu Guru Sonya tidak tahu. Tak seorang pun tahu, kecuali aku. Ada ulat-ulat tinggal di kepalaku. Rasanya gatal dan geli. Mereka bergerombol seperti agar-agar. Ketika aku memiringkan kepala ke kiri, mereka ikut bergulir ke kiri. Kalau kutundukkan kepala, mereka tergelincir ke depan. Kalau aku diam, mereka yang bergerak, merayap, menjalari setiap sudut kepala.

Kadang mereka mematuki kepala dan menyebabkan gatal. Lalu aku akan membenturkan kepala ke meja, ke tembok, ke benda-benda apa saja untuk menghilangkan rasa itu. Atau aku menjambaki rambut supaya mereka berhenti menggigit.

Aku juga pernah menusuk-nusukkan sebatang pensil ke puncak kepala. Mereka sering berkerumun di sana. Seperti sore itu, ketika ubun-ubunku lebih gatal dari hari-hari kemarin. Aku menusuk dan terus menusuk.

Tusuk! Tusuk! Tusuk!

"Nunito! Kamu sudah gila, ya?!"

Aku menoleh kaget. Mama tahu-tahu sudah ada di kamarku. Mama merampas pensil dari tanganku. Matanya merah seperti ada api di dalam sana. Tapi, aku sudah terbiasa melihat mata seperti itu—mata Mama, mata Papa, juga mata Ibu Guru Sonya, setiap aku membenturkan kepala di ruang kelasnya.

"Berapa kali Mama bilang, kamu harus berhenti bertingkah aneh! Jangan sampai Mama dipanggil lagi ke sekolah gara-gara kelakuanmu."

Mama bertolak pinggang. Tubuh Mama menjulang di depanku. Aku tertarik pada api yang menari-nari di mata Mama.

"Kamu dengar tidak omongan Mama, Nunito?!"

Api itu menari-nari lebih liar. Warnanya merah. Lebih merah dari saus cabai yang pernah Mama jejalkan ke mulutku.

Plaakk!

Pipiku terasa pedas.

***

Nunito berdiri di depan gerbang sekolah. Sudah setengah jam dan Papa belum datang menjemput. Kakinya pegal. Tadi pun ia harus berdiri lama di depan kelas, karena menerima hukuman dari Ibu Guru Sonya.

Ulat-ulat dalam kepalanya bergemerisik. Mereka bilang, mereka kepanasan karena sengatan sinar matahari. Mereka meminta Nunito berdiri di tempat teduh. Kedua tangan Nunito mengepal. Ia kesal mendengar permintaan mereka.

Papa selalu menyuruh Nunito berdiri di depan gerbang. Kalau ia tak ada di sana, Papa akan langsung pergi. Nunito tak mau terpaksa pulang dengan berjalan kaki, menempuh jarak yang jauh di antara rasa lapar dan haus. Ulat-ulat kembali berisik. Nunito mulai meninju-ninju sisi kepalanya. Kiri kanan. Berulang-ulang. Biar ulat-ulat diam.

Tinju! Tinju! Tinju!

Ulat-ulat masih bersuara. Mereka menolak diam. Mereka bilang, matahari sudah menjerang tubuh mereka sampai hitam. Nunito semakin keras meninju.

Tiinn … Tiiinn!

Papa datang. Mobilnya berhenti tepat di depan Nunito. Papa menurunkan kaca jendela. Ulat-ulat dalam kepala bersorak. Sebentar lagi AC mobil akan menyejukkan mereka. Nunito menjambaki rambut. Telinganya kembali berdesing oleh seruan mereka.

"Masuk, cepat!"

Nunito membuka pintu penumpang. Ia duduk di samping Papa yang langsung menjewer telinganya kuat-kuat. Nunito meringis. Ulat-ulat bergulir ke kanan, mengikuti arah kepala Nunito yang ikut tertarik karena jeweran Papa.

"Ngapain kamu mukul-mukul kepala kayak tadi? Macam anak nggak waras aja kamu!"

Papa mendelik. Api di mata Papa merah seperti magma. Jika mobil di belakang tidak mengklakson dengan tak sabar, pasti magma tadi sudah luber dari mata Papa. Untunglah Papa harus buru-buru melajukan mobilnya.

Namun, Papa tak lupa dengan pertanyaan tadi. Papa membentak supaya Nunito menjawab. Tapi, Nunito hanya menggeleng-geleng. Ulat-ulat dalam kepala Nunito ikut berpindah tempat, kiri-kanan dengan cepat. Namun, kini mereka sudah lebih tenang. Suara-suara mereka mulai redup, kian lama kian sayup.

"Papa nggak mau kamu begitu lagi, ya! Masih untung sekolahan kamu sudah sepi. Jadi, nggak ada yang merhatiin kelakuanmu. Awas, kalau sampai sekali lagi begitu!"

Papa melirik tajam, lalu kembali menatap jalanan padat di depannya. Nunito mengangguk sekali. Ulat-ulat bergulir ke depan, tertahan sebentar di ujung dahi, sebelum kembali mengikuti arah kepala Nunito yang bersandar ke punggung kursi.

***

Ulat-ulat sudah tidur. Mereka langsung mendengkur begitu aku merebahkan diri di ranjang. Tapi, aku belum bisa terlelap seperti mereka. Suara-suara teriakan Mama-Papa di luar kamar masih nyaring terdengar, padahal ini hampir tengah malam. Lagi-lagi penyebabnya karena aku. Sebentar tadi aku mendengar Papa mengatai Mama, bodoh! Tak becus mengurus anak.

Mama membalas. Mama bilang, Papa selalu sibuk dengan proyek-proyek kantor. Papa tidak pernah mau tahu tumbuh kembangku. Semua diserahkan pada Mama dan Mama bilang itu tidak adil. Aku sudah sepuluh tahun dan tak sekalipun Papa pernah membantuku mengerjakan peer.

Tiba-tiba aku teringat saat usiaku hampir enam tahun, Mama baru mulai mengajariku membaca. Setiap kali salah, Mama akan mencubit kuat-kuat.

"Itu A-BA. Bukan A-DA, Nunito!"

Jari-jari Mama memutar di lenganku. Aku meringis.

"Jangan nangis!"

Cubitan Mama mengendor sedikit. Lalu sebelah tangannya menunjuk buku di depanku.

"Baca lagi!"

"Aa … da."

Puntiran jari Mama kembali mengencang.

Malam harinya, Mama akan mengadukan segala hal tentang aku pada Papa. Lalu Papa akan gantian mengomeliku. Mengapa aku begitu sulit membaca. Mengapa aku begitu kikuk hingga sering sekali jatuh. Kenapa aku mandi terlalu lama. Kenapa pot bunga Mama sampai pecah. Dan lain-lain. Dan banyak lagi.

Awalnya, Papa hanya mengomel. Lama-kelamaan, ketika laporan Mama semakin banyak, tangan Papa mulai menampar, mendorong, menjambak. Kaki Papa tak ketinggalan. Beberapa kali Papa menendangku. Sampai pernah suatu kali, aku terrguling-guling jatuh dari tangga karena tendangan Papa.

Setelah itu aku tak ingat apa-apa. Tapi, saat aku membuka mata, aku sudah ada di kamar serba putih.

"Jangan mengadu pada dokter, kenapa kamu sampai jatuh dari tangga."

Papa langsung berbisik begitu tahu aku sudah terjaga. Di sisi lain ranjang, Mama menatap mengancam. Aku ingat, itulah awalnya ulat-ulat datang dan membuat sarang di kepalaku.

***

"Nunito tidak bisa berkonsentrasi pada pelajarannya. Dia selalu melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya, Bu. Saya khawatir jika terus berkelanjutan dan tidak ditangani dengan baik, akan terus mempengaruhi perkembangan jiwanya."

Mama Nunito keluar dari ruang guru dengan muka ditekuk. Lenyap sudah senyuman manis yang baru saja ia berikan pada Ibu Guru Sonya saat pamit pulang.

Awas, kamu Nunito! Tunggu saja sampai kita di rumah.

Mama mendelik pada Nunito yang berdiri menunggu di luar ruang guru, sambil membentur-benturkan kepala ke tembok di belakangnya. Namun, gerakan itu terhenti saat Nunito melihat tatapan tajam Mama ke arahnya.

Ulat-ulat menggeliat. Nunito ikut menggeliat. Mama menarik kasar lengan Nunito, sepanjang mereka menyusuri koridor sekolah menuju parkiran. Papa sudah menanti mereka dalam mobil. Nunito tersaruk-saruk mengikuti langkah Mama yang panjang-panjang dan cepat. Ibu Guru Sonya, yang baru saja keluar dari ruangan, menatap pemandangan tersebut sambil menggeleng-geleng.

***

"Kamu yang dulu ingin lekas-lekas punya anak, padahal aku belum siap! Sekarang kamu dengan entengnya melempar kesalahan padaku!"

"Karena kamu ibunya! Harusnya kamu tahu bagaimana mendidik anak. Aku, kan, sudah lelah mencari nafkah untuk kita semua!"

Duk! Duk! Duk!

"Mendidik anak itu tanggung jawab bersama. Bukan tugasku saja. Semua ini tak akan terjadi kalau kita tidak cepat-cepat punya anak!"

"Salahkan saja anakmu kalau begitu. Kenapa dia lahir dan menyusahkan!"

Duk!

"Berhenti, Nunito!"

Mama-Papa berteriak hampir berbarengan. Tapi, ulat-ulat dalam kepala melarangku diam. Sudah cukup aku selalu diam, kata mereka.

Ulat-ulat bergemerisik. Mama mendekatiku. Tanganku menyentuh asbak saat beringsut menjauhi Mama. Ulat-ulat menyuruhku melemparkan asbak itu. Suara mereka begitu bising. Aku ikuti permintaan mereka, demi melihat api menyala-nyala di mata Mama.

"Aduh!"

Mama memegang kening. Darah mengalir. Warnanya merah.

"Dasar anak berengsek! Berani kamu begitu sama Mama!"

Api di mata Papa mencuat. Mereka mulai keluar dari celah mata Papa. Ulat-ulat menyuruhku lari. Aku memutar badan. Berlari sempoyongan dengan tubuhku yang besar. Kata Mama, aku terlalu gendut. Terlalu banyak makan. Mama tidak tahu saja, aku harus memberi makan ulat-ulat.

"Mau ke mana kamu, heh!"

Teriakan Papa begitu pekak bercampur riuh ulat-ulat yang menyemangatiku. Aku tidak tahu harus ke mana. Jadi, aku lari ke arah terdekat lalu mengunci pintunya cepat-cepat.

"Nunito!"

Papa menggedor-gedor pintu. Ulat-ulat bergemerisik begitu berisik. Aku menjambaki rambut kuat-kuat.

Diam! Diam! Diam!

***

Senja sudah lama beranjak, berganti genangan malam yang menanjak pelan-pelan. Suara sirine ambulan yang tiba di ujung jalan, hanya menyisakan sayup. Tak lagi memekakkan seperti beberapa waktu lalu, yang sanggup mengalahkan isak tangis Mama.

Papa berhasil mendobrak pintu yang dikunci anaknya. Nunito tergeletak di sudut bak mandi dengan kepala bersimbah darah. Tubuh Nunito yang tak lagi bernyawa diusung ke dalam ambulan. Sang mama menyusup masuk sebelum pintu ambulan ditutup. Papa menyusul setelah memberikan keterangan.

Kamar mandi masih menguarkan bau amis. Ulat-ulat menggeliat di genangan darah. Bergemerisik. Berbisik.

Darah. Darah. Darah.