M. Reza Sulaiman | Ryan Farizzal
Ilustrasi foto Hotel Kelas Melati (Gemini/Nano Banana)
Ryan Farizzal

Pukul dua belas siang, matahari Surabaya seperti lidah naga yang menjilat aspal jalanan. Panasnya bukan sekadar suhu, tapi sesuatu yang hidup, yang merayap masuk ke pori-pori kulit dan membuat keringat terasa seperti air garam dari lautan yang sudah mati. Aku berdiri di depan Hotel Kelas Melati, sebuah penginapan tiga lantai di pinggir Jalan Raya Semut yang sudah uzur sejak zaman Belanda. Namanya “Kelas Melati” bukan karena mewah, tapi karena setiap kamarnya selalu wangi melati palsu yang digantung di kepala tempat tidur—bau murahan yang entah kenapa selalu membuatku mual sekaligus tenang.

Aku masuk ke lobi yang remang-remang. AC-nya sudah tua, bunyinya seperti orang tua yang sesak napas. Di belakang meja resepsionis, seorang perempuan tua bernama Mbok Siti tersenyum tipis. Matanya seperti dua keping koin logam yang sudah aus.

“Biasa, Mas? Kamar 207?” tanyanya tanpa perlu lihat buku tamu.

Aku mengangguk. Sudah tiga bulan ini, setiap Minggu siang aku datang ke sini. Bukan untuk tidur siang, bukan untuk selingkuh, bukan pula untuk bunuh diri pelan-pelan dengan minum-minum. Aku datang karena hotel ini adalah satu-satunya tempat di dunia di mana waktu bisa dibengkokkan.

Kamar 207 berada di ujung koridor lantai dua. Pintunya berwarna hijau pudar, catnya mengelupas seperti kulit ular yang sedang ganti kulit. Begitu aku memutar kunci, udara di dalam langsung menyambutku dengan dingin yang aneh—bukan dingin AC, tapi dingin seperti udara di dalam gua purba. Aku menutup pintu, melepas sepatu, lalu berbaring di tempat tidur yang sudah cekung di tengahnya.

Aku menutup mata.

Dan dunia berubah.

Bukan mimpi. Bukan halusinasi. Ini adalah retakan kecil di kain realitas yang hanya muncul setiap Minggu siang, tepat antara pukul 12.07 sampai 14.59. Hanya di kamar 207 Hotel Kelas Melati.

Awalnya hanya suara. Gemericik air yang tak ada pancurannya. Lalu bau tanah basah setelah hujan deras, padahal di luar jendela langit masih biru membara. Kemudian, dinding kamar mulai bernapas. Ya, benar-benar bernapas—naik turun pelan seperti dada makhluk hidup yang sedang tidur.

Hari ini, retakan itu lebih lebar.

Aku membuka mata dan melihat langit-langit kamar berubah menjadi kanopi hutan. Daun-daun lebar bergoyang pelan meski tak ada angin. Cahaya hijau keemasan menyusup dari celah-celah dedaunan, membentuk pola-pola yang seperti huruf-huruf kuno. Aku duduk. Tubuhku masih memakai kaus oblong dan celana pendek yang sama, tapi kaki telanjangku kini menginjak lumut yang lembut dan hangat.

Di sudut kamar, di mana biasanya ada meja kecil dengan termos air panas, sekarang berdiri sebuah pohon kecil dengan batang perak mengkilap. Buah-buahnya berbentuk bola kaca, di dalamnya berputar gambar-gambar kecil: wajah ibuku yang sudah meninggal tersenyum, adikku yang hilang saat banjir tahun 2014 sedang tertawa di perahu karet, dan diriku sendiri saat masih kecil sedang memegang layangan yang putus talinya.

Aku bangkit. Lumut di lantai ikut bergerak mengikuti langkahku, seperti karpet hidup yang ingin menemani.

“Siapa yang datang hari ini?” tanyaku pelan ke udara.

Dari balik pohon perak itu muncul seorang anak perempuan. Usianya tak lebih dari sepuluh tahun. Rambutnya hitam panjang, tapi ujung-ujungnya berubah menjadi uap putih yang terus naik ke langit-langit hutan. Matanya dua warna: satu hitam pekat, satu putih susu seperti bulan purnama.

“Kau selalu bertanya hal yang sama, Bang,” katanya dengan suara yang seperti campuran angin dan lonceng kecil. “Aku adalah yang tersisa dari keinginan-keinginanmu yang tak pernah kauucapkan.”

Aku tersenyum pahit. “Hari ini aku ingin melihat laut yang tak pernah ada.”

Anak itu mengangguk. Ia mengulurkan tangan kecilnya. Begitu jari kami bersentuhan, dinding kamar 207 lenyap sepenuhnya. Kami berdiri di tepi tebing karang yang curam. Di bawah sana, bukan laut biasa, tapi lautan yang terbuat dari kenangan. Gelombangnya naik turun membawa potongan-potongan hidupku: sepeda ontel merah yang hilang saat kelas 3 SD, aroma masakan rendang ibu setiap Lebaran, suara tawa ayah sebelum ia kecanduan judi, dan wajah perempuan yang pernah kucintai tapi kulepaskan karena takut menjadi ayah yang buruk.

Aku berlutut di pinggir tebing. Angin laut kenangan itu membawa bau garam dan nostalgia yang menyakitkan sekaligus manis.

“Kenapa aku selalu kembali ke sini?” tanyaku tanpa menoleh.

“Karena di luar sana, waktu hanya berjalan satu arah,” jawab anak itu sambil duduk di sampingku. “Di sini, waktu adalah kain yang bisa kau lipat, kau sobek, kau jahit kembali. Tapi ingat, Bang… setiap kali kau melipatnya, ada bagian yang hilang selamanya.”

Aku mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ombak yang membawa wajah ibuku. Tapi jari-jari hanya menembus seperti asap. Air mata jatuh tanpa suara. Di dunia nyata, aku tak pernah menangis. Di sini, air mataku jatuh ke lautan dan berubah menjadi ikan-ikan kecil berwarna perak yang langsung berenang menjauh, membawa sedihku pergi.

Tiba-tiba langit di atas kami retak. Suara Mbok Siti terdengar samar-samar dari dunia luar: “Mas… sudah jam tiga kurang sepuluh. Sebentar lagi tutup.”

Anak berambut uap itu berdiri. “Waktunya pulang. Tapi kali ini aku kasih hadiah.”

Ia meniup telapak tangannya. Dari telapak itu lahir seekor burung kecil berbulu emas. Burung itu terbang mengelilingi kepalaku tiga kali, lalu masuk ke dadaku melalui tulang rusuk sebelah kiri. Rasanya hangat, seperti ada sepotong matahari kecil yang menetap di sana.

“Kau tak boleh mati dulu,” bisiknya sebelum tubuhnya mulai menguap menjadi kabut melati. “Karena di luar sana, masih ada satu kenangan yang belum kau lipat. Yang ini harus kau hadapi dengan kaki sendiri.”

Dunia hutan, tebing, dan lautan kenangan lenyap dalam sekejap.

Aku kembali terbaring di tempat tidur kamar 207 yang pengap. AC tua kembali berbunyi sesak. Bau melati palsu menusuk hidung. Jam dinding menunjukkan pukul 14.58.

Aku duduk, tangan kananku tanpa sadar memegang dada kiri. Di dalam sana, ada denyut kecil yang baru. Bukan jantung. Bukan pula harapan. Tapi sesuatu yang lebih sederhana dan lebih berat: tanggung jawab untuk tetap hidup meski dunia nyata tak pernah semanis retakan di kamar hotel kelas melati ini.

Aku bangkit, memakai sepatu, lalu keluar. Di lobi, Mbok Siti menyerahkan kunci sambil tersenyum tipis seperti biasa.

“Besok Minggu lagi, Mas?”

Aku menggeleng pelan. “Mungkin tidak. Atau mungkin ya. Tapi kali ini… aku bawa pulang sedikit dari dalam.”

Mbok Siti hanya mengangguk, seolah ia sudah tahu sejak lama bahwa kamar 207 bukan sekadar kamar, melainkan lubang kecil menuju bagian diri kita yang paling takut kita lihat—dan paling kita rindukan.

Aku melangkah keluar hotel. Matahari Surabaya masih membakar, tapi di dada kiriku, ada burung emas kecil yang baru saja belajar bernyanyi. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tersenyum pada panas siang yang menyengat itu.

Karena aku tahu, di suatu tempat di antara pukul dua belas dan tiga sore setiap Minggu, dunia masih mau membiarkan kita menjadi anak kecil lagi—meski hanya selama dua jam tiga menit.

Dan itu, kurasa itu sudah cukup.