M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
ilustrasi kastel dan menara (Unsplash/J M Fisher)
Tika Maya Sari

“Kejar dia!”

Aku semakin mempercepat laju lari kala mendengar hentakan dari belakang. Entah sudah ada berapa orang yang mengejar, tapi langkah-langkah kaki terdengar semakin ramai.

“Dia menuju atap gedung!” pekik salah satu dari mereka. Suaranya seperti seorang lelaki. “Jangan lambat! Dia hanya sendirian.”

Tidak kupedulikan rasa lelah dan berat di kaki. Pokoknya aku harus kabur dari kejaran orang-orang itu. Sambil menggerutu, kuangkat rok panjang untuk kembali berlari dengan kaki telanjang. Entah ke mana perginya sepasang sandal jepit tadi; kemungkinan besar terbuang atau putus.

“Kenapa tangganya nggak habis-habis sih?” gumamku mengeluh. Masalahnya, sejak tadi aku terus melewati anak-anak tangga yang jumlahnya tak terhitung. Namun, atap gedung belum juga terlihat.

Gedung ini sendiri cukup tinggi, memiliki puluhan lantai serta sebuah menara. Desainnya mirip dengan kastil era Victoria, dengan sebuah menara menjulang yang memiliki puncak datar. Aku tidak yakin apakah lokasi ini adalah peninggalan abad lampau, atau apakah letaknya tidak terjamah peradaban modern; sebab, tidak ada lift atau minimal kabel dan lampu penerangan. Gelap gulita, dengan beberapa obor di tepian tembok lembap.

Yang paling aneh, gedung ini seakan dibangun tanpa makna. Tidak ada ruangan-ruangan atau ballroom untuk pesta. Isinya penuh anak-anak tangga yang mengarah ke atap.

“Orang gila mana yang ngide ngebangun gedung beginian?” Aku berhenti sejenak, mengambil napas. “Ah, sontoloyo!”

Hampir saja nyawaku tamat kala sebuah peluru mengenai dinding di samping wajahku.

“Kejar! Dia mungkin tertembak!”

Kembali kuseret langkah menapaki anak tangga. Tentu sesekali merasa ngeri tatkala melongok ke bawah yang terlihat gelap sekali. “Ayo kejar! Kalian dengar kan kalau napasnya sudah ngos-ngosan?!”

Aku tersenyum ngeri. Iya, napasmu sudah ngos-ngosan dan rasa lelah sudah merambat ke mana-mana. Lagipula, mereka ini siapa sebetulnya?!

Aku terus menyeret kaki, hingga secercah cahaya purnama terlihat. Segera aku memasuki pintu bergaya horizontal itu, kemudian menguncinya dari luar. Saat melihat ada tumpukan batu bata, benda itu kutumpuk di atas pintu.

“Oke, selamat!”

Aku berbaring kelelahan, sembari melihat pemandangan purnama terang bertabur bintang. Masa bodoh dengan pekikan, teriakan, dan dobrakan dari arah pintu. Hingga kemudian, suara orang-orang menghilang.

“Kau suka pemandangannya?”

Kulirik seorang lelaki berjaket hitam yang duduk di sampingku. Nada suaranya santai, tapi aku sudah terlalu kelelahan untuk menyahut.

“Jangan risau. Orang-orang tadi sudah beres.” “Maksudmu?” Lelaki itu terkekeh renyah. “Mati.” “Sepertinya, aku bertemu psikopat,” kataku lirih. “Friska, menurutmu lebih mengerikan bertemu psikopat atau ‘pikiran’ bertemu psikopat?”

Aku diam. Bukan karena memikirkan jawaban, melainkan karena sadar bahwa lelaki ini terlihat familiar. Entah mengapa, terang purnama tidak mencapai wajahnya.

“Tidak masalah. Toh begitu kau keluar dari sini, semuanya akan berbeda,” ucapnya kemudian bangkit. “Mau melihat purnama lebih dekat? Ayo kita ke menara.” “Matamu picek ya? Aku kelelahan!” semburku emosi.

Lelaki itu malah tergelak. Dia lalu meraih tanganku dan memaksaku mengikuti langkahnya yang lebar.

“Pulang-pulang, sepertinya aku musti ke tukang urut!”

Dia tidak menanggapi, kecuali bersenandung lirih. Kami kemudian berjalan melewati lorong pendek sebelum sampai ke menara yang dimaksud. Lalu, lelaki ini kembali menyeretku melintasi puluhan anak tangga hingga sampailah kami di puncak atap menara.

“Untung saja ini malam. Kalau siang hari, kupastikan kau menjerit-jerit ketakutan,” ucapnya jahil.

Aku mendengkus. Meski ini gelap dan hanya mengandalkan cahaya purnama, aku tahu bahwa menara ini pasti sangat tinggi. Udara di sini begitu dingin, dan sedikit merinding. Tapi lelaki itu benar; purnama terlihat lebih dekat dan cantik dari atas sini. Pun penampakan jembatan besar dengan beberapa obor menyala terlihat mengesankan meski dari kejauhan.

“Tinggal ditembak di kepala saja, dia pasti langsung mati.”

Aku seketika menoleh dengan napas tertahan sewaktu mendapati ada dua orang perempuan muda yang memegang senjata laras panjang. Rambut bergelombang mereka tertiup sepoi angin, dan siap mengokang senjata.

“Kenapa tidak kita dorong ke bawah saja?” tanya perempuan bersyal putih. “Tidak perlu menembaknya.” “Tuan meminta kita menembaknya agar tewas,” sahut yang satunya.

Rasa panik menjalari tubuhku. Sedangkan lelaki di sebelahku malah terdengar bersenandung santai. Dia ini ada di pihak siapa sih?!

“Kamu masih bisa bersenandung?” geramku tertahan. “Mereka membawa senjata.”

Dia berdecak. “Jangan terlalu panik begitu.”

Aku menyikut perutnya saat kurasakan dia memelukku dari belakang. Ayolah! Ini situasi genting, bukannya momentum bermesraan. Lagipula, orang ini siapa juga?!

Lelaki itu sempat berbisik di telingaku, membisikkan sebaris kalimat dalam bahasa yang tidak kumengerti. Bukan bahasa Jawa, Indonesia, atau bahasa Inggris. Bukan pula bahasa Korea, Mandarin, maupun Jepang. Meski aku tidak fasih, tetapi efek menonton drama dan anime tentu memberikan satu atau dua kata yang bisa dijadikan kunci. Namun, nihil.

Setelahnya, lelaki itu mundur selangkah dan membiarkanku mendekati dua perempuan tadi. Dengan logika yang tidak berjalan, kuraih senjata laras panjang si syal putih dan membengkokkannya seperti atraksi sulap. Seketika, peluru yang seharusnya mengenaiku justru mengenai kawannya. Alhasil, kawannya tergeletak tanpa gerakan. Mungkin mati, karena aroma anyir darah menguar pekat.

“Maju!” tantangku kepada si syal putih. Namun, perempuan itu malah melemparkan senjatanya kemudian kabur.

That’s my girl, that’s my girl, that’s my girl…” senandung lelaki itu. Dia kemudian mendekat dan memelukku dari belakang. Bersamaan dengan aroma lembut rerumputan dan musim semi menguar yang sulit dijelaskan. “Siap untuk pulang?”

“Kita harus lewat anak-anak tangga yang tadi?” “Tidak perlu,” katanya sebelum mengajakku melompat dari menara.

Gendeeengg!!!” pekikku berbaur dengan angin kencang sambil memejamkan mata, sementara kudengar dia terbahak-bahak.

Hingga dering alarm terdengar nyaring….