Fajar baru saja menyingsing ketika Hasan sudah harus bergelut dengan dinginnya air wudhu. Sebagai imam tetap di masjid kecil pemukiman padat itu, ia tidak punya kemewahan untuk bangun kesiangan. Setelah salam terakhir, ia tidak langsung pulang. Hasan melipat sajadah, merapikan mukena-mukena yang berantakan, dan memastikan lantai masjid bersih dari debu aspal yang terbawa angin malam.
Pekerjaannya sebagai imam masjid di sana tidak bergaji besar; hanya cukup untuk membayar listrik kontrakan satu petak dan sedikit uang saku untuk adiknya, Ali. Maka, selepas subuh, jubah imamnya berganti dengan kaus oblong lusuh dan rompi oranye. Hasan adalah tukang parkir di pasar pagi yang letaknya tak jauh dari masjid.
"Ali, bangun! Sarapannya sudah di atas meja. Jangan telat sekolah, bulan ini kamu sudah dua kali ditegur guru piket," teriak Hasan sambil mengenakan sepatu botnya yang sudah jebol di bagian samping.
Ali, yang baru duduk di kelas dua SMA, hanya bergumam dari balik sarung. Ia bangun dengan mata merah. Ali tahu kakaknya bekerja keras, tapi ia juga lelah karena setiap malam harus membantu mencuci motor di bengkel samping kontrakan hingga jam sebelas malam agar bisa membeli buku paket.
"Kak, sepatu Ali sudah tidak bisa dilem lagi," ucap Ali sambil menunjukkan alas sepatunya yang sudah lepas sepenuhnya.
Hasan terdiam sejenak. Ia meraba saku celananya. Hanya ada selembar uang dua puluh ribu dan beberapa koin hasil parkir kemarin sore. "Pakai sepatu Kakak yang di rak hitam dulu. Besok kalau uang parkiran ramai karena hari Sabtu, kita cari di pasar loak."
Ali menghela napas, tapi ia mengangguk. Ia tahu tidak ada gunanya mengeluh.
Di pasar, hidup Hasan jauh dari kata suci seperti saat ia berdiri di mihrab. Di sini, ia harus berteriak, meniup peluit hingga dadanya sesak, dan terkadang berdebat dengan sopir angkot yang keras kepala. Panas matahari menghantam kulitnya yang legam. Tidak ada yang tahu bahwa pria yang berteriak-teriak mengatur posisi motor ini adalah orang yang sama yang suaranya begitu merdu saat membacakan surat Ar-Rahman beberapa jam lalu.
Siang hari, saat istirahat parkir, Hasan kembali ke masjid. Ia mandi, berganti pakaian bersih, lalu bersiap mengimami salat Zuhur. Di sinilah letak perjuangan batinnya. Terkadang, ia merasa malu pada Tuhan. Tangan yang tadi baru saja menerima uang kotor dan bersentuhan dengan aspal, kini harus diangkat dalam takbiratul ihram. Namun, Pak Haji Anwar, ketua pengurus masjid, selalu mengingatkannya.
"San, ibadah itu bukan cuma di atas sajadah. Peluitmu itu juga ibadah kalau niatnya buat cari nafkah halal untuk adikmu," kata Pak Haji suatu kali saat melihat Hasan tampak kelelahan.
****
Sore itu, masalah datang. Ali pulang dengan wajah lebam. Ia berkelahi di sekolah karena dituduh mencuri uang kas kelas. Padahal, Ali hanya sedang memegang dompet temannya yang tertinggal untuk dikembalikan, namun teman-temannya langsung menuduhnya.
Hasan yang baru pulang dari pasar merasa jantungnya mau copot. "Kenapa kamu berantem, Li? Kakak susah payah jaga nama baik di masjid ini, kamu malah buat malu!"
Ali meledak. "Nama baik siapa, Kak? Nama baik Kakak sebagai imam? Ali capek dianggap suci di masjid tapi dihina di sekolah! Ali kerja di bengkel tiap malam supaya kita bisa makan enak sekali-sekali, tapi tetap saja dibilang maling!"
Hasan tertegun. Ia tidak tahu kalau adiknya sedalam itu menyimpan luka. Selama ini ia terlalu fokus memberikan nasihat agama hingga lupa menanyakan apa yang Ali rasakan sebagai remaja di tengah kemiskinan.
Malam itu, saat azan Isya berkumandang, Ali tidak datang ke masjid. Hasan mengimami salat dengan hati yang tidak tenang. Suaranya bergetar saat membaca ayat. Setelah salat, ia tidak langsung pulang. Ia duduk di teras masjid, menunggu sepi.
Tiba-tiba, ia melihat Ali berdiri di gerbang masjid, ragu untuk masuk. Hasan menghampirinya. Tidak ada kata-kata puitis. Hasan hanya merangkul bahu adiknya yang lebih tinggi darinya.
"Sepatu itu... besok kita beli yang baru. Kakak ada simpanan sedikit dari uang kas masjid yang Pak Haji kasih sebagai bonus tadi sore," dusta Hasan. Padahal itu adalah uang makannya untuk tiga hari ke depan yang ia relakan.
"Ali tidak maling, Kak," ucap Ali lirih.
"Kakak tahu. Kamu adik Kakak. Kakak yang tahu siapa kamu."
Ali akhirnya masuk ke masjid. Ia mengambil posisi di saf belakang imam, tempat biasa ia berada. Hasan kembali ke depan, berdiri di mihrab sebagai pemimpin. Di ruang kecil itu, di bawah lampu neon yang berkedip-kedip, kedua bersaudara itu menemukan kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh hiruk-pikuk pasar atau kejamnya ejekan sekolah.
Bagi Hasan, menjadi imam bukan soal dihormati orang banyak. Menjadi imam adalah tentang bagaimana ia tetap berdiri tegak di depan adiknya. Hasan menunjukkan bahwa sekeras apa pun aspal menghantam impian mereka, Tuhan tidak pernah pindah dari tempat-Nya. Perjuangan mereka masih panjang; esok peluit parkir akan kembali berbunyi, dan sajadah akan kembali dibentangkan. Dan bagi mereka, itu sudah lebih dari cukup.
Baca Juga
-
Sisi Manusiawi Kartini: Melampaui Mitos dalam Buku Gelap-Terang Hidupnya
-
Refleksi dari Buku Yuk, Husnuzhan!: Mengubah Hidup dengan Pikiran Positif
-
Menghargai Perbedaan dari Kisah Sophie dan Andjana dalam Novel Titik Temu
-
Mencari Keseimbangan dalam Beragama Lewat Buku Islam Desa dan Islam Kota
-
Alamat Terakhir: Pintu Maaf di Bulan Suci
Artikel Terkait
-
Jisoo BLACKPINK Tak Ingin Dikaitkan Kasus Sang Kakak, Agensi Buka Suara
-
Jisoo BLACKPINK Terseret Kasus KDRT Kakak, Agensi Tegaskan Tak Ada Kaitannya
-
Meresapi Kehidupan Lewat Kisah Sederhana dalam Buku Menjemput Pelangi
-
Ulasan Film 1 Kakak 7 Ponakan: Menyentuh Hati dengan Kisah Keluarga Hangat!
-
Jisoo BLACPINK Disalahkan, 'Kakak Ipar' Ngaku Tak Tahu Kalau Nikah dengan Keluarga Artis
Cerita-fiksi
Terkini
-
Ngantor Makin Modis dengan 4 Ide OOTD Office Look ala IU yang Bisa Ditiru!
-
Buku Aku Bukan Kamu: Tak Perlu Menjadi Siapa-Siapa, Cukup Jadi Diri Sendiri
-
Mino WINNER Dituntut 1,5 Tahun Penjara atas Pelanggaran Wajib Militer
-
Lagi Panas? Cek 4 Face Mist Cooling untuk Kembalikan Kesegaran Wajahmu!
-
SagaraS: Jawaban di Balik Kotak Hitam dan Muara Segala Obsesi Tuan Muda Ali