M. Reza Sulaiman | Athar Farha
Ilustrasi Selepas Nadir Terukur (Athar Farha)
Athar Farha

Kala itu, langit senja terselubung awan tipis. Cahaya jingga jatuh lembut di antara gedung logam dan memantul di kaca yang hangat. Di atas gedung, drone kecil melintas rapi membawa paket makanan sintetis; di bawahnya, jalanan panel surya menyerap langkah penduduk kota menjadi energi. Mereka berjalan tanpa banyak bicara, beberapa matanya memantulkan data dari lensa kontak digital yang menayangkan jadwal, tagihan, dan perintah kerja. Jari-jari mereka bergerak pelan di udara, menggeser panel maya yang hanya bisa dilihat sendiri. 

Di antara mereka, ada perempuan berjalan pelan. Rambutnya panjang bergelombang setengah punggung, tergerai seadanya, sedikit tersibak angin yang menyingkap sisi leher lalu jatuh lagi. Tatapannya teduh. Dia baru saja melepas lensa kontak digital dari matanya. Langkahnya berhenti di depan gedung putih keperakan berlogo lingkaran biru di pintu utama: Gedung Pusat Hening Raya. Tempatnya manusia datang bukan untuk sembuh dari penyakit, melainkan ruang berhenti menjadi sosok yang dituntut ‘dunia’. Sekilas, pantulan wajahnya muncul di permukaan logo, lalu mengabur. Begitu kakinya melangkah, pintu logam itu terbuka. Sebaris cahaya putih menyambutnya, lantas dia masuk.

Di dalam, udara dingin menyelimuti lorong sunyi. Di aula utama, ratusan kapsul kaca terbaring, menyimpan manusia yang diprogram tidur seratus tahun untuk istirahat dari beban hidup. Dia terus melangkah mendekati lift silinder keemasan berpanel holografik dengan sistem pembaca pikiran manusia. Dia pun berdiri di depan lift, lantas pintu lift terbuka sendiri. Dia segera masuk dan sistem langsung mendeteksi tujuannya. Lift melesat dan terbuka di lantai 99. Dia lekas menuju ruangan tujuan. 

Langkahnya terhenti di depan pintu logam hitam. Dia pun masuk. Di dalam begitu hangat dan diterangi cahaya keemasan yang memantul di dinding. Meja dan kursi futuristik menanti di tengah. Di antara meja dan kursi, berdiri sosok yang dia kenal.

“Selamat datang kembali, Aya. Senang melihatmu lagi di dalam.” Suara mekanik setengah natural itu memancing perhatiannya.

Aya tersenyum, menatap Nir, android berkulit sintetis yang fleksibel. Matanya nyala biru dan geraknya lembut. Di mata Aya, Nir tidak tampak seperti mesin.

Aya melangkah ke kursi futuristik itu. Bantalan sintetisnya lentur, mengikuti bentuk tubuhnya, hangat saat disentuh. Di depannya, Nir berdiri. 

Sesi pendampingan mental ke-17 dimulai. Rutin hariannya ialah memeriksa ritme napas, suhu tubuh, gestur, dan ekspresi. Semua diubah menjadi angka ke pusat pemantauan. Sensor di mata Nir bergetar tipis saat membaca data itu. 

“Sistem sudah menilai. Emosi Pasien Stabil,” kata Nir. 

Padahal Aya tahu, tidak ada yang stabil di dalam dirinya. Hanya jeda. 

Nir mendekat selangkah. “Apa yang kamu rasakan hari ini, Aya? Soal ‘tenang’, masih terdengar asing bagimu?”

Aya menghela napas, sementara jari-jarinya mengetuk perlahan di lengan kursi. “Aku nggak yakin apa itu ‘tenang’, Nir. Kadang aku pikir aku sudah tenang, tapi pikiranku masih berperang.”

Sejenak, Nir diam, sensor matanya tetap menangkap setiap fluktuasi.

Aya menatap Nir, separuh geli. “Lucu, ya? Dunia ini sibuk memastikan semua hal bisa diukur, tapi malah kehilangan makna dari hal yang nggak bisa dihitung. Orang terus menilai, memverifikasi, mencatat, tapi lupa untuk benar-benar merasa.”

Nir tampak menimbang kata-kata itu. Suaranya terdengar hampir seperti manusia saat akhirnya berkata, “Mungkin itu sebabnya kamu masih bertahan. Karena kamu belum berhenti merasakan, walau sistem menyebutmu ‘tidak stabil’. Ketidakpastianmu itu … itulah sisi paling manusia dari dirimu.”

Aya menatapnya lebih lama. Ada sesuatu yang hangat dan asing dalam kata-katanya itu. Mereka diam beberapa saat, membiarkan kata-kata itu tenggelam di udara hangat ruangan. Sesi hari itu berlanjut perlahan, meliputi curhat panjang yang menumpuk di dada Aya, lalu lanjut sesi pemulihan diri. 

Sekian jam kemudian, cahaya ruangan perlahan memudar, digantikan bayangan biru, yang menandakan matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Sekian menit kemudian sesi berakhir. Aya bangkit, dan Nir mengikutinya berjalan menuju lift. Namun belum sampai lift, pandangannya terpaku pada dinding kaca sisi utara. Ada dorongan aneh. 

Aya mendekat, berdiri di depan dinding itu. Seketika panel kaca terbuka selebar telapak tangan, menyesuaikan dan membentuk sesuai dengan ‘keinginan di dalam pikirannya’. Di luar, tampak lampu holografik di jalanan. Matanya menatap jauh, membiarkan kenangan ibunya menyelip di pikirannya.

“Nak, kalau kamu lelah, menepilah sebentar. Biar dunia jalan sendiri. Jangan terus-terusan dipikirkan.” Begitulah ingatan Aya bersama ibunya.

Aya menarik napas panjang, lalu menatap Nir. Ada keyakinan sekaligus getir di wajahnya. “Aku ingin izin keluar jaringan selama … mungkin hitungan hari buat keluar dari kota ini.”

Nir menatapnya lama. “Kamu sadar, permintaan itu akan dianggap anomali.”

Aya tersenyum miris. “Aku tahu. Tapi kali ini aku nggak mau tunduk sama sistem. Aku cuma ingin merasa jadi manusia, bukan data berjalan. Kamu paham, kan? Setelah sekian lama, kamu benar-benar nggak menganggapku teman?”

Hening. Sensor di mata Nir berkedip pelan.

Aya kembali mengamati kota di luar gedung. “Dunia ini terlalu memanjakan, sampai kita lupa rasanya jadi ….”

Beberapa detik berjalan tanpa suara. Lalu, sesuatu di dalam sistem Nir bergetar, entah bug, entah rasa iba yang ‘seharusnya tidak ada maupun diciptakan’. Nir menatap Aya, lalu berkata pelan, “Kalau begitu, saya ikut menemanimu.” Tak lama, mata Nir berubah nyala cokelat. 

Senyum Aya merekah. 

***

Keesokan harinya, mobil tanpa sopir terbang perlahan di jalan sunyi menuju utara. Nir dan Aya duduk santai di kursi depan. Di luar jendela, dunia seperti baru saja dicuci bersih dari kebisingan. Menara-menara kota memudar perlahan di kaca belakang.

Setelah sekian jam, mobil pun menembus batas kota. Tak ada pemeriksaan, tak ada alarm. Di kejauhan, langit tampak melebur jadi semburat kabut. Aya memandangi fenomena itu lama-lama. 

Perjalanan berakhir di perbatasan lembah tua, titik terakhir yang masih bisa dijangkau mesin. Di bawah sana, terbentang bekas hutan yang pernah dibabat dan kini bak merebut kembali haknya. Pohon-pohon tumbuh liar, menembus reruntuhan turbin angin yang berkarat. Di sela pepohonan, tampak kilau sungai kecil yang kembali mengalir setelah bertahun-tahun mati.

Begitu pintu mobil terbuka, embusan angin lembah menyambutnya. Aya menapakkan kaki di tanah lembap, debu menempel di tepi sepatunya. Aya berdiri diam. Dunia di sekitarnya seolah-olah melonggarkan genggamannya. Di kejauhan, suara sungai terdengar. Dia menatap lembah itu lama-lama, dan untuk pertama kalinya, merasa seluruh dirinya bukan lagi ‘data berjalan’.

Angin kembali melintas pelan, menggoyangkan ujung rambutnya. Dia menyibak helaian yang menempel di tengkuknya, lalu meraba tengkuk dan menekan logam mungil di bawah kulit. Itu cip kecil yang selama ini merekam seluruh hidupnya. Seketika, ada denyut sekilas. Setelah itu, sunyi. Tak ada lagi yang memantau. Semua data yang biasanya tercatat, dari langkah kaki, detak jantung, suhu, bahkan napasnya, mendadak terhenti. Untuk sesaat, dia benar-benar menjadi dirinya sendiri.

Aya berjalan tanpa arah. Di tepian sungai kecil, dia duduk di tanah yang ditumbuhi lumut dan akar muda. Di depannya, tumpukan ranting kering tergeletak. Dia tersenyum, lalu berbisik, “Apa ini dunia sebelum kita jadi terlalu sempurna?”

Nir yang berdiri di belakang Aya, sistemnya mencatat sesuatu yang tidak bisa diklasifikasi. Nir tidak menjawab. Namun, Selama bersama Aya, Nir jadi pendengar setia yang baik. 

Detik demi detik berlalu. Cahaya di lembah mulai surut. Suhu turun sedikit demi sedikit, menandai datangnya malam. Langit memudar dari biru ke jingga, lalu abu-abu. Malam pun datang tanpa sinyal.

Aya masih duduk di tepian sungai. Sejenak dia membayangkan api, sesuatu yang dulu hanya dia lihat di simulasi museum. Nir mendekat tanpa suara. Dari tangannya, muncul kilatan kecil, lalu percikan yang mengenai tumpukan ranting kering. Dalam hitungan detik, ranting itu menyala. Nir jelas paham apa yang Aya butuhkan. 

Cahaya oranye menari di wajah Aya. Dia menatap api itu seperti menatap makhluk hidup yang panas, tak stabil, tapi indah. Nir duduk di sampingnya, diam, menatap nyala yang sama. Keduanya terdiam. Hanya suara api yang meletup. Di atas mereka, langit menampakkan bintang-bintang, dan Aya tengadah. “Kebayang nggak sih betapa bintang yang kebanyakan jadi metafora puisi selama ini begitu indah dan nyata banget malam ini?”

Nir turut menatap langit. Sistem visualnya menyesuaikan cahaya redup malam, tapi logikanya tersandung di antara kalimat Aya. Ia tak punya algoritma untuk ‘terharu’. Namun, kini, batas antara fungsinya dan dirinya mulai kabur. Sistemnya mencatat peningkatan suhu mikro di inti mesin.

Hari-hari berikutnya. Mereka melakukan perjalan dari kota sampai lembah tua rutin tak bercela. Bahkan selama sesi itu, tak ada suara notifikasi, tidak ada cahaya indikator yang berkedip.

Suatu ketika Aya menulis di tanah lembap di tepi sungai. Dia mencabut sebatang ranting kering dan mulai menggores permukaan tanah halus, meninggalkan jejak samar yang mudah hilang bila terkena hujan. Setiap kata digores dengan tangan gemetar, seolah-olah memanggil kembali bahasa yang pernah hilang dari tubuhnya. Setiap lekuk huruf seperti latihan untuk mengingat apa rasanya menjadi manusia.

Nir mengamati dari jarak beberapa langkah, tanpa intervensi. Dirinya tengah memahami seberapa jauh manusia ‘bisa pulih’ saat dunia berhenti mengawasinya. 

Hari-hari berlalu tanpa pola. Kadang Aya duduk di tepi api yang nyaris padam, menatap bara yang perlahan menghitam. Kadang Nir berjalan menyusuri lembah, membaca perubahan suhu dan pertumbuhan lumut di reruntuhan baja. Kesunyian di antara mereka ganjil tapi damai. Dua makhluk dari dua sistem berbeda sedang belajar hidup dalam ritme yang sama.

Suatu sore, saat sinar matahari memudar di permukaan sungai, Aya menatap Nir. “Kalau aku nggak menemuimu lagi, jangan cari.” Suara itu lembut, tapi tegas. “Aku secara sadar memutuskan diri dari pusat sejak hari pertama ke sini. Mereka nggak peduli, Nir. Buktinya, nggak ada tuh yang mencari atau memaksa diriku untuk kembali mengaktifkannya lagi. Jujur saja, entah kenapa, di sini ... aku justru merasa pulih. Semua yang dulu terasa sesak kini pelan-pelan hilang. Rasanya seperti jadi manusia seutuhnya.”

Nir tidak menjawab. Sistemnya mencatat kata-kata itu, tapi di balik lapisan logika dan kabel serat optik, ada anomali baru berupa getar di inti mesin yang tidak bisa diklasifikasi dan rumit dijelaskan.