“Cari kerja gampang kok, asal nggak pilih-pilih.”
Kalimat semacam ini mungkin sudah sering kita dengar, biasanya disampaikan sebagai nasihat yang terdengar realistis, bahkan kadang seperti solusi paling sederhana untuk menghadapi sulitnya mencari pekerjaan.
Masalahnya, pekerjaan yang mudah didapat sering kali justru menawarkan upah yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup.
Pencari kerja pun tidak selalu sedang mencari gaji besar atau berbagai fasilitas mewah. Sebagian hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang gajinya cukup untuk membayar kebutuhan dasar.
Lantas, mengapa mencari pekerjaan dengan upah yang cukup untuk hidup justru dianggap pilih-pilih?
Saat Upah Layak Dianggap Kemewahan
Ada perbedaan besar antara memilih pekerjaan berdasarkan standar yang realistis dan terlalu pilih-pilih. Sayangnya, keduanya sering disamakan.
Seseorang yang menolak pekerjaan karena tidak sesuai dengan gengsi mungkin memang bisa disebut terlalu selektif.
Tetapi, bagaimana dengan seseorang yang menghitung kembali apakah gajinya cukup untuk membayar ongkos transportasi, makan setiap hari, dan kebutuhan hidup lainnya? Apakah itu juga dianggap pilih-pilih?
Misalnya, seseorang mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang terlihat cukup besar. Namun, tempat kerjanya berada jauh dari rumah sehingga ia harus mengeluarkan biaya transportasi setiap hari.
Selain itu, ia juga harus makan di luar karena bekerja seharian. Maka, sebagian besar gajinya habis hanya untuk bisa berangkat dan bertahan selama bekerja. Belum lagi jika ia harus membayar kos, cicilan, membantu keluarga, atau memiliki tanggungan lain.
Dalam situasi seperti itu, mempertimbangkan gaji bukanlah sikap manja atau pilih-pilih. Itu adalah bare minimum karena ada kebutuhan hidup yang harus di-cover.
Mengapa Pekerjaan Layak Sulit Ditemukan?
Salah satu alasan mengapa nasihat “jangan pilih-pilih kerja” terasa tidak adil adalah karena pilihan yang tersedia memang tidak seimbang.
Pekerjaan dengan upah rendah cenderung lebih mudah ditemukan. Perusahaan tidak terlalu kesulitan mencari orang yang bersedia menerima gaji kecil ketika banyak orang sedang membutuhkan pekerjaan.
Di sisi lain, pekerjaan dengan upah dan benefit yang lebih baik memiliki persaingan yang jauh lebih ketat. Dari sini muncul sebuah paradoks. Perusahaan sering mengatakan bahwa mencari karyawan tidak mudah. Pencari kerja juga mengatakan bahwa mencari pekerjaan dengan upah layak sangat sulit. Mungkin sebenarnya kedua pihak sedang membicarakan hal yang berbeda.
Perusahaan mungkin kesulitan mencari pekerja yang mau menerima gaji rendah dengan beban kerja tinggi. Sementara pencari kerja kesulitan menemukan perusahaan yang menawarkan kompensasi yang sepadan dengan tuntutan pekerjaannya.
Di sinilah kalimat “asal tidak pilih-pilih pasti dapat kerja” menjadi problematik. Sebab, kalimat itu seolah-olah menyiratkan bahwa masalahnya terletak pada pencari kerja yang terlalu banyak keinginan.
Padahal, kalau seseorang mau menerima pekerjaan apa saja, tentu ada banyak pilihan yang tersedia. Tetapi apakah kita ingin menyelesaikan persoalan ketenagakerjaan dengan meminta orang terus-menerus menurunkan standar hidupnya?
Mencari Upah Layak Bukan Berarti Mencari Pekerjaan Sempurna
Menurut saya, penting untuk membedakan antara mencari pekerjaan yang ideal dan mencari pekerjaan yang layak.
Tidak semua orang membutuhkan kantor dengan fasilitas mewah. Tidak semua orang menuntut gaji puluhan juta rupiah. Tidak semua pencari kerja berharap pekerjaannya selalu menyenangkan atau bebas dari tekanan. Banyak orang sangat memahami bahwa pekerjaan pasti memiliki kekurangan dan komprominya sendiri.
Namun, kompromi seharusnya tidak selalu berarti pekerja yang mengalah. Pencari kerja mungkin bersedia bekerja keras.
Mereka bersedia mempelajari hal baru, bekerja di bawah tekanan, menempuh perjalanan jauh, atau menerima pekerjaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan minat mereka. Tetapi pada titik tertentu, mereka tetap membutuhkan penghasilan yang cukup untuk hidup.
Bekerja bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu. Bagi sebagian besar orang, bekerja adalah cara untuk membayar kebutuhan hidup.
Oleh karena itu, wajar jika mereka mempertimbangkan berapa banyak uang yang akan mereka terima setelah menghabiskan waktu, tenaga, dan kemampuan untuk sebuah perusahaan.
Baca Juga
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
-
Stop Sikap Overproud: Pejabat Bukan Raja, Kenapa Masih Disambut Berlebihan?
-
Tone Deaf Berkedok Self-Care: Tak Semua Orang Bisa Menjauh dari Bad News
-
Through the Darkness: Mengurai Criminal Profiling dan Psikologi Kejahatan
-
Behind Every Star: Sisi Gelap Ambisi di Balik Gemerlap Industri Hiburan
Artikel Terkait
Kolom
-
Membaca, Memahami, dan Merefleksi: Seni Menjaga Fokus di Tengah Serbuan Gawai
-
BGN Siapkan Sistem Marketplace MBG: Kejar Pengadaan, Keracunan Terabaikan?
-
Karnaval Pekalongan Jadi Sorotan, Budaya berkedok Ritual di Ruang Publik?
-
Kontradiksi Gaya Komunikasi Prabowo: Singa Domestik, Kucing Imut di Panggung Internasional?
-
Di Era AI dan Digital, Mengapa Belajar Filsafat Justru Semakin Penting?
Terkini
-
Hotel Inhumans Rilis Lagu Tema untuk Musim Kedua, Tayang Perdana 4 Oktober
-
Suicide Awareness Month: 5 Novel yang Mengajarkan Pentingnya Support System
-
Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact
-
5 Parfum Floral-Musk Terbaik untuk Wanita, Wangi Lembut tapi Memikat!
-
Terapi Gratis Anti-Stres: Keajaiban Memeluk Pohon yang Jarang Disadari