M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Cover cerita (chat gpt)
Oka Kurniawan

Aku tidak pernah percaya pada cerita-cerita aneh yang beredar di kampungku. Cerita tentang jalan yang bisa berpindah tempat, rumah kosong yang menghilang saat dilihat dua kali, atau suara langkah kaki yang terdengar di tengah sawah saat malam tanpa bulan. Bagiku, semua itu hanyalah dongeng yang dibuat orang tua agar anak-anak tidak bermain terlalu jauh. Sampai suatu malam, aku mengalaminya sendiri.

Namaku Arga. Saat itu usiaku dua puluh empat tahun dan baru beberapa bulan bekerja di kota kecil yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari kampung tempatku tinggal. Setiap hari aku pulang pergi menggunakan sepeda motor melewati jalan kabupaten yang sepi. Pada awalnya tidak ada yang aneh. Namun, semuanya berubah pada suatu malam di bulan November. Hujan turun sejak sore. Ketika aku selesai bekerja, langit masih dipenuhi awan gelap. Aku mengenakan jas hujan lalu memacu motor perlahan melewati jalan yang licin. Sekitar pukul sembilan malam, hujan mulai reda.

Aku melewati jalan yang membelah perkebunan karet. Daerah itu terkenal sepi. Tidak ada rumah penduduk dalam radius beberapa kilometer. Lampu motor menjadi satu-satunya sumber cahaya. Saat itulah aku melihat sebuah persimpangan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku mengerutkan dahi. "Aneh," gumamku. Aku sudah melewati jalan itu ratusan kali. Seharusnya tidak ada persimpangan di sana. Di sisi kiri terdapat papan kayu tua yang nyaris roboh. Tulisannya sudah pudar dan sulit dibaca.

Karena penasaran, aku memperlambat laju motor. Mungkin ini jalan baru, pikirku. Tanpa alasan yang jelas, aku membelok ke kiri. Jalan itu sempit dan dikelilingi pohon-pohon tinggi. Udara terasa lebih dingin dibanding jalan utama. Aku terus melaju selama lima menit. Lalu sepuluh menit. Lalu lima belas menit. Yang membuatku heran, pemandangan di sekeliling tidak berubah. Pohon-pohon yang sama. Parit yang sama. Batu besar yang sama di pinggir jalan. Aku mulai merasa tidak nyaman.

Ketika akhirnya jalan itu berbelok ke kanan, aku menghela napas lega. Namun, napasku langsung tertahan. Di depanku berdiri papan kayu tua yang sama. Persimpangan yang sama. Aku kembali ke tempat awal. Jantungku berdegup lebih cepat. "Mungkin aku berputar tanpa sadar." Aku mencoba berpikir logis. Kali ini aku memilih tetap lurus dan melanjutkan perjalanan pulang melalui jalan utama. Dua puluh menit kemudian aku tiba di rumah. Aku menganggap kejadian itu selesai.

Aku salah. Malam berikutnya, saat melewati jalan yang sama, persimpangan itu muncul lagi. Papan kayu tua itu berdiri tepat di tempat yang sama. Aku merasakan bulu kuduk meremang. Kali ini aku tidak masuk ke jalan tersebut. Aku terus melaju. Namun, setelah sekitar lima belas menit berkendara, aku mendadak menginjak rem. Di depanku kembali muncul papan kayu tua itu. Persimpangan yang sama. Aku menoleh ke belakang. Tidak mungkin. Seharusnya aku sudah jauh meninggalkannya. Dengan tangan gemetar, aku melihat layar ponsel. Tidak ada sinyal. Angin malam bertiup pelan di antara pepohonan. Aku merasa seolah-olah berada di tempat yang tidak seharusnya ada.

Akhirnya aku memberanikan diri masuk ke jalan itu lagi. Barangkali ada penjelasan. Barangkali aku hanya tersesat. Namun, makin jauh aku masuk, makin aneh suasananya. Tidak ada suara jangkrik. Tidak ada suara katak. Bahkan angin pun terasa diam. Seolah seluruh dunia berhenti bernapas. Lalu aku melihat sesuatu di kejauhan. Sebuah rumah. Rumah kayu tua yang berdiri sendirian di tengah pepohonan. Lampunya menyala redup. Aku tidak pernah melihat rumah itu sebelumnya. Meski rasa takut mulai menguasai diri, entah kenapa aku turun dari motor dan mendekat.

Pintu rumah terbuka sedikit. Dari dalam terdengar suara radio tua memutar lagu yang samar. Aku mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi. Tetap sunyi. Akhirnya aku mendorong pintu perlahan. Rumah itu kosong. Debu menutupi lantai dan perabotan. Namun, radio tua di atas meja benar-benar menyala. Lagu lawas mengalun pelan. Saat aku melangkah masuk, pandanganku tertuju pada sebuah foto yang tergantung di dinding. Tubuhku langsung membeku. Foto itu memperlihatkan seorang pria berdiri di depan rumah tersebut. Pria itu adalah aku.

Aku mundur beberapa langkah. Napas terasa sesak. Foto itu tampak baru diambil. Bahkan pakaian yang dikenakan pria dalam foto sama persis dengan yang sedang kupakai saat itu. Aku merasa kepalaku berputar. Lalu terdengar suara dari belakang. "Sudah lama aku menunggumu." Aku berbalik. Seorang lelaki tua berdiri di ambang pintu. Rambutnya putih seluruhnya. Wajahnya penuh keriput. Namun, ada sesuatu yang membuatku makin ketakutan. Wajah lelaki itu mirip denganku. Sangat mirip. Seolah aku sedang melihat diriku sendiri puluhan tahun di masa depan.

"Apa ini?" tanyaku dengan suara gemetar. Lelaki tua itu tersenyum tipis. "Kau akhirnya datang lagi." "Lagi?" "Ya. Kau selalu datang ke sini." Aku tidak mengerti maksudnya. Lelaki itu duduk di kursi kayu lalu menunjuk kursi di depannya. Aku tidak tahu kenapa, tetapi aku menurut. "Jalan itu," katanya pelan, "tidak membawa orang ke tempat lain. Jalan itu membawa seseorang kembali ke titik yang belum selesai dalam hidupnya." Aku makin bingung. "Aku tidak pernah ke sini sebelumnya." Lelaki tua itu menggeleng. "Sudah berkali-kali."

Kemudian ia menunjuk dinding. Barulah aku menyadari sesuatu yang membuat darahku terasa dingin. Di sana tergantung puluhan foto. Semuanya foto diriku. Dengan pakaian berbeda. Dengan usia berbeda. Ada yang tampak lebih muda. Ada yang tampak lebih tua. Namun, semuanya berada di depan rumah yang sama. "Ini tidak mungkin..." Lelaki tua itu menatapku lama. "Setiap kali kau menemukan jalan ini, kau akan kembali ke tempat yang sama. Kau akan duduk di kursi itu. Kau akan menanyakan pertanyaan yang sama."

Aku berdiri dengan panik. "Aku harus pergi." "Tentu." Aku berlari keluar rumah dan menyalakan motor. Mesin langsung hidup. Aku memacu kendaraan secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang. Beberapa menit kemudian aku berhasil mencapai jalan utama. Lampu-lampu kota terlihat di kejauhan. Aku merasa lega. Sangat lega. Keesokan paginya aku kembali ke lokasi tersebut bersama beberapa teman. Aku ingin membuktikan bahwa semuanya hanya halusinasi. Namun, ketika kami tiba, tidak ada persimpangan. Tidak ada papan kayu. Tidak ada jalan kecil. Yang ada hanya deretan pohon karet yang rapat. Teman-temanku menganggap aku bercanda. Aku sendiri mulai meragukan ingatanku.

Hari-hari berlalu. Minggu berganti bulan. Aku berusaha melupakan kejadian itu. Sampai suatu malam, saat pulang kerja lebih larut dari biasanya, aku kembali melihat papan kayu tua itu berdiri di pinggir jalan. Persis seperti sebelumnya. Aku memejamkan mata. Ketika kubuka kembali, papan itu masih ada. Lalu aku menyadari sesuatu. Di bawah tulisan yang mulai pudar, terdapat kalimat kecil yang dulu tidak sempat kubaca. Dengan tangan dingin aku mendekat. Tulisan itu berbunyi:

"Semua jalan akan membawamu pulang. Pertanyaannya, pulang ke masa yang mana?"
Angin malam berembus perlahan. Di kejauhan, jalan sempit itu kembali terbentang di antara pepohonan. Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya, aku merasa rumah tua itu sedang menungguku lagi. Bukan sebagai tamu. Melainkan sebagai penghuni yang suatu hari akan tinggal di sana. Selamanya.