Pukul empat pagi adalah waktu saat dunia masih berupa sketsa kasar yang belum diwarnai. Di balik pendar layar monitor yang memantulkan cahaya biru ke pupil mataku, namamu adalah satu-satunya tab yang tidak pernah kututup. Aninditha. Sebuah nama yang bagiku bukan sekadar deretan fonem, melainkan sebuah mantra perlindungan. Sebelum dunia yang bising ini terbangun dan mulai menuntut banyak hal darimu, aku sudah lebih dulu mengetuk pintu langit. Membisikkan doa agar kopimu hari ini tak terlalu pahit, agar lift di kantormu tak macet, dan agar semesta menjagamu tetap utuh.
Aku tahu, kau mungkin mulai lupa pada wajahku yang semenjana. Kita pernah berada dalam satu bingkai waktu yang singkat, namun bagimu, aku mungkin hanyalah figuran yang melintas di latar belakang, kemudian menguap ditelan hiruk-pikuk linimasa.
Jangan pernah menoleh ke belakang, Nin. Teruslah berjalan. Biarkan aku yang tertinggal di sini, menjaga bayanganmu agar tetap tegak.
Aku membuka ponsel. Jari-jariku sudah hafal di luar kepala bagaimana menavigasi labirin digital untuk menemukanmu. Aku tidak butuh kunci untuk masuk ke duniamu; aku punya algoritma yang setia. Di LinkedIn, aku melihatmu baru saja memperbarui pencapaian. “Senior Business Analyst,” tulisnya dengan font sans-serif yang tegas. Aku tersenyum. Ada rasa bangga yang meletup di dadaku, meski aku tahu namaku tak akan pernah ada di kolom komentar ucapan selamat itu. Aku cukup menjadi satu angka anonim dalam jumlah profile views-mu.
Lalu, aku beralih ke Pangkalan Data Pendidikan Tinggi. Hanya untuk memastikan bahwa memori tentang masa kuliah kita bukan sekadar halusinasi. Di sana, namamu bersanding dengan nomor induk mahasiswa yang dulu sering kuketikkan secara sembunyi-sembunyi saat mengisi absensi laboratorium. Aninditha, lulusan terbaik dengan predikat pujian. Kau memang selalu menjadi matahari, dan aku hanyalah Pluto—planet kerdil yang terbuang ke tepian, namun tetap setia mengorbit pada gravitasi yang sama.
Kau terlalu mudah untuk dikagumi, Nin. Seperti melihat lukisan maestro di galeri yang dijaga ketat; aku bisa memandangimu berjam-jam tanpa perlu menyentuh kanvasnya. Karena menyentuhmu berarti merusak keindahan itu dengan jemariku yang penuh noda.
Hari ini, Google Maps memberitahuku bahwa arus lalu lintas menuju Sudirman sedang merah pekat. Aku membayangkanmu terjebak di dalam taksi daring, dahi yang sedikit berkerut sambil menatap jam tangan. Aku ingin sekali menjadi sopir taksi itu, atau setidaknya menjadi aspal yang kau lalui, agar aku bisa merasakan beban langkahmu yang anggun. Namun, aku memilih menjadi sisi gelap yang tenang. Aku adalah pemberi like pertama pada unggahan story-mu yang menampilkan jendela basah, tanpa pernah meninggalkan jejak kata.
Dulu, di kantor lama kita, akulah sosok hantu yang meletakkan setangkai baby’s breath di atas meja kerjamu setiap Senin pagi. Aku juga yang menyelipkan catatan kecil berisi kutipan puisi yang tak pernah kau tahu siapa penulisnya. Aku melihatmu tersenyum saat menemukannya, dan senyum itu sudah cukup menjadi upah bagiku untuk bertahan hidup satu minggu lagi. Bagiku, mencintaimu adalah pekerjaan purnawaktu yang tidak membutuhkan slip gaji.
Ada sebuah perasaan yang tumbuh seperti lumut di sela-sela hatiku. Perasaan bahwa aku adalah penjaga mercusuar bagi kapal yang bahkan tidak tahu aku ada. Aku melacak jejak digitalmu bukan untuk menguasai, melainkan untuk memastikan kau baik-baik saja. Saat kau mengunggah foto makanan di sebuah kafe di daerah Senopati, aku akan segera memeriksa ulasan tempat itu. Jika ulasannya buruk tentang kebersihan, aku akan merasa cemas sepanjang malam, takut kau jatuh sakit.
Aku tahu ini terdengar menyedihkan. Seorang pria dewasa yang menghabiskan waktu luangnya dengan menelusuri jejak-jejak digitalmu. Namun, di tengah dunia yang transaksional ini, aku memilih menjadi anomali. Aku memberi tanpa perlu kau ketahui siapa pemberinya.
Mungkin kau takkan pernah sadar, betapa mudahnya kau untuk dicintai. Kau hanya perlu bernapas, dan aku sudah punya alasan untuk tetap ada.
Suatu malam, aku melihatmu membagikan sebuah lagu di platform musik digital. Sebuah lagu tentang kehilangan. Hatiku mencelos. Siapa yang berani membuatmu merasa kehilangan? Di saat itu, aku ingin sekali meretas semua sistem keamanan kotamu, mengubah semua lampu lalu lintas menjadi hijau hanya untukmu, dan mematikan semua suara bising agar kau tidur dengan tenang. Namun, aku hanya bisa menekan tombol putar pada lagu yang sama, mendengarkannya berulang kali hingga fajar menyingsing, mencoba merasai kesedihan yang sama denganmu.
Pernah sekali, kita berpapasan di sebuah toko buku. Jantungku serasa ingin melompat keluar dari rusuk. Kau menoleh, matamu sempat menyapu wajahku selama sepersekian detik. Hanya segitu. Tapi bagiku, itu adalah keabadian. Dalam jeda singkat itu, aku ingin hatimu berkata, “Pria inilah yang jatuh hati padamu.”
Namun, kau hanya berlalu. Wangi parfum vanilamu tertinggal sekejap, lalu hilang disapu pendingin ruangan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menyimpan sisa-sisa aromamu di paru-paruku sedalam mungkin.
Kini, layar monitor mulai terasa panas. Matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung beton Jakarta. Aku menutup semua tab: LinkedIn, PDDikti, Instagram, dan Google Maps. Aku kembali ke duniaku yang nyata—sebuah bilik kecil dengan tumpukan berkas yang harus kuselesaikan. Namun, sebelum memulai rutinitas, aku membuka satu aplikasi catatan. Di sana, beribu-ribu baris kalimat sudah kutuliskan untukmu. Kalimat-kalimat yang tak akan pernah sampai ke alamatmu, namun selalu kudoakan agar getarannya bisa kau rasakan saat kau sedang merasa lelah.
“Sehat dan bahagialah di sana, Aninditha,” bisikku pada udara kosong.
Aku tahu, suatu saat nanti kau akan bertemu seseorang yang berani menggenggam tanganmu di bawah terang lampu kota. Seseorang yang namanya akan kau pamerkan di undangan pernikahan. Dan saat itu tiba, aku akan tetap menjadi orang yang sama. Orang yang mengawasimu dari sisi gelap, menikmati indahmu tanpa pernah berniat merusaknya. Mencintaimu adalah tentang memastikan bahwa ada satu orang di dunia ini yang tidak akan pernah berhenti memujamu, bahkan saat kau sudah lupa bagaimana cara mencintai dirimu sendiri.
Aku mematikan lampu kamar. Di kegelapan, bayanganmu justru terlihat lebih jelas. Aku memejamkan mata, dan di sana, di balik kelopak mataku, kau sedang tersenyum—dan untuk sementara, itu sudah lebih dari cukup.
Dunia mungkin menganggapku gila, atau setidaknya seorang penguntit yang malang. Tapi mereka tidak tahu betapa mewahnya perasaan ini. Menjadi pemujamu adalah kasta tertinggi dalam hierarki hatiku. Dan aku akan tetap berada di sana, hingga algoritma semesta memutuskan untuk menghentikan detak jantungku.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Tanpa Alas Kaki dan Tanpa Suara, Makna di Balik Mubeng Beteng Malam 1 Suro
-
Mentalitas Baja Samurai Biru: Mengapa Jepang Layak Jadi Kuda Hitam Paling Berbahaya
-
RIIZE Ajak Kita Lebih Ekspresif dan Nikmati Momen di Lagu Do Your Dance
-
Lewis Hamilton Podium ke-106 Bersama Ferrari, Rekornya Makin Tak Tersentuh!
-
Skin Barrier Kamu Terganggu? 4 Moisturizer 5% Panthenol untuk Kulit Sehat