M. Reza Sulaiman | Oka Kurniawan
Cover cerita (chat gpt)
Oka Kurniawan

Di ujung Kota Arwana, berdiri sebuah taman kecil yang mulai terlupakan oleh waktu. Taman itu tidak besar, hanya memiliki beberapa pohon tua, jalan setapak dari batu yang mulai retak, dan sebuah bangku kayu yang cat putihnya telah mengelupas dimakan hujan dan panas. Orang-orang jarang datang ke sana, kecuali beberapa lansia yang berjalan santai di pagi hari atau anak-anak yang sesekali bermain saat sore. Namun, ada satu hal yang membuat taman itu terkenal di antara warga sekitar. Sebuah kursi kosong. Tepatnya, bangku paling ujung yang menghadap kolam kecil di tengah taman.

Setiap orang yang datang ke sana mengaku pernah melihat seseorang duduk di bangku itu. Sosok seorang pria tua dengan pakaian sederhana berwarna abu-abu. Rambutnya putih, wajahnya tenang, dan matanya selalu menatap permukaan air kolam. Anehnya, ketika seseorang mencoba mendekat, pria itu menghilang. Sebagian orang menganggapnya hantu. Sebagian lain menganggap itu hanya ilusi karena suasana taman yang sepi. Lama-kelamaan cerita itu menjadi legenda kecil yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Raka tidak pernah percaya pada cerita seperti itu. Sebagai seorang mahasiswa jurusan sejarah, ia lebih menyukai fakta daripada cerita mistis. Saat liburan semester, ia kembali ke rumah orang tuanya yang kebetulan berada tidak jauh dari taman tersebut. Suatu sore, ibunya bercerita tentang sosok misterius itu saat mereka minum teh bersama. "Katanya sudah puluhan tahun muncul di sana," ujar sang ibu. Raka tertawa kecil. "Kalau memang ada, pasti sudah ada fotonya." Ibunya mengangkat bahu. "Entahlah. Yang jelas banyak orang pernah melihatnya."

Rasa penasaran mulai tumbuh dalam diri Raka. Bukan karena ia percaya pada hantu, melainkan karena ia ingin membuktikan bahwa cerita itu hanya kesalahpahaman. Keesokan harinya, ia datang ke taman dengan kamera dan buku catatan. Matahari sore bersinar hangat ketika ia duduk di bangku lain, tidak jauh dari kursi yang terkenal itu.

Satu jam berlalu. Tidak terjadi apa-apa. Dua jam berlalu. Tetap tidak ada apa-apa. Saat Raka mulai bosan dan hendak pulang, ia melihat seseorang. Seorang pria tua. Duduk diam di bangku kosong itu. Raka tertegun. Pria itu persis seperti yang diceritakan warga. Pakaian abu-abu. Rambut putih. Pandangan yang tertuju ke kolam. Dengan cepat, Raka mengangkat kameranya dan mengambil beberapa foto.

Klik. Klik. Klik.

Pria itu tidak bergerak. Raka memberanikan diri mendekat. Langkah demi langkah. Jarak mereka kini tinggal beberapa meter. "Permisi, Pak." Tidak ada jawaban. "Pak?" Pria itu perlahan menoleh. Wajahnya tampak biasa saja. Tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan Raka. Justru ada kesedihan yang sulit dijelaskan di matanya. "Akhirnya ada yang menyapa," katanya pelan. Raka sedikit terkejut. "Bapak siapa?" Pria itu tersenyum tipis. "Seseorang yang sedang menunggu." "Menunggu siapa?" "Orang yang pernah berjanji akan kembali."

Jawaban itu terdengar aneh. Namun, entah mengapa, Raka merasa tidak takut. Mereka berbincang cukup lama sore itu. Pria tua tersebut tidak pernah menyebutkan namanya. Ia hanya bercerita tentang masa lalu, tentang taman yang dulu ramai, tentang anak-anak yang berlarian, dan tentang seseorang yang sangat berarti baginya. Ketika matahari mulai tenggelam, Raka menoleh sebentar ke arah kolam. Saat ia menoleh kembali, bangku itu kosong. Pria tua itu menghilang. Raka berdiri terpaku. Tidak ada siapa pun di sekitar.

Malam itu, ia memeriksa foto-foto yang diambilnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Semua foto bangku tersebut kosong. Tidak ada sosok pria tua. Padahal, ia yakin telah memotretnya berkali-kali. Rasa penasaran berubah menjadi obsesi. Selama beberapa hari berikutnya, Raka mulai mencari informasi tentang taman tersebut di arsip kota dan perpustakaan. Ia menemukan sebuah berita lama dari koran yang terbit hampir lima puluh tahun lalu.

Berita itu menceritakan tentang seorang guru bernama Arman yang setiap hari menunggu tunangannya di taman kota. Mereka berjanji akan bertemu setelah sang tunangan kembali dari luar kota. Namun, wanita itu mengalami kecelakaan dalam perjalanan dan meninggal dunia. Arman tidak pernah mengetahui kabar tersebut selama beberapa bulan. Setiap sore ia datang ke taman yang sama dan duduk di bangku yang sama menunggu seseorang yang tak akan pernah datang. Menurut artikel itu, Arman melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun hingga akhirnya meninggal dunia karena usia tua. Raka merasakan bulu kuduknya meremang. Bangku yang disebutkan dalam artikel ternyata adalah bangku yang sekarang dikenal sebagai kursi kosong.

Keesokan harinya, ia kembali ke taman. Sore menjelang malam. Angin berembus pelan di antara pepohonan. Dan seperti sebelumnya, pria tua itu kembali muncul. Duduk tenang menghadap kolam. Raka berjalan mendekat. "Kau Arman, bukan?" Pria itu tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu terlihat tulus. "Jadi, kau menemukannya." "Kenapa masih di sini?" Pria tua itu terdiam cukup lama. "Lupa caranya pergi." Jawaban itu membuat hati Raka terasa berat.

Pria itu kemudian mengeluarkan sebuah amplop tua dari sakunya. "Kau mau membantuku?" Raka mengangguk. Arman menyerahkan amplop tersebut. Di bagian depan tertulis sebuah nama perempuan. "Mawar." "Siapa dia?" "Orang yang kutunggu." Raka membuka amplop itu dengan hati-hati. Di dalamnya terdapat surat yang sudah menguning dimakan usia. Tulisan tangan perempuan memenuhi halaman. Isinya sederhana. Perempuan itu meminta maaf karena harus pergi lebih lama dari rencana. Ia berjanji akan kembali dan berharap Arman tetap menunggunya. Di bagian akhir surat terdapat catatan kecil yang membuat mata Raka berkaca-kaca. "Jika suatu hari aku tidak bisa kembali, jangan habiskan hidupmu untuk menunggu. Hiduplah dengan bahagia untuk kita berdua."

Raka mengangkat kepala. Arman sedang menatap langit. Matanya tampak basah. "Aku tidak pernah menerima surat itu," katanya lirih. "Kalau saja aku membacanya dulu..." Suara lelaki tua itu menghilang bersama embusan angin. Malam mulai turun. Lampu taman menyala satu per satu. Arman berdiri perlahan dari bangku. Untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun lalu, ia tidak lagi menatap kolam. Melainkan menatap jalan keluar taman. "Aku rasa waktuku sudah selesai." Raka tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri diam. Arman tersenyum. "Terima kasih sudah mendengarkan." Kemudian sosoknya perlahan memudar seperti kabut yang terkena cahaya pagi. Hilang tanpa suara. Tanpa jejak.

Sejak malam itu, tidak ada lagi yang melihat pria tua di bangku tersebut. Kursi itu benar-benar kosong. Namun, anehnya, suasana taman berubah. Tempat itu terasa lebih hangat, lebih hidup. Warga mulai datang kembali. Anak-anak bermain, para lansia berbincang, dan pasangan muda duduk menikmati sore. Beberapa bulan kemudian, sebuah plakat kecil dipasang di dekat bangku itu. Bertuliskan: "Untuk mereka yang pernah menunggu, dan untuk mereka yang akhirnya belajar melepaskan."

Setiap kali melewati taman itu, Raka selalu teringat pada Arman. Ia menyadari bahwa terkadang yang membuat seseorang terjebak bukanlah waktu, melainkan harapan yang tidak pernah mendapat jawaban. Dan terkadang, satu hal yang paling dibutuhkan untuk melangkah pergi bukanlah keajaiban. Melainkan seseorang yang mau mendengarkan cerita yang selama ini terpendam dalam kesunyian.