M. Reza Sulaiman | Gita Fetty Utami
Ilustrasi Hujan, Mawar, dan Dia (Gemini AI)
Gita Fetty Utami

If you're not the one then why does my soul feel glad today?
If you're not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?

Lantunan If You're Not The One milik Daniel Bedingfield memecah kesunyian kamar. Penghuninya masih terlelap di balik bed cover cokelat. Pada lantunan kelima barulah sebuah tangan mencuat meraih smartphone dari atas nakas.

"Umh... halo?" Suara mengantuk seorang lelaki menyahut panggilan itu.

"Iih, kok, lama banget ngangkatnya, Mas Dion?" sungut perempuan di ujung telepon.

"Aduuh, soriiii, Say. Mas baru bangun, nih ... capek banget!" Lelaki itu, Dion, beringsut duduk. Dia melirik jam digital di atas nakas. Rupanya pukul delapan pagi. Syukurlah ini hari Minggu, batinnya lega.

"Nyampe jam berapa tadi, Mas?" tanya perempuan itu lagi.

"Kalo gak salah jam empat lebih. Trus abis salat subuh baru Mas tidur, mana pas hujan deras lagi! Brrr!" Dion kembali merebahkan kepala. Rambut ikal pendeknya makin kusut terhimpit bantal.

"Hujan? Aduh, coba Mas liatin, dong, tanamanku di halaman!" Suara itu berubah cemas.

"Ck, ntar aja, Say. Tunggu reda." Mata cokelat Dion masih enggan membuka.

"Maaas, please!" Kali ini dia terang-terangan menuntut.

"Oke, oke, oke. Mas lihat sekarang." Sambil menyeret tubuh keluar dari lindungan kasur yang hangat, Dion menutup telepon.

Istrinya, Dewi, memang cenderung rewel soal tanaman hias. Kalau saja dia kemarin ikut pulang dari Cirebon, hampir bisa dipastikan dia akan memeriksa koleksinya terlebih dahulu di atas kebutuhan istirahat. Tak peduli kondisi apapun. Dion mengintip dari jendela kamar. Hujan memang mereda, tapi masih cukup deras.

Lelaki tersebut menyambar sebentuk jaket di kapstok kamar, lalu beranjak ke luar. Sebelum membuka pintu depan, dia mengambil sepasang sepatu boot hitam dari dapur untuk membungkus kakinya. Tak lupa dia menarik payung biru dari guci di samping rak sepatu.

Dion sebetulnya malas berbasah-basahan di pagi yang muram dan dingin ini. Kalau saja tidak ingat kondisi Dewi yang tengah hamil muda, calon anak pertama mereka. Ya, Dion tak ingin membuat istrinya memendam kecewa. Dia khawatir kekecewaan bisa mempengaruhi janin di kandungan.

Di luar, guyuran hujan semalaman ditambah amukan angin telah membuat beranda basah dan licin. Anthurium, jenmanii, kamboja jepang, sansaverra, lonceng biru, dan morning glory yang berderet sepanjang selasar teras tampak baik-baik saja. Tak ada yang rontok atau patah. Namun ketika dia melempar mata ke halaman depan mau tak mau dia terperanjat. Rumput jepangnya tak terlihat, tertutup limpahan air. Genangannya hampir menyamai tepi kolam teratai mereka.

Dion merapatkan jaketnya hingga menutupi leher, lalu melangkah ke halaman. Dia ingat, ada satu lagi tanaman sang istri yang belum diperiksa. Berkecipak bunyi air bertemu dengan langkah sepatu boot-nya.

Astaga! Dion menepuk jidat sendiri. Sungai kecil di seberang sana luber hingga pekarangan depan rumahnya. Bahkan menutupi permukaan sawah di sebelah selatan rumah. Dini hari tadi ia tak menyadari peristiwa tersebut. Selain karena konsentrasi menyetir, kondisi tubuhnya pun sudah lelah. Kemudian Dion tertegun di depan pohon mawar milik Dewi. Dia melihat beberapa kuntum bunga layu dan menghitam.

Dewi pernah berkata bahwa mawar tak tahan terkena air hujan. Karena sifat asam dari hujan serupa karat bagi kelopak bunga. Aduh, tak terbayang apa nanti reaksi istrinya jika melihat kondisi tanaman kesayangannya. Setelah menggaruk-garuk rambut sesaat, pria jangkung ini memutuskan dia harus bertindak segera untuk menyelamatkan mawar yang tersisa.

Buru-buru dia masuk ke garasi. Payungnya terayun mengikuti langkahnya, nyaris lepas dari genggaman. Di dalam garasinya dia menyimpan segulung selang merah, biasa dipakai menyiram tanaman dan mencuci mobil. Sembari mengepit gagang payung di antara leher dan pundak kiri, dia membawa selang itu ke kran di dekat halaman, lalu memasang salah satu ujungnya. Setelah itu dia memutar kran. Air deras memancar melewati selang. Dion lekas mengarahkan air itu menuju pohon mawar.

Dengan tangan kiri memegang payung dan tangan kanan menyorotkan selang, siapapun yang melihat bisa jadi mempertanyakan kewarasan Dion. Namun, pagi itu tak ada yang melintas. Dia membersihkan setiap batang, daun, dan bunga--yang tersisa--dari lumpur dan air hujan. Sembari sibuk menyiram benaknya turut berpikir. Apa sebaiknya dia membungkus sang mawar dengan lapisan plastik? Atau memasukkannya ke dalam pot saja supaya mudah dipindah jika hujan? Nanti akan dia diskusikan dengan Dewi.

Dion membayangkan kelegaan di paras istrinya nanti, setelah mengetahui aksinya menyelamatkan pohon ini. Meskipun tubuhnya kedinginan, walaupun lelah, dia tidak keberatan sama sekali. Dorongan perasaannya kepada sang istri membuat Dion menyenandungkan lagu Daniel Bedingfield dengan penuh penghayatan.

Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and
Pray for the strength to stand today
'Cause I love you, whether it's wrong or right
And though I can't be with you tonight
You know my heart is by your side

Cilacap, 070616-070626