M. Reza Sulaiman | Nur Khikmatia Hasna
Ilustrasi perempuan, naga, dan gua penuh harta (Pixabay/ArtDreams92)
Nur Khikmatia Hasna

Namanya Sera, dan ia sudah berjalan tiga hari tanpa istirahat yang berarti. Peta tua yang ia temukan di laci meja kakeknya hampir hancur di tangannya, tepinya sobek dan tintanya luntur separuh. Namun, Sera menghafalkan setiap garis di atas kertas itu layaknya menghafal wajah ayahnya yang makin pucat setiap harinya. Penyakit misterius itu datang tanpa permisi, menggerogoti tubuh sang ayah perlahan seperti api memakan kayu basah.

Tabib desa berkata hanya satu yang bisa menyembuhkannya, yakni Kristal Embun Fajar yang tersimpan jauh di dalam Gua Kalabu. Tempat tersebut kabarnya tidak pernah ditemukan oleh siapa pun yang masih hidup.

Sera tidak peduli. Ia melewati hutan lebat yang pohonnya saling bertautan membentuk langit-langit alami. Ia menyeberangi sungai berbatu yang airnya setinggi pinggang dan dinginnya menggigit tulang. Ketika malam turun, ia tidur beralaskan akar dan beratap bintang, menggenggam peta itu erat-erat sampai telapak tangannya merah.

Hari keempat, ia menemukan tebing batu kelabu yang menjulang layaknya raksasa tidur. Di kakinya, tersembunyi di balik rimbun pakis setinggi bahu, ada celah sempit yang baru terlihat kalau seseorang berdiri tepat di depannya. Sera menekan tubuhnya masuk, membiarkan batu kasar menggores lengannya, dan tiba-tiba ia berada di dalam kegelapan yang benar-benar pekat.

Ia menyalakan obor. Dunia pun seketika berubah.

Gua itu bukan sekadar lubang di dalam batu. Dindingnya berkilauan dari ribuan kristal kecil yang memantulkan cahaya obornya menjadi tarian warna yang memenuhi seluruh ruangan. Di lantainya terserak koin emas yang menumpuk seperti bukit kecil. Permata merah dan hijau berserakan di antara batu-batu biasa, sedangkan berlian sebesar kepalan tangan memancarkan cahayanya sendiri tanpa perlu sumber cahaya dari mana pun.

Sera menelan ludah. Ia melangkah hati-hati melewati tumpukan harta itu. Matanya menyisir setiap sudut mencari kilau biru keperakan yang digambarkan tabib desa sebagai penanda Kristal Embun Fajar. Setiap langkahnya menimbulkan gemerincing koin emas yang terinjak, dan suara itu bergema memenuhi gua. Terlalu keras.

Dari kedalaman gua yang lebih jauh, terdengar suara napas. Berat. Panjang. Seperti angin yang berembus melalui terowongan batu. Sera membeku.

Sosok itu muncul dari kegelapan perlahan sekali layaknya mimpi buruk yang mengejawantah. Naga itu besar, jauh lebih besar dari yang pernah Sera bayangkan dalam dongeng mana pun. Sisiknya berwarna tembaga tua yang berkilat, matanya kuning seperti dua matahari kecil yang menyala, dan dari lubang hidungnya keluar asap tipis yang berbau belerang.

"Manusia," suaranya bukan suara yang Sera kenal. Bukan suara binatang, bukan pula suara manusia, melainkan sesuatu di antaranya yang membuat dada Sera bergetar. "Berapa banyak yang datang ke sini untuk mencuri hartaku."

"Aku tidak datang untuk mencuri." Sera memaksakan suaranya keluar meski lututnya gemetar. "Aku datang untuk satu benda saja, Kristal Embun Fajar. Ayahku sekarat."

Mata kuning itu menyipitkan diri. "Semua yang datang punya alasan. Harta ini milikku. Pergi, atau aku bakar kamu sampai jadi abu."

Api pertama meluncur. Sera berguling ke samping dan bersembunyi di balik batu besar. Panasnya menyambar pipi. Obor di tangannya padam, tetapi justru saat itulah Sera melihatnya. Di sudut paling dalam gua, di atas batu yang tingginya setengah tubuhnya, sebuah kristal bercahaya biru keperakan berdenyut pelan layaknya jantung yang masih hidup.

Kristal itu ada.

Sera tidak berpikir panjang. Ia berlari bukan menjauh, melainkan justru ke arah naga itu, membuat binatang raksasa tersebut terkejut. Sedetik kemudian, Sera melesat ke sisi kiri, memanjat tumpukan koin dan batu yang bergeser di bawah kakinya, bergelantungan di tonjolan batu dinding gua yang dingin, lalu melompat.

Tangannya meraih kristal itu. Cahaya biru meledak dari genggamannya, memenuhi seluruh gua, dan naga itu mundur mendesis. Cahaya itu bukan cahaya biasa, ada kehangatan di dalamnya yang menjalari telapak tangan Sera sampai ke dadanya, seperti pelukan yang lama dirindukan.

Naga itu menatapnya lama.

"Kristal itu memilih," akhirnya suara besar itu berkata pelan. "Ia tidak pernah mau diambil oleh tangan yang serakah." Kepala besar itu menunduk sedikit, sangat sedikit, tetapi cukup untuk Sera menyadari bahwa itu adalah isyarat. "Pergi. Sembuhkan ayahmu."

Sera tidak menunggu dua kali. Ia berlari keluar dengan kristal hangat berdenyut di kepalan tangannya, menembus celah sempit, melewati pakis, dan tiba di bawah langit biru yang lebar. Kakinya sudah lelah, tangannya penuh luka goresan, rambutnya berantakan, dan bajunya kotor.

Namun, ia tertawa. Perjalanan pulang masih panjang, tetapi untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, Sera tidak takut.

Sera tiba di rumah saat senja. Ia langsung masuk ke kamar ayahnya tanpa menyapa siapa pun. Tabib desa melarutkan kristal itu ke dalam air hangat yang seketika berubah biru jernih, lalu ayahnya meminumnya perlahan. Sera menggenggam tangan dingin itu erat-erat, menahan napas, dan menunggu.

Perlahan warna kembali ke pipi sang ayah, napasnya menjadi lebih teratur, dan jari-jarinya yang dingin mulai terasa hangat. Ayahnya membuka mata dan tersenyum, bukan senyum lemah orang sakit, melainkan senyum sungguhan yang sudah lama Sera rindukan.

Malam itu, rumah mereka penuh tawa dan tetangga yang berdatangan. Namun, Sera hanya duduk diam di sudut sambil menggenggam cangkir teh hangat, memandangi ayahnya yang sudah bisa duduk dan berbicara keras lagi. Ia memikirkan gua berkilauan, naga bermata kuning, dan kristal yang berdenyut hangat di tangannya selama tiga hari perjalanan pulang. Apa pun yang terjadi di dalam sana, malam ini semuanya terbayar lunas.