Hayuning Ratri Hapsari | Nur Khikmatia Hasna
Ilustrasi Warno yang sedang melakukan pesugihan dan Danu yang bersembunyi di balik pagar bambu (Gemini AI)
Nur Khikmatia Hasna

Warto sudah tiga tahun jadi orang paling kaya di Desa Ranggon. Rumahnya megah, sawahnya luas membentang sampai batas hutan, dan tiap bulan ada saja mobil baru terparkir di halamannya. Orang-orang desa memuji rezekinya, tapi di balik pujian itu, selalu ada bisik-bisik yang tak pernah berhenti.

"Warto pesugihan," kata Mbah Ijah suatu malam sambil mengunyah sirih. "Lihat saja, tiap ada yang mendadak mati aneh di desa ini, hartanya Warto makin numpuk."

Aku, Danu, cucu Mbah Ijah, awalnya menganggap itu cuma gosip iri hati orang-orang miskin. Sampai suatu malam aku melihat sendiri apa yang terjadi di rumah Warto.

Malam itu aku baru pulang dari memancing di sungai belakang rumahnya. Langit gelap tanpa bulan, hanya suara jangkrik dan angin yang menembus dedaunan bambu. Saat melintasi pagar belakang rumah Warto, aku mendengar suara gamelan pelan, aneh, seperti dimainkan dari jarak yang sangat jauh namun terdengar jelas di telinga.

Aku mengintip dari celah pagar bambu. Di halaman belakang, ada sesajen besar tersusun rapi, buah-buahan, kembang tujuh rupa, dan sepiring nasi kuning dengan ayam utuh. Warto duduk bersila di depan sesajen itu, matanya terpejam, mulutnya komat-kamit. Di belakangnya berdiri seorang lelaki tua berjubah hitam yang tak pernah kulihat sebelumnya di desa.

Yang membuat bulu kudukku berdiri bukan sesajen atau mantra itu, melainkan bayangan yang bergerak di sekitar mereka. Bayangan itu tidak punya bentuk tetap, kadang seperti ular raksasa, kadang seperti sosok manusia tanpa wajah, meliuk-liuk mengelilingi Warto seolah menunggu sesuatu.

Aku nyaris berlari pulang saat lelaki berjubah itu bicara, suaranya berat dan datar.

"Sudah waktunya membayar, Warto. Tiga tahun sudah berjalan. Kau tahu perjanjiannya."

Warto membuka mata, wajahnya pucat. "Aku sudah kasih semua yang kau minta. Sesajen tiap bulan, uang untuk ritual, apa lagi?"

"Bukan uang," kata lelaki itu pelan. "Nyawa. Satu nyawa yang paling kau sayangi, sebelum bulan purnama berikutnya. Kalau tidak, yang diambil adalah nyawamu sendiri."

Aku hampir tak percaya pada apa yang kudengar. Warto, yang selama ini dipuja karena kedermawanannya membagi sedekah, ternyata membayar kekayaannya dengan nyawa manusia. Aku ingat, tiga tahun terakhir memang ada tiga kematian aneh di desa. Pak Slamet yang tiba-tiba jatuh dari pohon kelapa padahal dia pemanjat ulung. Bu Yanti yang ditemukan tak bernyawa di sumur belakang rumahnya tanpa luka apa pun. Dan si kecil Rian, anak tetangga Warto, yang hilang saat bermain di sawah dan ditemukan tiga hari kemudian sudah menjadi mayat kaku di lumbung padi.

Aku berlari pulang malam itu juga, jantungku berdegup kencang. Aku ingin cerita ke Mbah Ijah, tapi begitu sampai di rumah, aku ragu. Siapa yang akan percaya cerita seorang pemuda yang mengintip rumah orang di malam buta?

Esok paginya, desa gempar. Anak semata wayang Warto, gadis kecil bernama Sari yang baru berumur delapan tahun, dikabarkan hilang. Warto histeris mencarinya ke seluruh penjuru desa, air matanya deras mengalir, tapi entah kenapa gerak-geriknya terlihat aneh bagiku. Terlalu tenang di sela-sela tangisannya, seperti orang yang sudah tahu ke mana harus mencari, atau justru sudah tahu bahwa mencari pun percuma.

Malam itu aku memutuskan kembali ke rumah Warto, kali ini membawa golok warisan kakekku. Aku menunggu di balik pagar bambu yang sama, dan benar saja, tengah malam Warto keluar sendirian membawa buntalan kain putih. Aku mengikutinya diam-diam menuju hutan di belakang desa, tempat konon dulu ada makam keramat yang sudah lama tak terurus.

Di sana, di bawah pohon beringin tua, lelaki berjubah hitam sudah menunggu. Warto menyerahkan buntalan itu dengan tangan gemetar, air mata membasahi pipinya.

"Ini anakku satu-satunya," bisik Warto. "Tolong, jangan sakiti dia terlalu lama."

Aku tak bisa diam lagi. Aku melompat dari persembunyian, golok terhunus, berteriak agar Warto menghentikan semuanya. Tapi begitu buntalan kain putih itu terbuka, aku terperanjat. Bukan Sari yang ada di dalamnya, melainkan boneka jerami berbentuk manusia, dengan seikat rambut Sari terikat di kepalanya.

Lelaki berjubah itu tertawa pelan. "Cerdik juga kau, Warto. Tapi tumbal palsu tak akan menyelamatkanmu."

Bayangan tanpa wajah itu muncul lagi, kali ini bergerak cepat mengelilingi Warto. Aku menarik lengan Warto, mencoba menyeretnya lari, tapi bayangan itu sudah lebih dulu membelit kakinya. Teriakan Warto menggema di hutan, semakin lama semakin pelan, sampai akhirnya senyap total.

Ketika aku menoleh, Warto sudah tak ada. Yang tersisa hanya boneka jerami tadi, kini hangus terbakar tanpa api.

Sari ditemukan tiga hari kemudian, selamat, bersembunyi di rumah bibinya di desa sebelah, tak tahu apa-apa tentang malam itu. Rumah besar Warto perlahan roboh dimakan usia, sawahnya kembali jadi milik warga desa yang dulu terpaksa menjualnya. Sedangkan aku, sampai sekarang, tak pernah lagi berani lewat di dekat pohon beringin tua di belakang desa, apalagi saat bulan purnama tiba.