Lintang Siltya Utami | Fikri Abdillah
Ilustrasi gambar naik ke bukit belakang (@claudeai)
Fikri Abdillah

Setiap sore selepas hujan reda, Ningsih akan naik ke bukit kecil di belakang rumahnya, membawa setumpuk kertas warna-warni yang sudah dilipatnya menjadi burung-burung kecil. Satu per satu ia lepaskan ke udara, membiarkan angin membawanya entah ke mana, sambil membisikkan pesan yang sama setiap kali.

“Ini buat Kak Bayu. Semoga sampai.”

Kak Bayu, kakak satu-satunya yang dimiliki Ningsih, sudah lima tahun merantau ke kota seberang laut untuk bekerja di kapal kargo. Awalnya ia rajin mengirim surat dan uang setiap bulan, tapi sejak dua tahun terakhir kabarnya makin jarang. Ibu bilang, mungkin sinyal di kapal susah, mungkin Kak Bayu sedang sibuk. Tapi Ningsih, yang saat itu baru berusia sembilan tahun, punya caranya sendiri untuk tetap merasa dekat dengan kakaknya—melipat burung kertas dan menitipkannya pada angin.

Kebiasaan itu ia mulai setelah membaca cerita rakyat dari neneknya, tentang seorang perempuan yang mengirim pesan kepada kekasihnya yang berlayar dengan cara melepas burung kertas dari puncak bukit tertinggi di desa. Konon, angin laut akan membawa pesan itu menyeberangi lautan, sampai ke tangan yang tepat.

Ningsih tahu itu mungkin cuma dongeng. Tapi setiap kali ia melepas burung kertasnya dan melihatnya terbang menghilang ke arah laut, ada rasa lega yang sulit dijelaskan, seolah ia baru saja benar-benar bicara dengan kakaknya.

Ia menuliskan hal-hal kecil di setiap burung sebelum melipatnya—nilai ulangan matematikanya yang naik, pohon mangga di halaman yang akhirnya berbuah, Ibu yang mulai bisa tidur nyenyak lagi setelah lama sakit. Hal-hal sederhana yang ingin ia ceritakan langsung, seandainya Kak Bayu ada di rumah.

Tahun demi tahun berlalu. Ningsih tumbuh remaja, lalu memasuki bangku SMA di kota kecamatan, jauh dari bukit tempatnya dulu melipat burung kertas. Kebiasaan itu perlahan memudar, tergantikan oleh tugas sekolah dan rutinitas baru. Tapi setiap kali pulang ke rumah nenek saat libur panjang, ia selalu menyempatkan naik ke bukit itu sekali lagi, melipat satu burung kertas, lalu melepaskannya seperti dulu—lebih sebagai kebiasaan menenangkan diri ketimbang harapan sungguhan bahwa pesannya akan sampai.

Suatu sore di penghujung liburan kelas dua belas, Ningsih kembali naik ke bukit itu. Angin sore berembus cukup kencang, membawa aroma garam dari laut yang jauh. Ia melipat burung kertas terakhir sebelum kembali ke kota esok paginya, menuliskan pesan yang lebih personal dari biasanya:

“Kak, Ningsih sebentar lagi lulus SMA. Ningsih kangen. Semoga Kak Bayu baik-baik saja, di mana pun sekarang.”

Ia lepaskan burung itu ke udara, menyaksikannya berputar-putar sejenak sebelum akhirnya terbawa angin, menghilang di balik pepohonan menuju arah laut, seperti ratusan burung kertas lain sebelumnya.

Tiga bulan kemudian, saat Ningsih baru saja menyelesaikan ujian akhir, sebuah mobil asing berhenti di depan rumah neneknya. Seorang pria berkulit gelap terbakar matahari, membawa tas ransel lusuh, turun perlahan dengan langkah yang terlihat ragu, seolah takut rumah itu sudah berubah terlalu banyak sejak terakhir ia lihat.

Ningsih yang sedang menyapu halaman nyaris tak mengenali sosok itu—sampai pria itu tersenyum, senyum yang sama persis dengan yang ia ingat dari foto-foto lama di album keluarga.

“Kak Bayu?”

Pria itu mengangguk, matanya berkaca-kaca. “Ningsih sudah segede ini sekarang.”

Malam itu, di teras rumah yang sama tempat mereka dulu sering duduk bersama sebelum Kak Bayu berangkat merantau, Bayu bercerita panjang lebar. Kapal kargo tempatnya bekerja sempat mengalami masalah kontrak selama setahun terakhir, membuatnya kesulitan mengirim kabar maupun uang. Ia sempat merasa malu untuk pulang tanpa membawa hasil yang berarti, sampai akhirnya kontrak barunya selesai dan ia memutuskan pulang apa adanya.

“Kak sebenarnya sempat ragu buat balik,” kata Bayu pelan. “Tapi entah kenapa, beberapa bulan terakhir Kak sering banget kepikiran rumah, kepikiran Ningsih. Rasanya kayak ada yang terus manggil Kak buat pulang.”

Ningsih terdiam, lalu tersenyum kecil, teringat burung kertas terakhir yang ia lepas dari bukit tiga bulan lalu.

“Mungkin itu burung kertas Ningsih yang akhirnya sampai, Kak,” katanya setengah bercanda, setengah percaya.

Bayu tertawa pelan, merangkul adiknya. Ia tak pernah tahu soal kebiasaan burung kertas itu, tapi malam itu, mendengar cerita Ningsih tentang bukit dan angin yang setia membawa pesan selama bertahun-tahun, ia merasa ada benang tak kasat mata yang selama ini menghubungkan mereka berdua, melintasi jarak yang jauh lebih panjang dari sekadar lautan.

Keesokan sorenya, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Ningsih dan Bayu naik bersama ke bukit kecil di belakang rumah. Mereka melipat dua burung kertas, melepaskannya bersamaan ke udara sore yang cerah—bukan lagi sebagai pesan yang harus menyeberangi lautan, melainkan sebagai rayakan sederhana bahwa kali ini, jawabannya sudah pulang duluan, jauh sebelum burung kertas itu sempat terbang.

Baca Juga