Sentilan kritis publik mengenai polemik ketertinggalan mutu pendidikan Indonesia belakangan ini kembali memicu perdebatan hangat. Ranah diskusi publik seolah terbelah: sebagian pihak sibuk menyalahkan figur dan kurikulum, sedangkan pihak lain terjebak dalam pembelaan statistik yang kaku.
Namun, jika mau menanggalkan sejenak atribut politik dan perdebatan figur, ada pertanyaan mendasar yang terlewat: mengapa dengan anggaran pendidikan yang terus melonjak, kualitas belajar anak-anak di pelosok negeri tetap saja terseok-seok?
Masalah utamanya bukan sekadar pada siapa yang memimpin atau jargon kurikulum apa yang sedang dipakai, melainkan pada keterpaksaan kita memberlakukan satu standar kaku untuk negeri yang sangat beragam.
Mitos Kebijakan "Satu Ukuran untuk Semua"
Selama berpuluh-puluh tahun, tata kelola pendidikan di Indonesia mengidap penyakit monolitik. Kebijakan dirancang dari meja-meja berpendingin udara di Jakarta, lalu dipaksakan berlaku persis sama dari Sabang sampai Merauke.
Sistem ini berasumsi bahwa anak di Jakarta Selatan memiliki kesiapan, akses infrastruktur, dan daya dukung lingkungan yang setara dengan anak di pedalaman NTT atau pesisir Maluku. Hasilnya sudah bisa ditebak: standar mekanis yang sama justru melestarikan ketimpangan. Sekolah di daerah terbelakang dipaksa mengejar indikator administratif kota besar, alih-alih fokus membangun kompetensi dasar yang relevan dengan realitas hidup mereka.
Solusi Tajam: Tata Kelola Asimetris
Sudah saatnya Indonesia beralih menerapkan Asymmetric Educational Governance atau Tata Kelola Pendidikan Asimetris.
Pemerintah pusat tidak boleh lagi memosisikan diri sebagai penentu tunggal segalanya, melainkan sebagai fasilitator fleksibilitas. Daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) harus diberikan kewenangan khusus untuk menyesuaikan kurikulum dan alokasi anggaran berbasis kearifan lokal.
Dalam model tata kelola asimetris ini, terdapat tiga pijakan utama:
- Fleksibilitas Kurikulum Kontekstual: Pada tahap awal, fokus daerah 3T tidak boleh dipaksakan pada capaian akademis mekanis yang sama dengan wilayah metropolitan. Fokus harus diarahkan pada pembenahan literasi-numerasi dasar serta keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan potensi ekonomi daerah.
- Otonomi Anggaran Berbasis Kebutuhan Riil: Alokasi anggaran tidak dihitung secara konvensional per kepala, melainkan disesuaikan dengan indeks kesulitan geografis dan tingkat ketimpangan infrastruktur daerah.
- Standardisasi Bertahap: Penilaian keberhasilan daerah dilakukan berdasarkan kurva kemajuan internal (growth mindset), bukan diperbandingkan langsung secara apple-to-apple dengan kota berkembang.
Mengubah Arah Perbincangan Publik
Menyoroti masalah pendidikan hanya dari kacamata debat elite atau perdebatan angka PISA semata tidak akan pernah menyentuh akar rumput. Ketertinggalan pendidikan hanya bisa diurai jika kita berani mengakui bahwa keadilan tidak selalu berarti keseragaman.
Memperlakukan daerah dengan kapasitas berbeda secara seragam adalah bentuk ketidakadilan paling nyata dalam pendidikan.
Lantas, sampai kapan kita akan terus memaksa anak-anak di pedalaman memanjat pohon yang sama dengan anak-anak di perkotaan, lalu memberi label "tertinggal" ketika mereka gagal mencapai puncaknya bersamaan?
Baca Juga
-
Telat Sehari, Ulang dari Nol: Menggugat Logika Aturan Perpanjangan SIM
-
Sarjana Beban Industri: Sampai Kapan Lulusan Diminta "Langsung Jadi"?
-
Indonesia Emas 2045: Mungkinkah Berinovasi jika Sewa Rumah Saja Cemas?
-
Pasar Modal Serok Rp125 Triliun: Pesta Raksasa yang Lupa Mengundang UMKM
-
Investasi Pariwisata Tembus Rp39 Triliun: Warga Lokal Ikut Kaya atau Cuma Jadi Penonton?
Artikel Terkait
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Penjelasan Menkeu Purbaya Soal Anggaran MBG Rp240 Triliun dan Alokasi Pendidikan
-
Rp 240 Triliun Biaya MBG Masuk Anggaran Pendidikan 2027, Pemerintah Dinilai Kangkangi Putusan MK
-
Data Sering Nyangkut, DPRD DKI Minta Mekanisme Sanggah Manual untuk Desil Warga
-
Tegas! Menkeu Purbaya Ungkap Tak Ada Kenaikan Gaji Guru di 2027
Kolom
-
Ironi di Negeri Tropis: Buah Melimpah, Harga Tak Ramah
-
Ibu Rumah Tangga: Karyawan Tanpa Gaji, Tanpa Cuti, Tanpa Bonus
-
Jangan Terlalu Cepat Menyalahkan Guru: Stop Saling Lempar Tanggung Jawab
-
Loud Budgeting: Dompet Selamat, tapi Pertemanan Lenyap?
-
Ketika Banyak WNI Berobat ke Penang, Apa yang Perlu Kita Benahi?
Terkini
-
iQOO Neo11 Ultra Siap Jadi Monster Gaming Baru: Usung Chip Gahar dan Baterai Jumbo 9.100 mAh
-
Ulasan Drama Mother and Mom: Kritik terhadap Obsesi Menjadi Ibu Ideal
-
Review Serial Silo Season 1: Adaptasi Novel Wool yang Penuh Teka-Teki Seru!
-
Dari Maryamah Karpov ke Maryam Mah Kapok Garapan Asma Nadia dkk
-
Review Novel Jejak Langkah: Ketika Pena Menjadi Senjata Perlawanan