Hayuning Ratri Hapsari | Rizky Pratama Riyanto
Ilustrasi termometer tanah yang mengindikasikan indikator suhu ekstrem akibat gelombang panas [Unsplash/Immo Wegmann]
Rizky Pratama Riyanto

Pada pertengahan Juni 2026, Eropa dilanda gelombang suhu panas ekstrem secara masif hingga beberapa negara suhunya mencapai 40°C. World Health Organization (WHO) menyatakan lebih dari 1.300 orang wafat akibat gelombang panas ekstrem di Eropa. Masyarakat bahkan berburu pendingin ruangan karena panas yang menyengat.

Musim panas di Eropa memang berlangsung dari Juni hingga Agustus. Akan tetapi, pada periode ini justru musim panas tersebut diperparah dengan perubahan iklim global dan terjebaknya udara panas di Gurun Sahara. Kondisi ini diperburuk ketika beberapa negara mencatat rekor suhu tinggi.

Infrastruktur yang dirancang untuk memerangkap panas hingga minimnya pendingin ruangan di rumah warga dan fasilitas umum membuat negara-negara di Eropa sebenarnya tidak siap untuk menghadapi cuaca panas ekstrem. Terlebih lagi, infrastrukturnya didesain untuk menghadapi musim dingin yang panjang.

Lantas, bagaimana jika kondisi tersebut dikomparasikan dengan Indonesia yang secara geografis tepat berada di garis khatulistiwa? Mengapa wilayah kita justru jarang menyentuh angka suhu seekstrem benua biru saat ini? 

Perbedaan Kelembapan dan Radiasi 

Indonesia memiliki kelembapan lebih tinggi dibandingkan Eropa yang secara relatif berada di atas 80 persen, sementara Eropa umumnya berkisar di antara 50–70 persen. Kelembapan udara yang tinggi di Indonesia membuat panas justru terasa “gerah” atau lembap. 

Sebaliknya, di Eropa yang memiliki kelembapan udara rendah, banyak infrastruktur yang memerangkap panas, dan minimnya pendingin ruangan di rumah warga membuat panasnya jauh lebih menusuk ke kulit bagaikan terperangkap di dalam sebuah oven.

Secara sederhana, kelembapan udara menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung di dalam udara. Uap air tersebut berasal dari proses penguapan air di laut, sungai, danau, tanah, serta transpirasi dari tumbuhan. Tanpa adanya proses-proses tersebut, kandungan uap air di atmosfer akan sangat sedikit sehingga kelembapan udara menjadi rendah.

Jika diibaratkan udara adalah seorang manusia, maka udara di Indonesia seperti memiliki "perut" yang selalu penuh karena terus menerima pasokan uap air dari lautan yang luas, suhu yang hangat, dan vegetasi yang melimpah. Akibatnya, kelembapan udara di Indonesia cenderung tinggi. Begitu pula yang terjadi sebaliknya di Eropa.

Durasi Paparan Sinar Matahari

Banyak orang awam mengira bahwa Indonesia lebih banyak menerima panas matahari, padahal durasi siang dan malamnya yang konsisten membuat bumi di wilayah Indonesia memiliki waktu selama 12 jam di malam hari untuk melepas panas kembali ke angkasa dan mendinginkan permukaannya.

Berbeda halnya dengan yang terjadi di Eropa saat puncak musim panas tiba. Kemiringan sumbu rotasi bumi menjadi salah satu faktor penyebab mengapa durasi siang di Eropa jauh lebih lama. Matahari bisa terbit lebih awal dan baru terbenam di malam hari. 

Ibaratnya, atmosfer di Indonesia hanya bekerja sesuai jam kerja normal selama 12 jam, sementara di Eropa dipaksa untuk lembur hingga 18 jam sehari. Alhasil, tanah dan bangunan di Eropa tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri. 

Sisa energi panas dari hari sebelumnya belum sempat habis dibuang sehingga akumulasi sisa panas yang bertumpuk dari hari ke hari inilah yang membuat suhu di Eropa terus merangkak naik hingga menembus angka ekstrem.

Kesimpulan

Dengan demikian, meskipun Indonesia berada tepat di garis khatulistiwa, wilayah ini jarang mengalami suhu ekstrem seperti Eropa karena adanya perbedaan kelembapan udara dan durasi pelepasan panas bumi. 

Kelembapan udara Indonesia yang konsisten di atas 80 persen akibat luasnya lautan dan vegetasi melimpah membuat suhu terasa gerah, berbeda dengan Eropa yang kering dan memerangkap panas layaknya oven akibat infrastruktur yang minim pendingin ruangan. 

Selain itu, Indonesia diuntungkan oleh siklus siang dan malam yang seimbang selama 12 jam, memberikan waktu yang cukup bagi bumi untuk melepas panas kembali ke angkasa. Sebaliknya, wilayah Eropa saat musim panas dipaksa menerima paparan matahari hingga 18 jam, sehingga sisa energi panas terus berakumulasi dari hari ke hari tanpa sempat mendinginkan diri.