Pada pertengahan Juni 2026, Eropa dilanda gelombang suhu panas ekstrem secara masif hingga beberapa negara suhunya mencapai 40°C. World Health Organization (WHO) menyatakan lebih dari 1.300 orang wafat akibat gelombang panas ekstrem di Eropa. Masyarakat bahkan berburu pendingin ruangan karena panas yang menyengat.
Musim panas di Eropa memang berlangsung dari Juni hingga Agustus. Akan tetapi, pada periode ini justru musim panas tersebut diperparah dengan perubahan iklim global dan terjebaknya udara panas di Gurun Sahara. Kondisi ini diperburuk ketika beberapa negara mencatat rekor suhu tinggi.
Infrastruktur yang dirancang untuk memerangkap panas hingga minimnya pendingin ruangan di rumah warga dan fasilitas umum membuat negara-negara di Eropa sebenarnya tidak siap untuk menghadapi cuaca panas ekstrem. Terlebih lagi, infrastrukturnya didesain untuk menghadapi musim dingin yang panjang.
Lantas, bagaimana jika kondisi tersebut dikomparasikan dengan Indonesia yang secara geografis tepat berada di garis khatulistiwa? Mengapa wilayah kita justru jarang menyentuh angka suhu seekstrem benua biru saat ini?
Perbedaan Kelembapan dan Radiasi
Indonesia memiliki kelembapan lebih tinggi dibandingkan Eropa yang secara relatif berada di atas 80 persen, sementara Eropa umumnya berkisar di antara 50–70 persen. Kelembapan udara yang tinggi di Indonesia membuat panas justru terasa “gerah” atau lembap.
Sebaliknya, di Eropa yang memiliki kelembapan udara rendah, banyak infrastruktur yang memerangkap panas, dan minimnya pendingin ruangan di rumah warga membuat panasnya jauh lebih menusuk ke kulit bagaikan terperangkap di dalam sebuah oven.
Secara sederhana, kelembapan udara menunjukkan banyaknya uap air yang terkandung di dalam udara. Uap air tersebut berasal dari proses penguapan air di laut, sungai, danau, tanah, serta transpirasi dari tumbuhan. Tanpa adanya proses-proses tersebut, kandungan uap air di atmosfer akan sangat sedikit sehingga kelembapan udara menjadi rendah.
Jika diibaratkan udara adalah seorang manusia, maka udara di Indonesia seperti memiliki "perut" yang selalu penuh karena terus menerima pasokan uap air dari lautan yang luas, suhu yang hangat, dan vegetasi yang melimpah. Akibatnya, kelembapan udara di Indonesia cenderung tinggi. Begitu pula yang terjadi sebaliknya di Eropa.
Durasi Paparan Sinar Matahari
Banyak orang awam mengira bahwa Indonesia lebih banyak menerima panas matahari, padahal durasi siang dan malamnya yang konsisten membuat bumi di wilayah Indonesia memiliki waktu selama 12 jam di malam hari untuk melepas panas kembali ke angkasa dan mendinginkan permukaannya.
Berbeda halnya dengan yang terjadi di Eropa saat puncak musim panas tiba. Kemiringan sumbu rotasi bumi menjadi salah satu faktor penyebab mengapa durasi siang di Eropa jauh lebih lama. Matahari bisa terbit lebih awal dan baru terbenam di malam hari.
Ibaratnya, atmosfer di Indonesia hanya bekerja sesuai jam kerja normal selama 12 jam, sementara di Eropa dipaksa untuk lembur hingga 18 jam sehari. Alhasil, tanah dan bangunan di Eropa tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.
Sisa energi panas dari hari sebelumnya belum sempat habis dibuang sehingga akumulasi sisa panas yang bertumpuk dari hari ke hari inilah yang membuat suhu di Eropa terus merangkak naik hingga menembus angka ekstrem.
Kesimpulan
Dengan demikian, meskipun Indonesia berada tepat di garis khatulistiwa, wilayah ini jarang mengalami suhu ekstrem seperti Eropa karena adanya perbedaan kelembapan udara dan durasi pelepasan panas bumi.
Kelembapan udara Indonesia yang konsisten di atas 80 persen akibat luasnya lautan dan vegetasi melimpah membuat suhu terasa gerah, berbeda dengan Eropa yang kering dan memerangkap panas layaknya oven akibat infrastruktur yang minim pendingin ruangan.
Selain itu, Indonesia diuntungkan oleh siklus siang dan malam yang seimbang selama 12 jam, memberikan waktu yang cukup bagi bumi untuk melepas panas kembali ke angkasa. Sebaliknya, wilayah Eropa saat musim panas dipaksa menerima paparan matahari hingga 18 jam, sehingga sisa energi panas terus berakumulasi dari hari ke hari tanpa sempat mendinginkan diri.
Baca Juga
-
Dosa Hakim di Sidang Nadiem: Ketika Hak Terdakwa dan KUHAP Teramputasi
-
Jangan Puji Pemerintah karena Kerja: Mengapa Publik Begitu Mudah Terpesona?
-
Relate Sama Korban HTS, Ini Makna Nyesek di Balik Lagu 'Tak Sampai Mekar'
-
Di Tiongkok Guru Setara Dokter, di Indonesia Guru Honorer Dijerat Judi Online: Ada Apa?
-
Kutukan di Balik Dapur SPPG: Ketika Rakyat Miskin Nyaman Jadi Buruh Murah
Artikel Terkait
-
Neraca Perdagangan Indonesia Defisit 1,61 Miliar Dolar AS pada Mei 2026, BI Bakal Lakukan Ini
-
Trakindo Gelar Misi Hijau Bersama Trash Ranger Indonesia, Edukasi Lingkungan Lewat Aksi Nyata
-
Seni Membalas Hujatan: Bule Real 'Comeback' dengan Single Dangdut Komedi 'Hayati'
-
Harry Kane Tempel Lionel Messi di Daftar Top Skor Piala Dunia 2026
-
PSSI Pastikan Stadion Pakansari Siap Jadi Markas Timnas Indonesia di Piala AFF 2026
Kolom
-
Efisiensi atau Diskriminasi? Membaca Ulang Preferensi Rekrutmen Perusahaan
-
Perdamaian di Ujung Harapan: Mengapa Konflik Tak Pernah Benar-Benar Usai?
-
Perjuangan Orang Tua di Balik Antrean PPDB: Antara Pendidikan Anak dan Dompet yang Menipis
-
Kuliah di Persimpangan Zaman: Masihkah Menjadi Investasi Terbaik?
-
Inggris Lolos ke 16 Besar, Tuchel Masih Punya PR Besar Jelang Meksiko
Terkini
-
Sinopsis Madness Next Door, Drama Horor Jepang Dibintangi Rino Katase
-
The East Palace Rilis Trailer Resmi, Nam Joo Hyuk Hadapi Kutukan Istana
-
Trakindo Gelar Misi Hijau Bersama Trash Ranger Indonesia, Edukasi Lingkungan Lewat Aksi Nyata
-
Paling Rendah dalam Seri, Enola Holmes 3 Raih Rating 70% di Rotten Tomatoes
-
Sinopsis Road to Success, Drama China Terbaru Esther Yu dan Chen Jing Ke