Hayuning Ratri Hapsari | Siska Febrianti
Ilustrasi Sepucuk Surat dari Benggala, India (Gemini AI/Nano Banana)
Siska Febrianti

Pagi itu, mentari baru saja keluar dengan penuh semangat, arunika yang hangat memeluk bumi dengan lembut, menghadirkan rasa nyaman bagi siapa saja yang berdiri di bawahnya, cahaya pagi itu belum terlalu terik hanya kehangatan yang seolah mengajak setiap jiwa menikmati hari tanpa tergesa-gesa.

Aku masih menikmati secangkir kopi dan bagel favoritku sambil menikmati suasana pagi dari balik tirai jendela dapur.

“Pagi yang menyenangkan.”

“Kiran, kalau sudah selesai minum kopinya segera bantuin Ibu beres-beres rumah, hari ini Pamanmu yang dari desa mau main ke rumah.”

“Tumben, Bu?”

“Lah kok kamu bilang tumben? Biasanya hampir setiap bulan Paman main ke sini, kamu tahukan kalau Pamanmu itu tidak suka rumah yang berserakan?”

“Iya, tahu, Bu. Baiklah sebentar lagi Kiran bantuin, Bu. Tapi sebelum itu Kiran mau izin joging sebentar di kompleks perumahan, hanya sebentar."

“Joging? Yakin kamu? Harusnya kamu joging dulu baru nyantai bukan kebalikannya.”

“Iya Bu, harusnya begitu. Tapi bagaimana lagi saat melihat Ibu memasak bagel aroma bagel yang baru keluar dari oven membuatku semakin tidak sabar ingin mencobanya.”

“Hmm.. kamu ini, Ibu izinkan, jangan terlalu lama.”

“Oke, siap, Bu.”

Setelah selesai menikmati pagi dengan kopi dan bagel aku pun bergegas untuk berangkat joging.

“Kiran....”

“Seperti ada yang memanggilku.”

“Sendirian aja nih kamu jogingnya?”

“Aduhh, Nana ... kamu itu ya sering banget ngagetin aku, untung jantungku gak copot.”

“Iya.. maaf deh. Hari ini kamu tidak kerja? Kan bukan weekend.”

“Tidak. Aku ambil cuti tiga hari. Selama kerja di BUMC, aku belum pernah sekalipun cuti. Mumet juga kalau kerja terus. Kamu tahu sendiri bagaimana suasana di sana. Aku butuh istirahat. Ditambah lagi, teman-teman di kantor toxic semua. Kubikelku malah dijadikan tempat bergosip.”

“Kamu gak ikutan gosip?”

“Hey Na, kamu baru kenal aku atau sudah lama? Kalau baru, wajar pertanyaanmu itu, tapi kalau sudah lama mending kamu jawab sendiri aja deh.”

“Iya, aku tahu, mana mungkin seorang Kirana Larasati menyukai gosip, mending urus urusan yang lain daripada dengarin gosip yang gak penting, itulah yang ada di kamus Kirana alias Kiran.”

“Hus... sudah meledeknya.”

Nana pun tertawa, pagi itu aku menghabiskan waktu joging bersama Nana, teman waktu aku masih kecil dulu.  

Kami berteman bertiga. Selain aku dan Nana, ada Malini yang biasa kami panggil Lini. Sudah tiga tahun terakhir ia tinggal di Benggala, India, dan belum pernah pulang ke Indonesia. Yang membuatku semakin heran, keluarganya pun seolah menghilang. Hingga hari itu, tak seorang pun di kompleks kami mengetahui keberadaan mereka.

“Kiran, kamu ingat Lini tidak? Kira-kira bagaimana kabarnya di sana? Lini bahkan tidak pernah lagi mengirimi kita kabar, bukankah dia biasanya rutin mengirimi surat? Tapi kamu sadar gak? Sudah tiga tahun terakhir ini Lini tidak mengirimi surat.”

“Iya, aku juga berpikir begitu, Na. Mau menghubunginya tapi kita tidak tahu harus lewat apa, nomornya sudah tidak aktif, dia bahkan tidak pernah memperbarui media sosialnya.”

“Mungkin dia menggunakan nama lain.”

“Itu pasti. Bahkan keluarganya juga sudah pindah tanpa meninggalkan jejak apa pun. Na, sekarang sudah jam berapa?  Aku harus pulang, sampai ketemu lagi di lain waktu.”

Aku segera pulang ke rumah, karena pembahasan soal Lini tadi menghabiskan banyak waktu, dan menguras pikiranku. Aku masih penasaran kenapa Lini menghilang? Apa yang sebenarnya terjadi pada Lini dan keluarganya?”

“Akhirnya, pulang juga. Ibu yang katanya tadi jogging cuma sebentar, tu lihat jam sudah menunjukkan pukul 11.00. Ayo cepat, Kiran, bantu Ibu.”

“Maaf, Bu.”

“Sudah jangan banyak bicara, ayo selesaikan pekerjaanmu.”

“Bu, Ibu ingat dengan Lini teman Kiran waktu kecil dulu, Ibu juga tahukan kalau Lini setiap bulan selalu mengirimkan surat pada kami, tapi tiga tahun terakhir ini kabarnya sudah tidak terdengar lagi. Bahkan keluarganya pun juga ikut menghilang, apa yang sebenarnya terjadi, pasti Ibu tahu sesuatu?”

“Ibu tidak tahu apa pun soal Lini dan keluarganya, tidak ada satu pun tetangga di sini yang membahas soal mereka.”

Cklek...

Suara orang yang sedang mencabut kunci dari motornya terdengar sampai ke dalam, Paman sudah tiba.

“Paman.. cepat banget sampainya.”

“Kamu kira jarak antara desa dengan rumah kamu jauh? Butuh waktu seharian? Cuma sekitar 4 jam.”

“Tapi tetap aja Paman terlalu cepat datangnya, Kiran sama Ibu belum selesai beres-beresnya.”

“Tidak masalah. Oh iya, ini ada surat buat Kiran kata tukang posnya dari luar negeri. Kebetulan tadi pas Paman baru sampai, tukang posnya juga datang, jadi sekalian aja Paman yang ambilin.”

“Apa tidak ada nama di depannya, Paman?”

“Paman rasa tidak, mungkin ini dari teman kamu yang ada di luar negeri.”

Seketika aku mengingat Lini. Aku pun meninggalkan pekerjaan yang belum selesai dan berlari ke rumah Nana. Aku membuka suratnya bersama dengan Nana.

“Kiran.. mau kemana lagi kamu.?”

“Ke rumah Nana, Bu. Ada hal penting yang mau aku sampaikan.”

Sesampainya di rumah Nana, aku langsung membukanya dengan penuh keyakinan.

Benggala, India
15 Juni 2026

Untuk Kiran dan Nana,

Jika surat ini sampai kepada kalian, itu artinya aku berhasil mengirimkan kabar dari tempat yang paling jauh.

Aku kangen kalian, Maaf karena aku membuat kalian khawatir. Aku sendiri tidak tahu harus memulainya dari mana.

Kiran, kamu pasti masih ingat bagaimana kita selalu berjanji untuk bertemu lagi setelah aku pindah ke India. Tapi janji itu tidak pernah benar-benar bisa aku tepati.

Ada sesuatu yang terjadi di Benggala. Bukan tentang kota ini, melainkan tentang rumah yang aku tempati. Sejak malam itu, hidupku tidak pernah sama lagi.

Nana, kamu selalu paling cerewet di antara kita bertiga. Kalau kamu masih sama seperti dulu, mungkin kamu akan marah membaca surat ini sambil berkata, “Kenapa baru sekarang bilang?”

Aku minta maaf.

Jika suatu hari kalian ingin mencari tahu tentangku, jangan datang ke alamat lama rumahku di sini. Rumah itu sudah tidak lagi seperti dulu.

Kalian harus tahu, aku tidak akan  pernah melupakan kalian.

Kalau surat ini sampai, berarti waktuku tidak banyak lagi untuk menjelaskan semuanya, aku harap kalian baik-baik saja.

— Lini

Tidak ada kata lain di penutup surat, hanya ada satu nama yang tersisa di ujungnya, Lini. Aku tidak langsung menjawab, kepalaku penuh pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Benggala. Nama itu, membuat tubuhku merinding. Aku dan Nana saling berpandangan. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, nama Benggala tidak lagi terdengar seperti sebuah tempat, melainkan sebuah peringatan.