Sejak kamu pergi, rumah ini tidak lagi beraroma. Bukan karena tak ada bunga. Sebaliknya, melati di halaman tumbuh semakin lebat, kamboja di sudut pagar berbunga hampir setiap pagi. Tapi entah kenapa, semuanya hambar. Seperti hidungku ikut mati bersama kepergianmu.
Orang-orang bilang surga itu taman. Taman yang luas, penuh bunga yang tak pernah layu. Tempat yang wangi, damai, terang. Tempat anak-anak berlari riang gembira. Namun, setiap kali mendengar itu, aku bertanya-tanya, harumkah bunga di surga jika yang masuk membawa luka?
Aku masih ingat sore terakhir itu. Langit mendung, tapi kau memaksa bermain sepeda di jalan depan rumah.
“Sebentar saja, Ayah,” katamu.
Aku sedang lelah. Lelah oleh pekerjaan, tagihan, dan hidup yang seperti utang panjang.
“Jangan jauh-jauh,” jawabku tanpa menatap wajahmu.
Kau tertawa kecil. Tertawa yang sekarang hanya tersisa dalam gema. Suara rem mendadak. Jeritan. Orang-orang berlari. Dan dunia, seperti dihantam batu besar, retak di satu titik yang tak bisa diperbaiki lagi. Sejak hari itu, aku membenci sore.
Aku benci suara anak-anak tertawa. Membenci sepeda kecil yang masih terparkir di sudut garasi. Membenci diriku sendiri.
Semua orang berkata ini takdir. Semua orang menyuruhku ikhlas. Namun, tak ada yang tahu bagaimana rasanya berdiri di depan liang kecil, menatap tanah yang perlahan menutup seseorang yang seharusnya kau lindungi.
Aku sering duduk di samping pusaramu. Membawa melati dari halaman. Menaburkannya pelan-pelan, seperti dulu kau menabur gula di atas roti bakar.
“Maaf,” hanya itu yang selalu bisa kuucapkan.
Kadang aku bertanya dalam hati, apakah kau marah? Apakah di surga kau masih mengingat wajahku? Atau Tuhan sudah menghapus ingatan tentang ayah yang lalai?
Orang-orang bilang anak kecil langsung masuk surga. Tanpa hisab dan tanya. Langsung berlari ke taman yang dijanjikan.
Aku membayangkanmu di sana. Mengenakan kaus kesukaanmu. Tertawa. Berlari. Tanpa luka. Namun, setiap kali bayangan itu datang, pertanyaan lain ikut menyusul: Apakah bunga di sana tetap harum untuk anak yang pergi dengan rasa takut dan luka?
Karena aku tahu, sebelum semuanya gelap, kau pasti mencariku dengan matamu. Mungkin kau memanggilku. Mungkin kau ingin aku ada di sana. Dan aku tidak ada.
Malam-malamku dipenuhi mimpi yang sama. Kau berdiri di tengah taman yang asing. Banyak bunga bermekaran, lebih indah dari apa pun yang pernah kulihat. Tapi kau tidak tersenyum. Kau hanya menatapku.
“Harum, Yah,” katamu suatu kali dalam mimpi itu.
“Apa?”
“Bunganya harum. Tapi aku lebih suka yang di rumah.”
Aku terbangun dengan dada sesak. Sejak itu aku berhenti menabur melati di pusaramu. Aku biarkan bunga tumbuh liar di halaman, tak kusiram, tak kupangkas. Seolah-olah dengan begitu aku bisa menghukum diriku sendiri.
Sampai suatu pagi, hujan turun deras. Angin mematahkan beberapa ranting. Aku keluar rumah untuk pertama kalinya tanpa merasa marah. Melati itu tetap berbunga. Basah. Wangi.
Dan untuk pertama kalinya sejak kepergianmu, aku bisa menciumnya lagi. Harumnya menusuk, tapi bukan seperti luka. Lebih seperti pelukan yang pelan-pelan diterima.
Aku duduk di teras, membiarkan hujan membasahi wajahku. Entah kenapa, mendadak aku merasa kau tidak pernah membawa kecewa ke mana pun kau pergi. Anak kecil tak menyimpan dendam sepanjang itu, kan?
Mungkin surga memang taman dan bunganya tak pernah layu. Mungkin wanginya bukan tentang sempurna atau tidaknya perpisahan. Sungguh, aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan cukup berani untuk berharap bertemu lagi denganmu. Aku tidak tahu apakah Tuhan mengizinkan ayah sepertiku berdiri di taman yang sama.
Jika benar di sana ada bunga yang lebih wangi dari melati di halaman rumah kita, aku harap kau sedang berlari di antara kelopaknya. Dan jika suatu hari aku diizinkan menyusul, jangan tanya kenapa aku terlambat menyadari banyak hal. Peluk saja aku seperti dulu kau memeluk kakiku setiap pulang kerja.
Lalu katakan, pelan saja. “Yah, di sini bunganya harum abadi.”
Baca Juga
-
Review Best of the Best: Film Tari yang Lupa Memberi Ruang pada Tariannya
-
Antara Fiksi dan Sejarah, Problematika Netflix di Serial Monster: The Lizzie Borden Story
-
Bawa Teror dari Indonesia Timur ke Layar Lebar, Ini Review Jujur Film Suanggi: Ilmu Kutukan
-
Review Film The Last Sunrise: Nikmatnya Jatuh Cinta di Detik-Detik Terakhir
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
Artikel Terkait
Cerita-fiksi
Terkini
-
Maudy Ayunda Minta Maaf, Bukti Nasihat Kesehatan Mental Tak Selalu Bisa Dipukul Rata
-
5 Dessert Unik dari Kimpul ala Ibu Tin, Ada Boba hingga Dubai Chewy Cookie!
-
AI Sebagai Teman Curhat Digital: Ruang Aman Baru atau Ancaman Ketergantungan?
-
Review Film Urang Bunian: Teror Makhluk Gaib di Hutan Sumatera
-
Ketika Sawit Meluas, Akankah Hutan Bertahan untuk Generasi Mendatang?