M. Reza Sulaiman | Reza Agustin
Gambar oleh Bianca Blauth dari Pixabay
Reza Agustin

Ibu bukan tipe orang yang akan punya musuh. Jangankan musuh, teman saja nyaris tidak punya. Dari segelintir teman Ibu yang kuketahui, hanya Tante Marsha yang sering mampir ke rumah kami. Kalau berkunjung, tak pernah datang dengan tangan kosong. Kadang bawa oleh-oleh setelah pergi keluar kota atau keluar negeri, kadang juga dititipi oleh teman yang lain. Orangnya ceria, ramah, dan supel. Aku yakin kalau ialah yang lebih dulu mendekati Ibu. Kalau mengadopsi istilah sekarang jadinya seperti ekstrovert mengadopsi introvert. Hari ini pun Tante Marsha mampir ke rumah menjenguk Ibu yang sudah seminggu ini terbaring sakit. Ia membawa sekeranjang buah dan beberapa botol vitamin.

"Kata dokter gimana?" tanya Tante Marsha kepadaku ketika ia hendak berpamitan pulang. 

"Enggak ada masalah, Tan. Kolesterol, gula, sama darahnya juga masih normal aslinya."

"Terus, kok bisa sih ibumu begitu?"

Aku menggeleng bingung. "Aku juga bingung, Tan. Padahal Ibu orangnya enggak pernah makan aneh-aneh. Gorengan jarang, nasi aja enggak makan, yang manis-manis juga udah berhenti dari beberapa tahun ini. Senam sama yoga seminggu sekali. Tapi bisa sakit begitu."

"Mau Tante carikan dokter lain?"

Aku kembali menggeleng. Sakit yang diderita Ibu bukan sakit yang bisa sembuh karena campur tangan dokter. Dokter sendiri angkat tangan setelah kujelaskan dengan detail gejala apa saja yang Ibu derita. Sakit Ibu bermula sejak waktu magrib datang. Mula-mula ia akan merasa gerah, tetapi juga menggigil kedinginan. Di waktu-waktu tertentu Ibu juga merasa tidak bisa bernapas seperti sedang dicekik. Sampai di tahap seperti orang sedang meregang nyawa, sakaratul maut kalau kata orang-orang. Sehabis itu Ibu akan terkulai lemas dengan mata tertutup dan lidah sedikit terjulur. Ketika pertama kali Ibu mengalami kesulitan bernapas itulah aku merasa benar-benar kehilangan Ibu.

Namun, tak berselang lama Ibu akan kembali terbangun dengan napas terengah-engah. Beberapa jam kemudian ia kembali mengalami hal yang sama. Berulang-ulang hingga Ibu sempat mengucap, "Lebih baik mati saja daripada tersiksa begini."

Setelah dihabiskan dengan menanggung banyak siksaan kala malam tiba, Ibu baru bisa beristirahat ketika pagi tiba. Kendati begitu, seluruh tubuhnya telanjur kehabisan tenaga dan dihabiskan dengan mengkhawatirkan akan mengalami hal sama ketika matahari terbenam. Aku sempat memanggil ustaz untuk mendoakan Ibu, tetapi ia sendiri pun angkat tangan. 

"Saya hanya bisa mengurangi rasa sakitnya, tidak sanggup mencabut penyebab rasa sakitnya."

Ustaz yang menangani Ibu juga terlihat tertekan. Mungkin sakit Ibu salah satu dari banyaknya kasus yang tak bisa ia tangani. Aku pun sudah bertanya ke beberapa saudara dan kerabat Ibu mengenai hal ini. Mayoritas dari mereka pun ingin aku mengambil jalan lain. Pakai jasa dukun. Namun, ide itu masih kupertimbangkan. Hanya aku yang Ibu miliki semenjak Ayah meninggal dua tahun lalu. Akulah yang bertanggungjawab atas Ibu, termasuk menentukan pengobatan Ibu.

"Kalau ada apa-apa, hubungi Tante."

Tante Marsha pamit. Aku sempat menungguinya hingga hilang dibawa mobil mini cooper keluaran terbaru itu. Ada banyak hal yang membuatku bersyukur Ibu memiliki teman seperti Tante Marsha. Kalau bukan karena dia, Ibu pastilah sangat terpuruk setelah kematian Ayah. Ayah sakit stroke untuk waktu lama, Ibu setiap hari merawat Ayah dengan tekun dan telaten. Kehilangan rutinitas merawat Ayah sekaligus sosok Ayah itu sendiri membuat Ibu sempat kehilangan arah. Tante Marsha datang di waktu yang tepat. Ia menjadi tempat Ibu mengobrol dan mengenang masa lalu.

Sore itu menjelang magrib tiba Pakde Bambang yang merupakan sepupu dari Ibu datang berkunjung. Konon, ia memang memiliki kemampuan melihat hal-hal di luar mata manusia. Sejak mendaratkan pandangan pertama kali kepada Ibu, tatapannya tak pernah menyenangkan.

"Pakde bawa ibumu pulang ke rumah Pakde di desa buat diobati. Jangan bilang siapa-siapa kalau ibumu Pakde bawa. Jangan bilang ke siapa pun itu. Kamu ngerti?"

Meski berat rasanya berpisah dari Ibu, tapi aku menurut saja dengan perintah Pakde. Bagaimanapun, Ibu harus sembuh. Sendirian di rumah selama beberapa hari, aku juga khawatir kalau-kalau terjadi teror dari sesuatu tak terlihat di rumah. Beberapa kali aku mendengar sesuatu jatuh di atap atau ledakan petasan dari luar. Namun, tak ada apa pun setelah dicek keluar. Tetanggaku bahkan heran karena tak mendengar suara apa pun.

Pagi ini Tante Marsha datang berkunjung lagi, akan tetapi air mukanya kusut dan terlihat tergesa-gesa. Tanpa menyapa seperti biasa, ia segera bertanya dengan nada menuntut, "Ibumu di mana?!"

"S-saya enggak tahu, Tante. Ibu dibawa berobat sama saudaranya."

"Sekarang di mana?!"

"Saya beneran enggak tahu, Tan."

Selama beberapa menit kami berdebat mengenai keberadaan Ibu saat ini. Pada akhirnya Tante Marsha pun menyerah dan pulang tanpa pamit dengan benar. Ia bahkan sempat memaki, entah pada siapa. Tante Marsha yang biasa ramah itu mendadak berubah menjadi orang lain. Seseorang yang sama sekali tak kukenal. Tante Marsha berubah kasar dan penuntut. Sama sekali tak pernah kubayangkan Tante Marsha menjadi seperti itu. 

Menjelang magrib, aku masih membersihkan kamar Ibu. Selembar foto kutemukan di antara tumpukan album foto masa sekolah mereka. Kulihat foto Ayah di masa muda sedang merangkul Tante Marsha dengan mesra berlatar belakang sekolah bersama teman-teman lain. Ibu berada di sana, menjadi bagian dari latar belakang itu. Ditulis dengan bolpoin di bagian belakang foto "Pasangan Raja dan Ratu Sekolah Tahun 19XX".

Sedang mengamati foto itu, tiba-tiba saja terdengar suara benda keras menghantam atap. Saking kerasnya tanah sampai berguncang. Lantai yang kupijak bergetar hebat. Aku buru-buru keluar dan mendapati mobil Pakde Bambang baru saja terparkir di depan rumah. Ia memerintahkanku segera masuk. Sepertinya hanya rumahku yang terkena guncangan hebat itu. Orang-orang di luar sama sekali tak terdampak apa pun. Mereka masih santai di rumah masing-masing seperti tak terjadi apa-apa.

Di sisi lain Pakde Bambang terlihat tegang. Ia pun berkata, "Jangan pernah berurusan sama perempuan itu lagi. Kamu tahu, 'kan?"

"Tante Marsha?"

"Iya. Dia yang mengirim sakit dan teror di rumah kalian. Jangan pernah percaya lagi sama dia," putus Pakde Bambang.

"Tapi Tante Marsha orangnya baik."

Pakde menggeleng. "Itu cuma kedok. Dia sebetulnya masih dendam pada ibumu yang merebut ayahmu pas mereka berdua masih pacaran dulu. Semenjak ayahmu meninggal, perempuan itu jadi makin benci sama ibumu. Makanya dia mengirim santet ini untuk menyiksanya perlahan. Dia senang ibumu tersiksa. Sekarang dia kelimpungan karena ibumu udah Pakde sembunyikan. Sampai Pakde berhasil memutus santet kirimannya, kamu di desa aja dan jaga ibumu baik-baik."

Aku termangu sambil menatap segaris warna senja yang hilang ditelan malam. Tak pernah kusangka masa lalu akan membelenggu manusia sedemikian eratnya.