Hayuning Ratri Hapsari | Fairus Farizki
Suasana hangat di halaman Akal Buku, Sleman, D.I. Yogyakarta, pada Jumat (21/8/2026), dalam salah satu agenda Jakal Bookshop Fest 2026. Tampak banner festival terpasang di pilar dan pengunjung sedang santai lesehan. (Dok. Pribadi)
Fairus Farizki

Datang ke Akal Buku pada rangkaian Jakal Bookshop Fest 2026, suasananya tidak terasa seperti sedang memasuki sebuah festival buku besar. Toko buku yang berada di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman, itu justru terasa sederhana dan akrab. Pengunjung datang, berbincang, melihat-lihat buku, lalu mengikuti diskusi yang digelar di depan toko.

Di tempat itulah salah satu agenda Jakal Bookshop Fest berlangsung pada Jumat (21/8/2026). Tidak ada satu gedung besar yang menjadi pusat seluruh kegiatan. Pengunjung justru diajak berpindah dari satu toko buku ke toko lainnya di sepanjang Jalan Kaliurang.

Format tersebut menjadi pembeda utama Jakal Bookshop Fest. Festival ini merupakan bagian dari rangkaian Jakal Design Week yang menggabungkan berbagai agenda seperti arsitektur, musik, kriya, UMKM, dan literasi. Dari sekitar 200 aktivasi dalam rangkaian tersebut, sebanyak 140 agenda berasal dari jaringan toko buku Jakal Bookshop Fest.

Menurut Agus Mulyadi, penulis, esais, co-owner Akal Buku sekaligus salah satu inisiator Jakal Bookshop Fest, gagasan tersebut bermula dari obrolan sejumlah pengelola toko buku di sepanjang Jalan Kaliurang. Mereka kemudian membayangkan festival buku yang tidak berpusat pada satu lokasi.

“Jadi, toko buku bukan sekadar menjadi lokasi (venue), melainkan menjadi subjek atau pelaku utama festival,” ujar Agus saat ditemui di Akal Buku setelah acara.

Gagasan tersebut terinspirasi dari festival literasi yang menggunakan banyak ruang sebagai tempat kegiatan. Namun, alih-alih membuat satu festival besar dalam sebuah gedung, para pengelola toko buku memilih menjadikan toko masing-masing sebagai titik kegiatan.

Setiap toko juga diberi kebebasan untuk menentukan program sesuai jejaring komunitasnya. Akal Buku, misalnya, menggelar diskusi lingkungan bersama Trend Asia dan CELIOS. Toko lain menghadirkan agenda berbeda, mulai dari musik, diskusi riset, sastra, hingga program komunitas.

Bagi Agus, format tersebut sekaligus menjadi cara untuk memperkenalkan Jalan Kaliurang sebagai kawasan wisata literasi. JBSF bahkan membuat peta yang memuat 14 toko buku peserta resmi, sekaligus beberapa toko buku lain di kawasan Jakal.

“Kami ingin membangun kebiasaan baru: pengunjung yang datang ke salah satu toko buku di Jakal terdorong untuk menjelajahi toko buku lainnya,” kata Agus.

Konsep itu kemudian diperkuat melalui Bookshop Stamp Rally. Pengunjung memperoleh buklet paspor dan dapat mengumpulkan stempel dengan mengunjungi toko-toko peserta. Agus menyebut pihaknya mencetak 1.000 buklet pada tahap awal, kemudian menambah 2.000 eksemplar karena tingginya minat.

Bagi pengunjung, konsep tersebut memberikan pengalaman yang berbeda dari festival buku yang biasanya terpusat dalam satu gedung. Ahmad Syaikhu, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga yang hadir dalam acara, memberikan nilai 10 dari 10 untuk penyelenggaraan JBSF.

“Bagi saya, ini adalah terobosan format baru bagi festival buku,” ujar Syaikhu. Menurutnya, konsep desentralisasi JBSF membuat pengunjung bergerak dari satu toko ke toko lainnya sekaligus memperluas referensi literasi dan membantu meningkatkan visibilitas toko buku independen lokal.

Lebih dari sekadar festival, Agus melihat pola tersebut sebagai upaya membangun ekosistem toko buku yang saling menopang. Antar-toko bahkan dapat saling membantu stok dan merekomendasikan pengunjung ke toko lain ketika buku yang dicari tidak tersedia.

“Festival ini membuktikan bahwa toko buku independen bisa saling menopang, bukan saling menjatuhkan,” ujar Agus.

Ke depan, Agus berharap model tersebut tidak berhenti di Yogyakarta. Menurutnya, toko buku independen dapat menjadi ruang bagi penulis baru sekaligus tempat publik bertemu dan bertukar gagasan. Ia berharap optimisme serupa dapat tumbuh di kota-kota berbasis mahasiswa lainnya seperti Malang dan Surabaya.