Sudah hampir enam bulan saya mengajar privat bahasa Arab di daerah pedalaman, jauh dari keramaian. Jalan menuju rumah dua murid saya rusak parah, sepi, dan nyaris tak tersentuh lampu jalan.
Begitu malam turun, sekitar dua kilometer jalan berubah jadi lorong gelap tanpa saksi.
Bagian paling menggetarkan adalah ruas jalan yang membelah kebun tebu. Siang hari saja sudah terasa sunyi.
Malam hari, dengan tebu menjulang tinggi di kiri-kanan, jalan itu seperti terowongan hidup. Angker, menekan, dan seolah menelan siapa pun yang melintas.
Malam itu malam Jumat. Hujan baru saja reda ketika saya pamit pulang, sekitar pukul 20.30 WIB.
Jalanan basah, berlubang, dan tergenang. Angin dingin menyapu tubuh, menusuk hingga ke tulang.
Di halaman rumah murid, motor saya baik-baik saja. Mesin normal, lampu terang. Tak ada firasat apa pun. Sampai saya masuk ke tengah kebun tebu.
Tiba-tiba lampu motor padam. Seketika itu juga mesin mati.
Gelap. Sunyi. Total.
Bulu kuduk saya berdiri tanpa aba-aba. Tak ada suara kendaraan, tak ada rumah, tak ada cahaya. Hanya angin basah yang berdesir dan bau tanah lembap dari kebun.
Saya menepi, mencoba menyalakan mesin. Gagal. Coba lagi. Gagal. Sampai lima kali. Tetap nihil.
Saya berhenti.
Dengan keberanian yang dipaksakan, saya turun dan mulai mendorong motor. Bibir komat-kamit membaca doa, ayat Alquran, zikir apa saja yang teringat.
Langkah terasa berat, seperti berjalan di pemakaman luas yang tak terlihat ujungnya.
Tak ada apa pun yang muncul. Justru itu yang membuat rasa takut semakin menekan.
Saya mencoba menyalakan motor lagi setelah berjalan agak jauh. Masih mati. Napas mulai tersengal, jantung berdetak kencang. Ingin berhenti sejenak, tapi tubuh menolak. Siapa pun tak ingin berlama-lama di tempat seperti itu.
Saat jalan mulai menanjak, dengan sisa tenaga dan harapan, saya menekan double starter sekali lagi.
Mesin menyala.
Suara itu terdengar seperti keselamatan.
Saya tak menoleh ke belakang. Langsung tancap gas, meninggalkan kebun tebu dan gelap yang sejak tadi seperti mengintai dalam diam.
Baca Juga
-
Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon
-
Intip Spek Huawei Mate 90 RS Ultimate: Kamera Periskop 200 MP dan Zoom Optik 12x Jadi Sorotan
-
HONOR Pad V9 Resmi Hadir: Tablet Tipis dengan Layar 144Hz dan Baterai Jumbo 10.100 mAh
-
HUAWEI MatePad Air 2026: Tablet Tipis dengan Layar OLED 144Hz dan AI untuk Kerja Lebih Cerdas
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis: Bawa Kipas Pendingin Internal dan Touch Sampling 5.000Hz
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Menikmati Sejuknya Jogja dengan Nuansa Jepang di Onsen Resort Kaliurang
-
Sinopsis 100 Days of Deception: Misi Rahasia di Era Penjajahan Jepang
-
Doomscrolling: Antara Kepedulian Sosial dan Rasa Putus Asa yang Mengintai
-
Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi
-
Resmi di Indonesia! Redmi Note 17 Pro Max Bawa Baterai Jumbo 10.000 mAh