Setan itu pertama kali datang ke rumah anak itu, ketika si anak berumur 14 tahun.
Dibisikinyalah si anak, “Buyung, ngapain kau belajar terus, lebih baik kau nonton saluran musik saja, banyak lagu dan grup musik bagus di sana. Ayo tinggalkan pena dan bukumu, hal yang membosankan itu tidak akan membuat hidupmu lebih baik.”
Anak itu kemudian menuruti bisikan setan itu. Hari-harinya lalu dipenuhi warna-warni suara dan gerak-gerik para penyanyi yang merupakan anak-anak si setan. Satu yang dipelajari oleh si anak dari semua video musik yang ditontonnya itu, yaitu bahwa ia harus mencari kesenangan tanpa henti. Ia kemudian hanya melakukan apa yang ia senangi saja. Hidup adalah mencari kebahagiaan dan kesenangan belaka. Semua buku-buku pelajaran yang tidak disukainya, ditinggalkannya begitu saja. Ia hanya mempelajari mata pelajaran yang disukainya saja.
Setelah lulus SMA, anak itu gagal lulus UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Ia kemudian menganggur selama 1 tahun. Melanglang buana, dari Solok ke Jakarta, kemudian ke Yogyakarta.
Di Yogyakarta ia sempat tinggal di sana selama tiga bulan. Karena badannya yang bongsor, ketika datang ke sebuah asrama mahasiswa Minang, dibawa oleh teman kosnya yang mahasiswa senior, ia mengaku sebagai mahasiswa hukum angkatan tua, tak ada yang meragukan pernyataannya.
Hal yang membuatnya menyadari bahwa kebohongan adalah sesuatu yang menyenangkan. Selanjutnya, ia mulai sering berbohong, bahkan hampir tidak pernah berkata jujur.
Tahun berikutnya, ia lulus UMPTN di sebuah perguruan tinggi di ujung pulau Sumatra. Di sana, ia hampir tak pernah mengatakan hal yang benar tentang dirinya dan perasaannya.
Badannya saat itu kurus kering, karena kehilangan nafsu makan akibat dikhianati kekasihnya, tapi ia bilang dirinya kurus karena kecanduan narkoba.
Para teman-temannya berdemonstrasi, ia memilih pulang ke kamar kosnya, setiap harinya.
Nasib kemudian membawanya ke Yogyakarta. Di kota ini ia kuliah di salah satu universitas negeri ternama.
Jurusan para pemikir dewa. Ia yang sebelumnya terbiasa berbohong, di Yogyakarta dilanjutkannya. Hingga akhirnya ia lupa siapa dirinya sebenarnya.
Di tahun keempatnya di Yogyakarta, ketika teman-teman seangkatannya mulai sibuk menyusun skripsi tentang tatanan dunia dan hegemoni, Buyung justru sibuk merajut mitos tentang dirinya sendiri. Kepada anak-anak aktivis gerakan mahasiswa, ia mengaku sebagai mantan aktivis bawah tanah Sumatra yang sedang buron dikejar-kejar aparat kaki tangan penguasa. Kepada gadis-gadis sastra yang ditemuinya di kantin Bonbin di Fakultas Sastra, ia memasang wajah galau nan melankolis dan mengaku sebagai penyair miskin yang diusir keluarganya dan memilih hidup menjadi seorang bohemian.
Rambutnya yang gondrong, seolah membenarkan semua kata-kata bohong yang keluar dari mulutnya.
Setiap kali kebohongan itu berhasil meluncur dari lidahnya, Buyung merasakan kesenangan yang sama seperti saat ia pertama kali mencampakkan semua buku pelajarannya di usia 14 tahun. Kebohongan telah menjadi candu jenis baru baginya, yaitu sebuah ruang bebas di mana ia bisa menjadi siapa saja, tanpa perlu menghadapi kenyataan bahwa ia hanyalah seorang pemuda pecundang yang kesepian.
Hingga pada suatu malam, di sebuah kamar kos sempit di daerah Pandega pinggiran Jalan Kaliurang, Setan itu datang lagi.
Setan itu tidak lagi berupa suara asing yang berbisik di balik tirai. Kali ini, ia duduk santai di atas tumpukan buku-buku tebal karangan Karl Marx, Nietzsche, dan Gramsci yang sengaja dipajang Buyung di sudut kamar hanya untuk pamer. Setan itu mengenakan jaket almamater universitas negeri ternama, persis seperti yang sering dipakai Buyung untuk petantang-petenteng, atau flexing bahasa anak zaman sekarang.
“Hebat, Buyung. Kau belajar sangat cepat,” kata Setan itu sambil tersenyum ramah, matanya memancarkan warna-warni lampu video musik masa lalu.
Buyung tertegun, badannya yang kini kembali membongsor mendadak gemetar. “Siapa kau? Mahasiswa angkatan atas?”
Setan itu tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memenuhi langit-langit kamar yang berjamur. “Pertanyaan yang bagus dari orang yang menghabiskan separuh umurnya untuk menciptakan nama palsu. Aku adalah gurumu. Aku yang suruh kamu untuk meninggalkan pena dan buku petunjuk hidupmu dulu. Dan lihat dirimu sekarang! Kau sudah melampaui targetku. Kau tidak hanya membohongi orang-orang Solok, Jakarta, dan asrama-asrama di kota ini. Kau bahkan sudah berhasil membohongi dirimu sendiri.”
Buyung terdiam. Ia mencoba mengingat nama aslinya yang tertera di ijazah SMP di kampung halaman, namun otak yang biasa ia gunakan untuk merancang skenario kebohongan mendadak kosong. Nama itu menguap, kalah telak oleh puluhan identitas fiktif yang ia ciptakan setiap hari.
“Lalu, apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Buyung lirih.
Setan itu berdiri, menepuk-nepuk debu di jaket almamaternya, yang warnanya mirip karung goni, lalu melangkah menuju pintu keluar. Sebelum menghilang di kegelapan gang kos-kosan Yogyakarta, ia menoleh dan berbisik pelan, “Aku tidak menginginkan apa-apa lagi, Buyung. Tugasku sudah selesai. Ketika seorang manusia sudah tidak tahu lagi mana wajahnya yang asli dan mana topengnya, maka pada saat itulah ia telah menjadi bagian dari diriku. Selamat menikmati sisa hidupmu di kota para pemikir ini.”
Pintu tertutup rapat. Buyung berjalan gontai menuju cermin di atas meja belajarnya. Ia menatap lekat-lekat pantulan mata di dalam kaca itu, meraba pipi dan tubuh bongsornya, namun ia tetap tidak mengenali siapa bajingan yang sedang berdiri di hadapannya malam itu.
Keesokan harinya, ia terbangun, lupa semua. Ia tidak ingat akan setan yang ditemuinya semalam.
Ia bahkan lupa namanya, dan apa yang tengah dilakukannya di sebuah kota, yang ia juga lupa nama kota itu.
Ia keluar dari kamar kosnya menuju jalan raya, yang dipenuhi berbagai kendaraan berlalu-lalang.
Tanpa alas kaki, ia melangkah. Kanan kiri, orang-orang dilihatnya berjalan begitu saja, tanpa mempedulikan dirinya. Sampai kakinya menghitam akibat debu jalanan yang begitu tebal.
Seorang perempuan separuh baya datang menghampirinya.
“Mengapa tak pakai sandal, Mas?” tanya perempuan itu padanya.
“Ma..maaf, Bu, saya tidak tahu sandal itu apa?”
“Itu lho, Mas, yang buat alas kaki, kalau sedang berjalan.”
“Oh baik, Bu, nanti kalau ketemu saya pakai, terima kasih.”
Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepala, menatapnya dengan pandangan iba yang biasa diberikan orang-orang kota kepada orang yang baru saja gila. Ia lalu berjalan pergi, larut kembali dalam hiruk-pikuk manusia yang bergegas mengejar urusan masing-masing.
Buyung—atau siapa pun nama makhluk yang kini mendiami tubuh bongsor itu—melanjutkan langkah kakinya, yang tetap tanpa alas. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, kepalanya benar-benar bersih dari segala mitos, kebohongan, ataupun teori-teori dunia yang dulu ia puja sedemikian rupa, untuk sekadar pamer. Di dalam tempurung kepalanya, tidak ada lagi Sumatra, tidak ada Solok, tidak ada Jakarta, dan tidak ada nama universitas ternama itu. Semuanya telah hilang.
Ia terus melangkah menyusuri trotoar yang panas. Setiap kali berpapasan dengan papan toko, baliho politik, atau kaos-kaos mahasiswa yang lewat, matanya membaca deretan huruf-huruf itu, tanpa paham makna apa yang dibacanya. Pena dan buku yang dulu ia campakkan atas perintah setan di usia 14 tahun, kini benar-benar telah mengambil kembali seluruh fungsi mereka dari hidupnya. Ia tidak bisa lagi, bahkan untuk sekadar menulis takdirnya sendiri.
Di sebuah perempatan yang dipenuhi oleh banyak kendaraan mengantre di lampu merah, ia berhenti. Ketika menoleh ke kanan, dilihatnya bayangan dirinya samar-samar pada kaca sebuah mobil yang tepat berada beberapa meter darinya. Di sana, seorang lelaki berambut gondrong, bertubuh bongsor, dengan kaki kusam penuh debu sedang menatapnya balik dengan tatapan kosong.
Lampu berubah hijau. Klakson bersahutan membuyarkan lamunan singkatnya. Tanpa tahu ke mana arah utara dan selatan, ia melangkah lagi, larut dalam arus tanpa nama di kota para pemikir yang kini telah melupakan dan dilupakannya.
Sebuah suara selayaknya suara seorang remaja tanggung tiba-tiba berteriak memanggil dirinya.
“Mas! Jangan berjalan terus, duduklah dulu, renungkan, pikirkan, siapa dirimu? Dan mau ke manakah kamu sekarang?”
Ia kaget, dilihatnya ke belakang, ke arah suara berteriak itu. Tak ada siapa-siapa di sana. Ia semakin bingung dengan ini semua.
Di emperan toko yang belum buka, ia mencoba duduk sejenak, merenungkan arah jalan dan hidupnya.
Semenjak ia duduk di atas dua anak tangga dari beton yang dingin itu, kepalanya yang kosong mulai terasa berdenyut. Suara remaja tanggung tadi terus terngiang, berputar-putar di dalam selayaknya kaset rusak yang diputar di tape recorder, yang biasa dipakai oleh generasinya untuk mendengarkan musik di masa lalu. Siapa dirimu? Mau ke mana kamu sekarang? Pertanyaan-pertanyaan paling dasar yang dulu sering diperdebatkan oleh kawan-kawan kuliahnya di selasar kampus dengan kutipan-kutipan teori rumit, yang memusingkan kepala, kini menjelma menjadi palu godam yang menghantam dadanya.
Ia menatap kedua telapak kakinya yang hitam legam dipenuhi debu jalanan. Di atas debu tebal yang menempel di kulit kakinya itu, ia tiba-tiba merasakan dorongan aneh.
Ia kemudian mulai menggunakan jari telunjuknya yang gemetar, untuk menggoreskan garis demi garis di atas permukaan kakinya yang kotor.
Ia sedang berusaha menulis.
Satu huruf. Dua huruf. Sebuah insting purba dari jemari yang dulu pernah memegang pena sebelum ia campakkan bertahun-tahun lalu. Namun, ketika huruf-huruf itu selesai dituliskan, dan membentuk beberapa kata, ia hanya menatapnya dengan bingung.
Coretan itu tidak membentuk nama, tidak membentuk alamat, pun tidak membentuk sebuah teori tatanan dunia. Coretan di atas debu kakinya itu hanya menyerupai sebuah tanda tanya besar, tanpa jawaban.
Matahari bergerak semakin tinggi, bayangan emperan toko mulai menyusut, dan pemilik toko mungkin akan segera datang untuk mengusirnya dari tangga beton tempat ia duduk. Namun lelaki bongsor berambut gondrong itu tetap tak bergerak. Di tengah hiruk-pikuk Yogyakarta yang terus berputar di sekelilingnya, ia terus duduk menekur, sibuk mengeja dirinya sendiri di atas debu jalanan, mencoba menjadi seorang pemikir sejati yang akhirnya lahir justru setelah kehilangan seluruh dunianya.
Baca Juga
Artikel Terkait
-
Weton Lakuning Setan Apa Maknanya? Kenali Watak dan Deretan Weton yang Dinaungi
-
Pengalaman Horor Kang Pentol, Bertemu Dua Perempuan Misterius dekat Makam
-
Lima Sekawan Terjebak di Mercusuar Tua, Ada Apa dengan Karang Setan?
-
Kutukan Merenggut Jiwa di Hutan Larangan
-
Dilema Ular Jelmaan Pembawa Pesan Petaka dan Tangis Mbah Darmi
Cerita-misteri
Terkini
-
Oktober Penuh Teror! 6 Film Horor di Netflix Ini Siap Bikin Kamu Ketakutan
-
Review Serial Ted Lasso Season 2: Kehangatan Komedi yang Menyentuh Jiwa
-
Kesederhanaan yang Perlahan Pergi
-
Jeongyeon TWICE Debut Akting di Film New Recruit sebagai Perwira Perawat
-
Review Venom: The Last Dance, Penutup Trilogi Antihero yang Sangat Kocak!