Rumah itu berdiri di ujung Desa Sukamerta, terpisah dari rumah warga lain oleh kebun bambu yang rimbun. Catnya mengelupas, jendelanya berdebu, dan pintunya selalu tertutup rapat, seolah menolak siapa pun yang berniat masuk. Warga desa menyebutnya Rumah Wirya, rumah angker yang telah lama ditinggalkan sejak pemiliknya meninggal secara misterius dua puluh tahun silam.
Pada suatu pagi yang berkabut, ketenangan desa itu pecah oleh teriakan Sarti, seorang pedagang sayur yang biasa melintas di jalan setapak dekat rumah tersebut. Ia menemukan pintu Rumah Wirya terbuka, dan di ruang tamu yang gelap, tergeletak sesosok mayat pria dengan luka di bagian kepala.
Korban diketahui bernama Rendra, seorang pengusaha properti dari kota yang berniat membeli tanah dan rumah tua itu. Kabar kematiannya segera menyebar, dan warga kembali membicarakan kutukan Rumah Wirya. Mereka yakin rumah itu menolak siapa pun yang mencoba memilikinya.
Kasus tersebut ditangani oleh Inspektur Bayu, seorang polisi yang dikenal tidak mudah percaya pada cerita mistis. Baginya, setiap kematian pasti memiliki penjelasan logis. Ia tiba di lokasi bersama asistennya, Raka, menjelang siang hari. Di dalam rumah, udara terasa lembap dan dingin. Lantai kayu berderit setiap kali mereka melangkah. Tidak ada tanda-tanda perusakan pintu atau jendela. Di dekat jasad Rendra, Bayu menemukan sebuah patung kayu kecil berbentuk manusia tanpa wajah.
“Warga bilang patung ini sering muncul sendiri,” ujar Raka pelan.
Bayu menggeleng. “Tidak ada benda yang bergerak sendiri tanpa sebab.”
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa Rendra tewas akibat benturan keras dengan benda tumpul. Namun, tidak ada senjata di sekitar lokasi. Jam tangannya berhenti pada pukul sebelas malam. Bayu mulai menggali informasi dari warga. Ia mengetahui bahwa Rendra tidak datang sendirian ke desa itu. Ia ditemani oleh seorang pria bernama Anton, mantan juru kunci rumah tersebut, dan seorang wanita bernama Mira, rekan bisnisnya. Selain itu, kepala desa, Pak Darma, juga sempat bertemu Rendra malam sebelum kematian itu terjadi.
Anton mengaku bahwa ia meninggalkan rumah sekitar pukul sepuluh malam karena merasa tidak nyaman. Ia bersumpah mendengar suara langkah dan bisikan dari lantai atas. Mira, di sisi lain, mengatakan bahwa ia pulang lebih awal karena Rendra bersikeras ingin menginap untuk “menguji” keangkeran rumah itu. Kesaksian Pak Darma terdengar paling tenang. Ia mengatakan bahwa Rendra berselisih paham dengannya soal harga tanah, tetapi mereka berpisah secara baik-baik.
Malam harinya, Bayu memutuskan untuk bermalam di Rumah Wirya. Ia ingin membuktikan bahwa rumah itu tidak seangker yang diceritakan. Saat tengah malam, ia mendengar suara ketukan pelan dari lantai atas. Dengan senter di tangan, Bayu menaiki tangga yang berderit keras. Di sebuah kamar tua, ia menemukan lemari besar yang pintunya sedikit terbuka. Di dalamnya, terdapat bekas goresan dan noda darah kering. Di balik lemari itu, Bayu menemukan palu besi yang dibungkus kain lusuh.
Keesokan paginya, Bayu memanggil semua saksi kembali ke rumah itu. Ia memaparkan temuannya dengan tenang. Palu itu cocok dengan luka di kepala korban. Yang menarik perhatiannya adalah kain pembungkus palu, kain batik khas desa yang biasa dikenakan Pak Darma. Wajah Pak Darma berubah pucat. Bayu menjelaskan bahwa Rendra menemukan dokumen lama di rumah itu, dokumen yang membuktikan tanah tersebut dahulu diambil secara paksa oleh keluarga Pak Darma. Jika dokumen itu diserahkan ke pihak berwenang, Pak Darma bisa kehilangan jabatannya dan hartanya.
Malam itu, Pak Darma datang kembali ke rumah untuk mengambil dokumen tersebut. Pertengkaran terjadi, dan dalam amarahnya, ia memukul Rendra dengan palu. Untuk menutupi perbuatannya, ia memanfaatkan reputasi rumah angker itu dan menyebarkan cerita mistis melalui warga. Pak Darma akhirnya mengakui perbuatannya. Rumah Wirya bukanlah tempat yang dikutuk oleh roh penasaran, melainkan oleh keserakahan manusia.
Ketika polisi membawa Pak Darma pergi, warga desa berkumpul di depan rumah itu. Untuk pertama kalinya, mereka memandang Rumah Wirya tanpa rasa takut berlebihan. Bayu menatap bangunan tua itu dan menarik napas panjang. Ia menyadari bahwa misteri terbesar bukanlah suara-suara atau bayangan di rumah angker, melainkan rahasia kelam manusia yang bersembunyi di baliknya.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
4 Padu Padan Daily Style ala Pharita BABYMONSTER yang Modis dan Wearable!
-
Drama China Our Secret: Dari Bangku Sekolah hingga Kehidupan Dewasa
-
Nova Arianto Tak Disodorkan Jadi Asisten John Herdman, Sebuah Keuntungan atau Kerugian?
-
Lakukan Live Broadcast, Danielle Buka Suara Usai Keluar dari NewJeans
-
Buku Broken Strings: Memoar Keberanian Aurelie Moeremans Menyembuhkan Luka