M. Reza Sulaiman | Habibah Husain
Ilustrasi Sosok Perempuan yang Mengikuti (Gemini AI)
Habibah Husain

Apa jadinya jika kesendirian yang kamu pilih bukan lagi ruang privasimu? Banyak orang takut pada kegelapan, namun bagi sebagian lainnya, yang lebih menakutkan adalah menyadari bahwa mereka tidak benar-benar sendirian di tengah kesunyian. Inilah yang aku alami—seorang pria berusia 31 tahun yang terjebak rutinitas membosankan di sebuah rumah kontrakan tua yang pengap dan berhawa dingin.

Aku menetap di sebuah kontrakan kecil di pinggiran kota. Di usia kepala tiga, pertanyaan "Kapan menikah?" menjadi suara sumbang yang kudengar hampir setiap hari. Bukannya tidak mau, namun langkahku selalu terasa terhambat setiap kali mencoba mendekati wanita. Hubunganku selalu kandas tanpa alasan yang jelas, seolah ada tangan tak kasatmata yang menarikku kembali ke dalam jurang kesendirian.

Sebagai staf administrasi pabrik tekstil, wajahku tidak buruk dan secara ekonomi pun aku mapan. Namun, auraku selalu terasa berat. Teman-teman sering menganggapku terlalu dingin, padahal aku hanya merasa energi terkuras habis setiap kali menginjakkan kaki di rumah. Kontrakan itu memiliki langit-langit tinggi dengan noda bekas rembesan hujan yang sekilas menyerupai wajah menangis. Setiap kali duduk di ruang tamu, aku merasa ada sepasang mata yang mengawasi gerak-gerikku dari balik celah pintu kamar yang gelap.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik. Aku baru pulang pukul sepuluh malam karena lembur. Saat memutar anak kunci, hidungku menangkap aroma yang membaur dengan bau tanah basah. Bau wangi bunga melati yang sangat pekat, seolah ada seseorang yang baru saja menaburkan bunga segar di ruang tamuku yang sempit.

"Mungkin tetangga sebelah sedang membakar dupa," gumamku mencoba menenangkan diri. Namun, logikaku segera membantah; tetangga sebelahku adalah sebuah gudang kosong yang sudah digembok bertahun-tahun. Mana mungkin ada aktivitas manusia di sana selarut ini?

Keanehan berlanjut di kamar mandi. Suara air di dalam bak terdengar berbeda, seperti ada tangan lain yang ikut mengaduknya tepat di belakangku. Aku terhenti sejenak saat menangkap helaan napas halus di dekat pundak. Ketika membasuh muka dan menatap cermin buram, sekelebat bayangan putih melintas sekilas. Aku menoleh cepat dengan jantung berdebar, namun hanya ada handuk kumal yang tergantung kaku. Perasaanku kian tak keruan; udara mendadak turun drastis hingga bulu kuduk berdiri, padahal semua jendela telah tertutup rapat.

Malam merambat semakin larut. Tepat pukul satu dini hari, aku terbangun karena dadaku terasa sesak luar biasa, seolah ada bongkahan batu besar yang menindihku. Mataku terbuka lebar, namun seluruh anggota tubuhku lumpuh. Fenomena ini sering disebut sebagai rep-repan atau ketindihan. Aku hanya bisa menggerakkan bola mata yang mulai berair karena ketakutan yang mencekam.

Dalam remang cahaya lampu tidur yang berkedip, aku melihat sosok itu. Di sudut kamar, duduk seorang perempuan dengan gaun panjang perpaduan warna kuning dan putih yang kusam. Bagian bawah gaunnya tampak compang-camping. Rambutnya hitam legam, sangat panjang hingga menyentuh lantai, menutupi sebagian wajahnya yang semula tampak cantik. Sosok itu tidak bergerak, hanya duduk diam di kursi kayu tempatku biasa menaruh tas kerja.

Tiba-tiba, suara tawa kecil yang halus namun menyayat hati terdengar tepat di telinga kiriku.

"Kenapa harus mencari yang lain? Aku sudah di sini... Aku yang menjagamu selama ini," bisik suara itu dengan nada posesif, dingin seperti es.

Aku berusaha berteriak, namun tenggorokanku terasa tersumbat. Wajah perempuan itu kian pucat dengan kuku-kuku panjang yang kotor. Tangannya mulai merayap pelan di pinggiran tempat tidur. Wangi melati yang tadinya harum kini berubah menjadi bau hangus yang menyengat. Ia perlahan menyingkap rambut, memperlihatkan satu mata hitam legam tanpa bagian putih yang menatapku penuh damba.

Dengan sisa tenaga, aku merapalkan doa di dalam hati. Jantungku berdegup kencang hingga telinga berdenging. Aku memusatkan seluruh pikiran untuk melawan rasa kaku. Begitu ujung jempol kakiku bisa digerakkan, sosok itu mendadak berdiri dan menangis pilu dengan suara melengking tinggi hingga memecahkan gelas di meja rias. Seketika, ia menghilang menjadi kabut hitam.

Keesokan harinya, aku memanggil seorang tokoh agama untuk membersihkan rumah tersebut. Benar saja, di bawah kolong tempat tidur yang menempel ke dinding, ditemukan sisir kayu tua dan ikatan rambut manusia yang sudah lama tersembunyi. Barang-barang itu diduga milik penghuni terdahulu yang meninggal dalam kesepian dan "menempel" padaku karena merasa memiliki kemiripan nasib. Penunggu itu menganggapku sebagai pasangan yang cocok untuk menemani kesepiannya yang abadi.

Tokoh agama itu menjelaskan bahwa selama ini, alasan mengapa setiap wanita yang mendekatiku selalu merasa ketakutan adalah karena kehadiran sosok ini. Ia selalu membuntuti dan meneror siapa pun yang mencoba mencuri perhatianku. Sosok ini telah mengklaim diriku sebagai miliknya.

Aku akhirnya memutuskan untuk pindah dan berhenti mengunci diri dalam kesendirian. Aku menyadari bahwa pikiran yang kosong bukan hanya mengundang depresi, tetapi juga "tamu" tak terlihat yang ingin mengisi kekosongan tersebut. Kejadian ini mengingatkanku pada sebuah pesan bisu: jagalah hati dan tetaplah terhubung dengan kehidupan nyata, agar kita tidak menjadi milik mereka yang berasal dari kegelapan.