Sepengalamanku bekerja di Toko Cik Zhao Fei, satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah pohon mahoni tua di depannya. Di antara deretan mahoni di sepanjang jalan antarprovinsi, pohon ini terasa berbeda, seolah 'hidup'.
Berdiameter kurang lebih 40 cm, dan dedaunan rimbun yang pada musim kemarau selalu berguguran hingga gundul.
Daun-daun yang berguguran kerap kali berpadu antara cokelat tua, cokelat muda, kuning keemasan, hingga kemerahan yang cantik. Mengingatkan akan visual warna daun-daun mapel di internet.
Kemudian, dedaunan baru akan bersemi kembali, sebagai jawaban regenerasi. Membawa pesona hijau muda yang apik dan energik, seperti halnya kesegaran udara yang melewatinya.
“Awas ya kalau kamu ganggu. Nanti kusiram oli bekas!” kataku di suatu maghrib pada saat shift malam.
Bukannya sok menantang. Namun, aku sudah digoda oleh entah entitas apa disitu. Yaitu sosok yang terbalut kain putih sebadan-badan, dengan percikan darah, dan tersenyum macam mau kenalan.
“Heran kali aku sama bangsa lelembut begituan. Hobi sekali ganggu manusia,” gumamku.
Ko Liam yang sedang berkutat dengan ponsel menoleh sejenak.
“Kenapa, Mbak?”
Aku menggeleng. “Halah biasa. Yang tinggal di pohon mahoni depan agak rese. Koko nggak merinding apa?”
Ko Liam menggeleng. “Masih suka ganggu, Mbak?”
“Nggak juga sih, Ko. Cuman kadang kalau maghrib begini lihat pohon itu berasa aneh. Suka merinding sendiri.”
Meski petang itu situasi toko kondusif nan normal alias nggak ada gangguan apapun, tapi badanku terasa berat, dan kepala pusing. Mirip dengan gejala meriang. Mungkin kelelahan karena toko lumayan ramai. Jadilah, begitu sampai di rumah, rasanya mau ambruk.
Lelah. Penat. Nyeri macam orang sakit, dan mata yang nggak mau diajak kompromi. Serasa ada lem tikus di mata.
“Kamu nggak mau makan toh?” tanya Ibu. “Ada nasi goreng lho.”
“Nanti dulu, Buk. Kayaknya aku meriang deh.”
Ibu spontan menyentuh dahiku dengan punggung tangannya. “Lho, panas?”
Hah, panas? Ini bukan musim hujan, dan aku nggak jajan es sama sekali lho. Kok bisa panas?
“Yawes, makan dulu, terus minum obat. Habis itu tidur,” saran Ibu.
Aku pun menuruti beliau. Sekalipun otakku terus mencerna asal usul dahiku yang panas ini. Apa iya karena kelelahan?
Bahkan, begitu aku berbaring di kasur kamar seraya memeluk guling busuk, ada sekelebat pemikiran aneh. Tiba-tiba aku teringat pada pohon mahoni di depan toko. Kilas balik pemandangan confetti alami saat dedaunan tuanya berguguran, maupun saat daun-daun baru bersemi bersamaan. Pokoknya, pikiranku full pada eksistensi pohon itu.
***
“Kamu tahu, jalanan itu dibangun sudah lama sekali. Tapi, dulu dilewati trem.”
Aku mengamati sosok pemuda di depanku. Usianya mungkin sekitar dua puluhan. Berkulit agak pucat, dengan rambut sehitam malam dan sorot mata sayu, yang meninggalkan sedikit binar.
"Dilewati trem? Jalan yang mana?" Batinku.
Pemuda di depanku tampak menepuk jaket berbahan levis biru tuanya. “Jalur trem itu masih ada di sana. Di tepi jalan. Terkubur dibawah fondasi dan plesteran semen yang baru.”
“Kamu sendiri, siapa sebetulnya?” tanyaku. Seingatku tadi aku bersiap tidur, tiba-tiba bertemu pemuda ini. “Apa kamu kenal aku?”
Pemuda itu tersenyum. “Kita pernah ketemu, kan?”
Heh?!
“Uhm, mungkin aku yang lupa,” kataku kemudian. Meski aku nggak kenal dia sama sekali. Pun, saat mencoba mengingat wajah-wajah customer di toko Cik Zhao Fei, aku belum pernah bertemu orang ini.
Orang di depanku kemudian tersenyum simpul. Tampak santai. “Tidak masalah. Toh, kamu juga tidak mau bertemu denganku lagi nantinya.”
“Rumahmu dimana memangnya? Namamu siapa?” tanyaku lagi.
Tanpa diduga, dia tertawa santai. “Kamu tidak perlu tahu namaku, ataupun rumahku. Tapi, aku memang sering berada di dekat pohon mahoni untuk berteduh dan mengamati lalu lintas jalan. Sayang sekali, trem sudah tidak lewat jalan itu. Padahal, dulu berjaya sekali.”
“Pohon mahoni?”
Dia mengangguk. “Yasudahlah. Aku mau kembali ke tempatku.”
Pemuda berjaket levis itu kemudian pamit pergi. Kupandangi punggungnya yang kian menjauh. Menghilang dalam jarak. Tidak lagi kutemukan wujud dirinya.
***
“Jangan-jangan, itu adalah jelmaan pocong di pohon mahoni itu, Fris?”
“Heh?”
Kening ibu tampak berkerut. “Kemarin, badanmu panas kayak meriang. Kamu juga bilang kemarin merinding pas lihat pohon mahoni itu kan?”
“Iya, Buk. Ngeri sekali. Masa iya nyamperin ke mimpi?” Kusentuh dahiku yang bersuhu normal. “Tapi sekarang sudah nggak panas lagi.”
“Sekarang coba ingat-ingat lagi. Kamu sudah pernah ketemu orang itu apa belum di dunia nyata?”
Aku menggeleng.
“Bisa jadi, dia sedang menunjukkan wujud lainnya. Jangan terpesona. Ingat, dia makhluk nggak kasat mata.”
Aku mengangguk setuju. Lebih pada penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa orang yang kita temui di mimpi pastilah pernah kita lihat sebelumnya. Entah face to face, atau sekadar menonton drama hingga film lewat layar kaca.
Namun, kalau memikirkan kembali perkataan sosok itu di dalam mimpi, keraguan justru datang. Perihal keberadaan jalur trem, dan tentang pohon mahoni.
Faktanya, tempatku bekerja yakni toko Cik Zhao Fei memang berdiri di tepi jalan raya antar provinsi. Jalan raya itu terhitung lumayan tua, dengan tambahan jalur kereta api yang menghubungkan satu stasiun besar di kota ke stasiun-stasiun kecil yang sekarang beralih fungsi.
Ada yang menjadi pasar, kantor polisi, hingga rata dengan tanah. Meski begitu, sisa-sisa peron beberapa stasiun kecil masih bisa dilacak, pun pada rel yang tetap ada walau di beberapa titik tertutup paving atau bahkan teruruk tanah.
Dan mengenai pohon mahoni, tiba-tiba aku kembali ingat pada keberadaan pohon mahoni ‘hidup’ itu.
“Apa iya, itu wujud samarannya?”
Baca Juga
-
Rahasia Sehat Saat Puasa: Penjelasan Medis Fungsi Mental dan Vitalitas
-
Basketball Therapy: Saat Basket Bisa Meredakan Emosi dan Menjalin Koneksi
-
Review Anime Sakamoto De Suga: Konflik Berbeda di Setiap Episodenya
-
Tradisi Megengan Kediri: Kenduri Jawa Menyambut Bulan Ramadan
-
The Power of Gardening: Cara Ampuh Menghilangkan Stres dengan Berkebun
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
Ketika Ganti Oli Jadi Sesi Curhat: Kenapa Sih Enggan ke Bengkel Resmi?
-
Uang THR Cair? Ini 5 Laptop Gaming RTX Harga 15-20 Jutaan!
-
Puasa Perut Sudah, Kapan Puasa Belanja? Yuk, Kenalan sama Mindful Spending
-
Menjual Keranda di Malam Ganjil
-
Atas Nama Sahur, Sampai Kapan Kebisingan yang Kehilangan Adab Dimaklumi?