Lintang Siltya Utami | Fildza Malahati
Ilustrasi Desa Girihinggil (Nano Banana/Gemini AI)
Fildza Malahati

Kabut di lereng Gunung Lawu tidak pernah benar-benar pergi; ia hanya bersembunyi di balik pepohonan pinus yang menjulang, menunggu saat yang tepat untuk menelan siapa pun yang berani melangkah terlalu jauh. Aris, seorang pembuat konten dokumenter mistis yang ambisius, mengabaikan peringatan itu. Baginya, ketakutan adalah komoditas yang bisa dijual. Dan malam ini, ia mengejar sesuatu yang belum pernah tertangkap kamera mana pun: Desa Girihinggil.

Desa itu tidak ada dalam peta digital. Penduduk kota terdekat hanya membicarakannya dalam bisikan, menyebutnya sebagai tempat di mana waktu berhenti dan mereka yang mati tetap terjaga untuk menari.

Aris memarkir motornya di ujung jalan setapak yang tertutup semak berduri. Udara di sana terasa berbeda—berat, lembap, dan berbau seperti tanah kuburan yang baru digali bercampur aroma melati yang menyengat. Ia menyalakan senter dan kamera handheld-nya. Cahaya lampu itu membelah kegelapan, memperlihatkan sebuah gerbang kayu tua yang sudah lapuk dimakan usia. Di atasnya, tergantung sebuah topeng kayu dengan ekspresi merintih yang seolah menatap langsung ke arahnya.

"Gila, atmosfernya dapet banget," gumam Aris ke arah kamera, mencoba menutupi detak jantungnya yang mulai tak beraturan.

Ia melangkah masuk. Desa itu sunyi senyap. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada gonggongan anjing. Hanya ada suara langkah kakinya sendiri yang menginjak dedaunan kering. Rumah-rumah di sana berbentuk joglo kuno dengan kayu-kayu hitam yang tampak hangus, namun tidak ada tanda-tanda bekas kebakaran. Di setiap teras rumah, terdapat sebuah kursi goyang yang semuanya menghadap ke arah tengah desa ke sebuah bangunan pendopo besar yang remang-remang.

Aris terus berjalan hingga sampai ke pendopo itu. Di tengah bangunan tanpa dinding tersebut, terdapat sebuah panggung kayu kecil. Di atas panggung, duduk sebuah perangkat gamelan yang lengkap, namun tanpa pemain. Besi-besi gamelan itu tampak berkarat dan diselimuti sarang laba-laba tebal.

Tiba-tiba, telinga Aris menangkap sebuah suara. Bukan suara angin. Itu adalah suara rebab yang digesek pelan.

Krieeek... ngeeek...

Aris memutar kameranya dengan cepat. Kosong. Namun, saat ia melihat melalui layar LCD kameranya, ia membeku. Di sudut pendopo, dalam pantulan layar kecil itu, berdiri seorang wanita tua dengan kebaya hijau lumut yang sangat kusam. Wajahnya tertutup kain tipis, namun matanya merah dan bernanah menatap tajam ke arah Aris.

Ketika Aris menurunkan kamera dan menoleh secara langsung, wanita itu hilang.

"Siapa di sana?" teriak Aris. Suaranya bergema, namun terdengar aneh, seolah-olah diserap oleh kayu-kayu tua di sekelilingnya.

Lalu, bunyi gong meledak. Gung! Getarannya terasa hingga ke tulang belakang Aris. Tanpa ada yang menyentuhnya, gamelan-gamelan itu mulai berbunyi sendiri. Iramanya lambat, pilu, dan memiliki nada yang salah seperti melodi yang dirancang untuk merobek kewarasan.

Dari balik kegelapan di luar pendopo, satu per satu sosok mulai bermunculan. Mereka adalah penduduk desa. Namun, mereka tidak berjalan. Mereka bergerak dengan gerakan patah-patah, seperti boneka kayu yang talinya ditarik secara paksa. Kulit mereka pucat keabu-abuan, mata mereka putih sempurna tanpa pupil, dan rahang mereka jatuh terbuka seolah-olah tulang penyangganya telah hancur.

Mereka membentuk lingkaran di sekeliling pendopo, menutup jalan keluar Aris.

"Permisi... saya hanya ingin mengambil gambar..." suara Aris bergetar hebat. Ia mencoba menerobos, namun salah satu sosok seorang lelaki dengan dada yang berlubang hingga memperlihatkan tulang rusuknya mencengkeram bahu Aris. Genggaman itu dingin, sedingin es yang membakar kulit.

Tiba-tiba, suara nyanyian sinden melengking tinggi, memecah kesunyian malam. Suara itu begitu melengking hingga telinga Aris mulai mengeluarkan darah.

“Lingsir wengi... sliramu tumeking sirno...”

Seorang wanita muncul dari langit-langit pendopo, turun perlahan seolah-olah bergantung pada benang tak terlihat. Ia adalah sang Sinden. Wajahnya tidak utuh; sebagian pipinya hilang, memperlihatkan deretan gigi kuning dan gusi yang menghitam. Ia mengenakan selendang merah darah yang panjangnya menjuntai hingga menyentuh lantai.

Sinden itu mendarat tepat di depan Aris. Bau anyir darah dan daging busuk meledak di indra penciuman Aris, membuatnya ingin muntah. Sinden itu mengulurkan tangan yang hanya terdiri dari tulang dan sedikit kulit yang menggelantung. Ia membelai pipi Aris dengan kuku-kukunya yang panjang dan hitam.

"Tamunya... sudah datang," bisik Sinden itu. Suaranya seperti gesekan amplas di atas kayu. "Tamu untuk menari selamanya."

Aris mencoba berlari, namun ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Kakinya tidak mau bergerak sesuai perintah otaknya. Ia melihat ke bawah dan berteriak histeris. Dari celah-celah panggung kayu, keluar ribuan benang sutra tipis yang telah menjahit sepatunya, menembus kulit kakinya, dan melilit tulang pergelangan kakinya.

Gamelan semakin cepat. Ritme kendang terdengar seperti detak jantung yang sedang ketakutan.

Penduduk desa yang mengepungnya mulai menari. Mereka bergerak dengan cara yang mustahil bagi manusia hidup memutar kepala 180 derajat, menekuk lengan ke arah yang salah hingga bunyi tulang patah (krak!) terdengar berulang-ulang. Mereka menari dengan wajah yang menangis, namun mulut mereka dipaksa tersenyum lebar hingga sudut bibirnya robek.

Aris mulai merasakan tarikan pada tangannya. Benang-benang itu kini telah mencapai lengannya. Secara paksa, tangannya terangkat ke samping. Kepalanya ditarik ke belakang dengan sentakan keras hingga ia menatap langit-langit pendopo yang penuh dengan mayat-mayat lain yang tergantung, mayat-mayat pendaki dan orang hilang yang sebelumnya dinyatakan hilang, kini telah menjadi mumi yang diawetkan dengan benang.

"Tolong! Siapa pun! Tolong!" Aris menjerit, namun jeritannya berubah menjadi nada nyanyian yang merdu. Lidahnya bergerak di luar kendali. Ia sedang dipaksa menjadi bagian dari paduan suara kematian itu.

Sinden itu mendekatkan wajahnya ke telinga Aris. "Jangan takut, Cah Bagus. Di sini, tidak ada yang benar-benar mati. Kita hanya... terus melakukan pertunjukan."

Sinden itu kemudian mengambil sebuah jarum besar yang terbuat dari tulang manusia, dengan benang merah yang terbuat dari urat saraf. Dengan gerakan yang sangat cepat dan presisi, ia mulai menjahit sudut bibir Aris, menariknya ke atas agar membentuk senyuman abadi. Aris tidak bisa memejamkan mata; kelopak matanya pun telah dijahit agar tetap terbuka lebar.

Cahaya kamera Aris yang masih menyala di lantai perlahan-lahan meredup karena kehabisan baterai. Gambar terakhir yang tertangkap adalah kaki Aris yang mulai terangkat, melakukan gerakan tari ngremo yang sempurna, sementara darah segar mengalir perlahan dari jahitan di sekujur tubuhnya.

Pagi harinya, kabut di lereng Gunung Lawu kembali menyelimuti segalanya. Jalan setapak menuju Girihinggil kembali tertutup semak berduri, seolah-olah tidak pernah ada manusia yang melewatinya. Motor Aris ditemukan beberapa hari kemudian, berkarat seolah-olah sudah ditinggalkan selama puluhan tahun, meskipun ia baru pergi semalam.

Di sebuah gedung apartemen di kota, rekan kerja Aris membuka cloud storage yang terhubung dengan kamera Aris. Ia menemukan sebuah file video baru yang baru saja terunggah secara otomatis.

Dengan penasaran, ia membukanya.

Video itu gelap, hanya terdengar suara gamelan yang ganjil. Lalu, kamera bergetar dan memperlihatkan wajah Aris. Aris tidak bicara. Ia hanya menari di tengah kegelapan dengan gerakan kaku yang mengerikan. Namun, yang membuat rekan kerjanya berteriak dan membanting laptopnya adalah ketika wajah Aris mendekat ke lensa.

Mata Aris yang berdarah tampak meminta pertolongan, sementara mulutnya yang dijahit membentuk senyum lebar yang mengerikan. Dan di balik pundak Aris, ribuan tangan pucat melambai ke arah kamera, seolah-olah mengajak siapa pun yang menonton untuk datang dan bergabung dalam tarian yang tidak akan pernah berakhir.

Di kejauhan, di lereng gunung yang sepi, suara gamelan itu sayup-sayup terdengar kembali, memanggil jiwa-jiwa yang kesepian untuk tersesat di Desa Girihinggil. Karena di sana, pertunjukan harus terus berjalan, dan sang Sinden selalu membutuhkan penari baru.