Indekosku tidak luas—dan mungkin tidak pernah ditujukan untuk menjadi luas. Itu hanyalah sebuah ruangan kecil di lantai dua rumah tua. Rumah yang cat temboknya terkelupas seperti kulit terluka lama yang dibiarkan sembuh dengan sendirinya, tanpa perban, tanpa harapan. Bangunan itu telah ada sejak era yang tidak pernah diungkapkan secara resmi, seolah kisahnya terlalu enggan untuk diakui. Bagi penghuni lama, aku percaya, mereka pergi tanpa sungguh-sungguh pergi.
Mereka meninggalkan lebih dari sekadar kasur patah dan paku berkarat. Mereka meninggalkan napas. Napas yang terperangkap di celah dinding, di sudut langit-langit yang gelap, bahkan di bawah lantai kayu yang berdecit setiap malam—bukan seperti suara barang tua, melainkan seperti seseorang yang ingin berbicara, lalu mengubah keputusan.
Aku tinggal bersama Dipo—temanku dari SMA—di ruangan yang lebih layak disebut kotak kayu besar daripada rumah manusia. Dua kursi tua berdiri terpisah, saling menjauh, seakan enggan untuk mengakui satu sama lain. Di antara mereka, terdapat kekosongan seperti celah kecil yang tak pernah kami bicarakan. Setiap dipan dilengkapi dengan meja kecil dan lemari usang yang mengeluarkan aroma mirip kardus basah: bau sesuatu yang pernah terkena hujan dan tidak pernah sepenuhnya kering karena memang tidak pernah dijemur.
Di atas kami, kipas langit-langit tergantung dengan lesu. Ia berputar bukan karena mau, melainkan karena lupa cara untuk berhenti. Setiap rotasinya bagaikan napas panjang makhluk yang telah hidup terlalu lama.
Dipo senantiasa beristirahat di sisi kiri ruangan. Itu telah menjadi kebiasaan tidak tertulis sejak malam pertama kami berada di ruangan tersebut—kebiasaan yang tidak pernah kami bicarakan, tetapi selalu kami ikuti. Dia bilang, ia tidak suka melihat ke luar. Ia lebih memilih menjauh dari dunia, seolah-olah dunia hanyalah sesuatu yang dapat ditinggalkan dengan memutar badan.
Setiap malam, ia menarik selimut hingga ke bahu dan berdiri diam seperti patung batu yang lupa cara untuk jatuh. Tidak berucap. Tetap diam. Tanpa mendengkur. Seolah-olah dia sedang menanti sesuatu yang enggan ia sebutkan. Awalnya, kupikir itu hanya kebiasaan orang yang terlalu letih dengan hidup. Namun, seiring waktu kami berada di sana, aku merasa bahwa sisi kiri kamar itu bukan sekadar tempat. Ia bagaikan memiliki napasnya sendiri—cepat, terhenti, dan tidak sabar.
Suatu malam, ketika Dipo pulang larut, aku berbaring di dipannya sambil membaca buku. Cuma sebentar. Cuma bermain-main. Dan entah kenapa, rasanya seperti ada yang menatap dari balik dinding. Bukan pandangan mata, melainkan lebih kepada kesadaran. Udara di tempat itu terasa lebih sejuk, lebih tebal, seolah oksigen di situ memiliki berat tersendiri. Ketika Dipo tiba dan memintaku untuk berpindah ke tempat tidurku sendiri, aku bahkan tidak membantah. Aku mengerti. Bukan melalui pemikiran, melainkan dengan insting paling dasar yang ada pada manusia.
Itu bukan tempatku.
Ruang itu seakan tidak senang jika peraturan kecilnya dilanggar. Suara detik jam bahkan terasa seperti berlainan tempo saat posisi kami berganti. Saat-saat itu menjadi bimbang. Terkadang cepat sekali, terkadang terasa terhenti di antara dua detak jantung. Malam di rumah indekos ini terasa sangat sepi. Bukan keheningan yang menenteramkan, melainkan keheningan yang siaga. Diam yang selalu memiliki isi. Seolah ada sesuatu yang mengawasi—masuk di celah ventilasi, terdiam di atas lemari, menanti lampu dipadamkan seperti menanti sinyal.
Pernah, terdengar suara tangisan dari kamar mandi di lantai bawah. Tersangkut. Seperti orang yang tidak ingin suaranya didengar, namun sangat ingin diakui keberadaannya. Ketika kami berdua turun, pintu toilet terbuka lebar. Cermin di dalamnya retak—bukan hancur, tetapi seakan retak dari dalam, seolah refleksi di situ sudah terlalu lama menyimpan sesuatu. Air keran masih menetes, padahal tidak ada yang memakainya.
Dipo hanya berkata, tanpa menoleh, “Biasain aja. Rumah ini suka kayak gitu.” Aku tidak bertanya lagi. Mungkin karena aku menyadari—jika aku bertanya, mungkin ada yang menjawab. Dan aku masih belum siap untuk mendengar suara yang bukan milik orang lain.
Malam itu, malam yang seharusnya normal, terasa lebih sepi dibandingkan dengan biasanya. Lampu mati. Kipas angin bergerak lambat. Aku memandangi langit-langit selama beberapa detik, menghitung retakan yang jumlahnya selalu berbeda, kemudian menutup mata. Aku… Damar. Dan malam ini, aku tidak sedang bermimpi. Setidaknya, itu yang kupikirkan.
Pintu ruangan tiba-tiba berdecit terbuka. Aku ingat telah menguncinya. Suara yang dimilikinya bukanlah suara yang biasa. Itu bunyi engsel yang seolah ditarik dari kedalaman masa. Pelan, dari lubang pintu, muncul sosok makhluk yang tinggi besar. Ia mengenakan jubah hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun. Raut wajahnya... hampa. Atau mungkin benar tidak ada.
Tubuhnya memiliki bobot. Bukan berat daging, melainkan beratnya kehadiran. Ia tidak berbicara dengan nada layaknya manusia. Suaranya mirip gemuruh pasir dari dasar sumur. Namun yang aneh, aku memahami. Sesuatu tertanam langsung di dalam pikiranku: suatu keinginan dari luar, disampaikan tanpa intimidasi. Dan yang paling menakutkan—aku tidak merasa perlu menolak.
“Iya… iya…” suara itu berasal dari mulutku sendiri. Tanpa persetujuan. Tanpa henti. Kemudian tubuhku bergerak dengan sendirinya. Tangan kananku menjelajahi meja kecil di samping ranjang. Kutemukan pulpen hitam tua. Seolah bukan aku yang mengatur, aku menuliskan sesuatu di telapak tangan kiri. Bilangan demi bilangan. Langsam.
6… 8… 0… 2… 1… 9…
Setelah angka terakhir dituliskan, sosok itu lenyap. Ia hanya… diseret keluar dari kehidupan ini, seperti bayangan yang pada akhirnya tunduk pada kehampaan. Lalu aku terjaga. Tubuhku lembap oleh keringat dingin. Napasku terengah-engah. Aku melihat ke tangan kiriku. Angka itu. 680219. Masih ada di sana. Tertulis dengan jelas. Tidak pudar. Ini bukan tinta. Terdapat aroma gosong yang lembut.
“Apa ini…?” bisikku. Tanganku bergetar. Angka itu tidak ingin pergi. Itu tanda. Tanda aku telah menyetujui sesuatu yang bahkan tidak kuingat isi klausulnya.
Kulihat ke arah tempat tidur Dipo. Ia tetap sama. Mengabaikan dunia. Napasnya tidak cepat. Rapi. Damai. Seakan-akan peristiwa ini sama sekali tidak memengaruhinya. Itu justru yang mengganggu. Aku membuka pintu ruangan. Deritnya membelah keheningan. Lorong di luar sunyi, namun lampu di ruang tengah tetap menyala.
Aku mendekat. Langkahku tidak terdengar.
“Heh, Damar! Mukamu pucat bener,” kata Riyan sambil nyengir.
“Ada apaan? Mimpi basah?”
Aku tidak tertawa. Kukeluarkan telapak tanganku. Menunjukkan angka itu. Mereka berhenti.
“Anjir…” desis Riyan. “Apa ini… dibakar ya?”
“Nomor telepon kah? Atau… nomor togel?”
Aku tidak menjawab. Dalam satu dorongan nekat, aku membuka aplikasi telepon. Kuketik 680219. Tanpa sadar, kutambahkan kode area Jakarta: (021). Kutekan tombol hijau. Nada sambung. Berdering sekali. Dua kali. Lalu—tersambung.
“Halo?” suara itu menyapa. Dan duniaku berhenti bergerak. Karena suara di seberang sana… adalah suaraku sendiri. Napasnya. Tekanan suku katanya. Getaran kecil yang hanya aku tahu.
“Aku… siapa kamu?” suaraku terdengar patah. Sebelah sana hening. Lalu ia menjawab, pelan: “Aku… nggak tahu. Tapi tadi malam aku mimpi… ada sosok tinggi masuk ke kamar kostku. Dia suruh aku tulis angka ini.”
Aku segera memutus sambungan. Ponsel hampir terlepas dari tanganku. Untuk pertama kalinya, aku merasakan sesuatu yang tidak pernah diajarkan siapa pun—bahwa tubuh ini… mungkin bukan lagi milikku sepenuhnya.
Aku kembali ke kamar. Pintu sedikit terbuka. Saat kudorong perlahan, udara dari dalam kamar menyeruak keluar, menyentuh wajahku seperti napas basi. Mataku langsung menuju dipan Dipo. Ia masih membelakangi. Aku melangkah pelan, menarik selimut itu… dan dunia di dalam kepalaku runtuh.
Yang berbaring di dipan itu—adalah aku. Tubuhku sendiri. Dan tangan kirinya—680219—masih tertulis di sana. Kalau yang berbaring di sana adalah aku, lalu aku yang berdiri ini siapa? Dan… di mana Dipo?
Suara napas terdengar dari belakangku. Berat. Kasurku—dipan yang kosong itu—berderit. Seseorang baru saja duduk di ujungnya. Kemudian suara itu berbisik, tepat di belakang telingaku: “Kau pernah dengar… suara tubuhmu sendiri, Raka?”
Suara itu adalah suaraku. Tapi retak. Serak.
“Yang tidur di sana… itu kau,” lanjutnya. “Tapi yang hidup… yang hidup akan berganti. Sekarang giliranmu menggantikan yang di sebelah kiri.”
Dan seolah dunia ini bekerja berdasarkan aba-aba, tubuhku yang tidur perlahan membuka matanya. Ia menatap ke arah cermin kecil di pojok ruangan. Dan di cermin itu—aku tidak punya pantulan.
Ketika mataku terbuka lagi, aku berada di kasur sebelah kiri. Matahari sudah tinggi. Aku bangkit, tubuhku terasa ringan—terlalu ringan. Aku menoleh ke kanan. Kosong. Dan dari luar kamar—terdengar seseorang naik ke lantai dua. Langkahnya ragu. Manusia. Masih lengkap.
Aku bukan lagi yang ditunggu. Aku adalah yang menunggu.
Baca Juga
Artikel Terkait
Cerita-misteri
Terkini
-
MediaTek Umumkan Dimensity 9500s, Chipset Unggulan Usung Teknologi AI
-
4 Micellar Water Witch Hazel Hapus Kotoran dan Sebum untuk Cegah Jerawat
-
Segera Rilis, Sekuel Paranormal Activity Dijadwalkan Tayang pada Mei 2027
-
Gajah yang Mendengar Suara Semut
-
Bukan Kaleng-Kaleng, Ini 5 Gamepad Rexus yang Paling Worth It