Bimo Aria Fundrika | Fildza Malahati
Ilustrasi Menyiram Tanaman (Nano Banana/Gemini AI)
Fildza Malahati

Sore itu, langit di atas Desa Sukamaju seperti sedang bocor. Hujan turun begitu deras, tipe hujan yang membuat orang lebih memilih melungker di bawah selimut sambil menunggu tukang bakso lewat. Suara gemericik air yang menghantam genteng berpadu dengan suara petir yang sesekali berdentum.

Namun, di tengah suasana yang memaksa orang masuk ke dalam rumah itu, ada satu pemandangan ganjil di depan rumah Mbah Karman. Sosok lelaki tua itu tampak berdiri kokoh di tengah taman mungilnya. Ia mengenakan caping bambu yang sudah reyot dan jas hujan plastik warna kuning mencolok yang ukurannya terlalu besar, membuatnya tampak seperti pisang raksasa yang sedang berkebun.

Di tangan kanannya, Mbah Karman memegang selang air. Dengan sangat telaten, ia mengarahkan pancuran air itu ke pot-pot bunganya. Ia menyiram mawar, menyemprot lidah mertua, bahkan mengelus daun aglonema kesayangannya seolah-olah hari sedang terik-teriknya.

Mas Tono, tetangga sebelah rumah yang kebetulan sedang berteduh di teras sambil menyeruput kopi hangat, hanya bisa melongo. Ia mengucek matanya berkali-kali, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat terlalu banyak kafein.

"Mbah! Mbah Karman!" teriak Tono, mencoba mengalahkan suara hujan.

Mbah Karman menoleh sedikit, lalu melambaikan tangan dengan santai, seolah menyapa kawan lama di tengah pesta.

"Mbah, sampeyan sehat?" teriak Tono lagi, kali ini lebih kencang sampai urat lehernya menonjol.

"Sehat, No! Alhamdulillah!" jawab Mbah Karman sambil kembali fokus menyemprot tanaman kumis kucingnya.

Tono tidak tahan lagi. Rasa penasarannya jauh lebih besar daripada rasa dingin yang menusuk. Ia pun keluar ke pinggir teras, masih terlindungi atap, lalu berteriak, "Mbah, mbok ya sudah! Itu loh lihat ke atas! Hujannya sudah deras sekali, kok sampeyan masih semangat menyiram? Hujan-hujan kok disiramin, Mbah! Mubazir airnya!"

Mbah Karman menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia mematikan kran air yang menempel di tembok, lalu berjalan perlahan mendekati pagar pembatas rumah mereka dengan gaya santai, meski jas hujan kuningnya berkibar ditiup angin.

"No, kamu itu masih muda tapi logikanya sudah karatan," kata Mbah Karman sambil mengusap air hujan yang menetes dari capingnya.

"Lah, kok saya yang disalahkan? Di mana-mana orang siram tanaman itu kalau kering, Mbah. Lah ini kan sudah disiram langsung dari langit!" protes Tono.

Mbah Karman terkekeh, memperlihatkan giginya yang tinggal dua di depan. "Begini loh, No. Kamu lihat itu tanaman mawar di pojok sana?"

Tono mengangguk.

"Tadi pagi aku belum sempat siram karena asam uratku kambuh. Nah, si mawar ini kan sudah telanjur janji sama aku mau mekar sore ini. Kalau nunggu air hujan, ya beda rasanya," ujar Mbah Karman serius.

"Beda gimana, Mbah? Air ya air!"

Mbah Karman menggelengkan kepala dengan ekspresi prihatin. "Kamu itu nggak mengerti perasaan tanaman. Air hujan itu turunnya keroyokan, kasar, dan dingin sekali. Kasihan tanamannya, kaget! Kalau air dari selangku ini kan keluarnya lembut, penuh kasih sayang, dan suhunya sudah pas karena sudah mengendap di tandon semalaman."

Tono melongo. "Mbah, tapi kan tetep aja basah!"

"Satu lagi," potong Mbah Karman sambil berbisik seolah memberi tahu rahasia negara. "Air hujan itu sifatnya gratisan, No. Tanaman itu kalau dikasih yang gratisan terus, nanti jadi malas, nggak mau usaha. Makanya perlu disiram air PDAM yang bayar tiap bulan, supaya mereka tahu kalau hidup itu butuh perjuangan dan biaya!"

Tono terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu apakah Mbah Karman sedang bercanda, atau memang faktor usia telah menciptakan dimensi logika baru di kepala orang tua itu.

"Sudah ya, aku mau lanjut siram kaktus di pojok sana. Kasihan, dia dari tadi teriak-teriak kedinginan kena hujan, butuh siraman air hangat dari selangku," pungkas Mbah Karman.

Ia kembali ke tengah taman, menyalakan kran, dan kembali "memandikan" tanaman di tengah hujan yang semakin menggila.

Sementara itu, Tono hanya bisa masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat-rapat, dan memutuskan untuk tidak lagi bertanya pada Mbah Karman tentang apa pun, termasuk jika suatu saat nanti ia melihat Mbah Karman menjemur pakaian di bawah guyuran hujan.