Aris selalu bangga dengan apartemen minimalisnya. Dinding putih bersih, sofa abu-abu tanpa corak, dan meja kaca yang selalu mengilap. Baginya, keteraturan adalah segalanya. Namun, semua itu berubah ketika dia menemukan sebuah cermin oval tua di pasar loak pinggiran kota.
Bingkainya terbuat dari perunggu kusam yang dihiasi ukiran sulur tanaman yang tampak layu. Penjualnya, seorang wanita tua yang memberikannya harga yang sangat murah, seolah-olah dia hanya ingin benda itu segera berpindah tangan.
"Cermin ini jujur," bisik wanita itu saat Aris membayarnya. Aris hanya tertawa kecil, menganggap itu sekadar teknik pemasaran kuno. Basi.
Setibanya di apartemen, Aris menggantung cermin itu di dinding ruang tengah, tepat di depan sofa. Awalnya, dia tidak menyadari keanehannya. Dia terlalu sibuk menata ulang vas bunga di atas meja. Namun, saat dia berdiri untuk mengagumi hasil kerjanya, jantungnya seakan berhenti berdetak.
Dia menatap ke dalam cermin oval itu. Di sana, dia melihat dirinya sendiri, rambut klimisnya, kemeja biru lautnya, dan raut wajahnya yang bingung. Tetapi, hanya itu. Di dalam cermin, apartemennya tidak ada. Aneh.
Tidak ada sofa abu-abu, tidak ada meja kaca, tidak ada vas bunga, bahkan tidak ada dinding putih di belakangnya. Aris seolah-olah berdiri di tengah-tengah kekosongan abu-abu yang tidak berujung. Cermin itu hanya memantulkan makhluk hidup. Segala sesuatu yang tidak bernapas, tidak memiliki detak jantung, atau tidak terbuat dari daging dan darah, tidak eksis di dalam kaca tersebut.
Aris mendekat, menyentuh permukaan kaca yang sedingin es. Dia mencoba meletakkan tangannya. Tangannya tetap terlihat. Namun, jam tangan kulit yang melingkar di pergelangan tangannya hilang dari pantulan. Dia tampak seperti pria yang tangannya terpotong oleh ilusi optik.
"Luar biasa," gumamnya. Ketakutannya perlahan berganti menjadi rasa penasaran yang obsesif. Dia menghabiskan waktu berjam-jam berdiri di depan cermin itu, bereksperimen dengan berbagai benda.
Buku, ponsel, kunci rumah, semuanya lenyap saat dihadapkan ke cermin. Dia mulai merasa bahwa dunia di dalam cermin adalah dunia yang murni, bebas dari sampah materialisme yang memenuhi hidupnya. Tenang.
Malam itu hujan turun deras. Kilat sesekali menyambar, memberikan cahaya putih instan ke dalam ruangan yang remang-remang. Aris sedang duduk di lantai depan cermin, menyesap teh hangat. Saat kilat menyambar, dia melihat sesuatu di dalam cermin.
Karena cermin itu tidak memantulkan benda mati, maka latar belakang di belakang pantulan Aris seharusnya adalah kekosongan abu-abu yang bersih. Tetapi malam itu, di dalam pantulan, Aris tidak sendirian.
Sekitar dua meter di belakang pantulan punggungnya, ada sesosok bayangan manusia. Sosok itu tidak jelas, seolah-olah terbungkus kabut tebal, tetapi jelas memiliki bentuk tubuh. Aris segera menoleh ke belakang. Kosong. Hanya ada sofa abu-abu dan rak buku miliknya yang berdiri diam di bawah temaram lampu.
Dia kembali menatap cermin. Sosok itu masih di sana. Dan yang membuat bulu kuduk Aris berdiri adalah posisi sosok tersebut. Ia sedang merangkak pelan di atas lantai yang tidak terlihat di dalam cermin. Setiap kali kilat menyambar, sosok itu tampak lebih dekat. Takut.
Aris gemetar. Dia menyadari hukum cermin ini. Jika benda itu terlihat di cermin, berarti benda itu hidup. Sosok yang ada di belakangnya adalah makhluk bernapas, sesuatu yang memiliki nyawa, namun entah bagaimana tidak kasat mata di dunia nyata.
"Siapa kau?" teriak Aris. Suaranya bergema di ruangan yang sepi.
Sosok di cermin itu berhenti merangkak. Ia perlahan berdiri. Kini Aris bisa melihat detailnya dengan lebih jelas melalui permukaan kaca. Makhluk itu kurus kering, kulitnya pucat pasi hingga kebiruan. Siluet.
Matanya besar, tanpa kelopak, dan hanya berisi warna putih susu. Makhluk itu tidak mengenakan pakaian karena pakaian adalah benda mati yang tidak akan terpantul. Ia adalah murni daging dan kegelapan.
Di dunia nyata, Aris tidak merasakan apa-apa. Tidak ada embusan napas di lehernya, tidak ada suara langkah kaki di atas karpetnya. Namun, di dalam cermin, makhluk itu kini berdiri tepat di belakang bahunya. Tangan makhluk yang panjang dan kurus itu mulai terangkat, jemari pucatnya mendekat ke arah leher pantulan Aris.
Aris panik. Dia mencoba berlari menuju pintu keluar, tetapi kakinya tersandung kaki sofa yang tidak bisa dia lihat di dalam cermin karena benda itu tidak terpantul. Dia terjatuh keras. Saat dia mendongak ke arah cermin dari posisi tersungkur, dia melihat makhluk itu juga ikut membungkuk; wajahnya yang mengerikan kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah pantulan Aris.
Makhluk itu membuka mulutnya. Tidak ada suara, tetapi Aris bisa melihat deretan gigi yang runcing dan hitam. Di dunia nyata, Aris merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk punggungnya. Seolah-olah suhu di sekitarnya turun hingga titik beku. Dia menyadari bahwa meskipun makhluk itu tidak terlihat di dunianya, pengaruhnya sangat nyata.
Dia mencoba merangkak menjauh, tetapi tangan tak kasat mata mencengkeram pergelangan kakinya. Di dalam cermin, dia melihat tangan biru pucat makhluk itu menggenggam kakinya dengan erat. Aris berteriak histeris, menendang-nendang udara kosong, namun di dalam cermin, tendangannya hanya mengenai dada makhluk itu yang keras seperti batu.
Makhluk itu mulai menarik Aris. Bukan menarik tubuh fisiknya di lantai apartemen, melainkan menarik keberadaan hidupnya masuk ke dalam bingkai cermin. Aris melihat tubuhnya tetap berada di lantai, namun penglihatannya perlahan berpindah. Dia mulai melihat apartemennya memudar, dinding putihnya berubah menjadi abu-abu tidak berujung, dan furniturnya menghilang satu per satu.
"Tolong!"
Suaranya kini terdengar berbeda, seperti terendam oleh lapisan air padat yang tebal. Dia menatap tangannya. Jam tangan kulitnya jatuh ke lantai apartemen yang asli karena benda mati tidak bisa ikut masuk ke dalam dimensi cermin. Aris kini berada di sisi lain. Tak berdaya.
Dia melihat dirinya yang asli, tubuh fisiknya yang kini tampak kosong tergeletak di lantai apartemen. Lalu, makhluk pucat itu melakukan sesuatu yang lebih mengerikan. Makhluk itu melangkah keluar dari jangkauan pantulan cermin, melewati bingkai perunggu itu, dan masuk ke dunia nyata.
Dari dalam cermin yang dingin, Aris menyaksikan makhluk itu merayap masuk ke dalam tubuh fisiknya yang tergeletak. Perlahan, tubuh Aris yang asli mulai bergerak. Ia bangun, merenggangkan lehernya dengan bunyi tulang yang berderak mengerikan, dan mulai memunguti jam tangan yang tadi terjatuh. Tersenyum.
Sosok yang kini menghuni tubuh Aris itu berjalan mendekati cermin. Ia menatap Aris yang sekarang terperangkap di dalam dimensi kosong tersebut. Makhluk itu makin tersenyum. Senyum yang terlalu lebar untuk wajah manusia dan menjulurkan lidahnya yang hitam ke arah kaca. Mengerikan.
"Terima kasih atas rumah barunya," bisik sosok itu. Suaranya kini menggunakan pita suara Aris, terdengar sempurna namun dingin.
Aris memukul-mukul kaca dari dalam, berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Dia kini adalah penghuni baru di ruang kosong itu. Dia menatap ke sekeliling; di kejauhan dalam kekosongan abu-abu itu, dia melihat ribuan sosok lain, berdiri diam, menunggu manusia lain di balik cermin melakukan kesalahan yang sama.