Lintang Siltya Utami | dede dermawan
Ilustrasi mengambarkan Ardan (gemini.google)
dede dermawan

Langit di atas Pemakaman Umum Sanjaya tampak seperti lebam biru keunguan. Hujan gerimis yang turun sejak pagi tadi menyisakan bau tanah basah yang tajam dan udara yang mencekik. Di tengah kerumunan pelayat yang serba hitam bagaikan kumpulan gagak, duka menyelimuti. Sedih.

Ardan berdiri dengan kepala tertunduk. Di depannya, sebuah peti kayu jati yang mengkilap perlahan diturunkan ke dalam lubang persegi yang gelap. Ia tampak sangat sedih. Air matanya bahkan tidak terlihat jelas karena tersamar air hujan.

Di dalam peti itu berbaring Baskara, sahabat baik Ardan sekaligus seorang pengusaha muda yang sukses. Mereka bersama membangun perusahaan, meski Ardan hanya seorang asisten. Kematian Baskara tiga hari lalu dinyatakan sebagai kecelakaan murni.

Terpeleset dari balkon lantai dua puluh satu di apartemen miliknya saat pesta perayaan ulang tahun perusahaan. Semua orang percaya itu kecelakaan, setidaknya itulah yang tertulis di laporan polisi. Keluarga juga tak menyelidiki lebih lanjut. Pasrah.

"Tanah kembali ke tanah, debu kembali ke debu," suara pendeta bergema rendah, tenggelam oleh suara isak tangis istri Baskara, Elena.

Saat petugas pemakaman memberikan isyarat untuk bekerja, mereka mulai menyekop tanah pertama. Sebuah suara memecah keheningan. Bukan suara tangisan, melainkan bunyi notifikasi pesan singkat yang muncul serentak. Ting.

Satu per satu pelayat merogoh saku mereka. Ardan pun melakukan hal yang sama. Di layar ponselnya, sebuah notifikasi muncul dari sebuah kontak yang seharusnya tidak mungkin mengirimkan apa pun hari ini, Baskara.

Darah Ardan terasa surut dari wajahnya. Ia melirik ke sekeliling. Wajah-wajah di sekitarnya menunjukkan ekspresi yang sama, bingung, pucat, dan ngeri. Dengan tangan gemetar, Ardan membuka pesan itu.

"Siapa yang mendorongku?"

Hanya tiga kata. Namun, tiga kata itu cukup untuk membuat suasana pemakaman yang dingin menjadi membeku. Bisik-bisik ketakutan mulai menjalar di antara para pelayat. Ada yang mencoba menenangkan dengan penjelasan rasional, ada pula yang mulai berspekulasi liar. Kepanikan menjalar.

"Ini bercandaan yang keterlaluan!" geram sepupu Baskara, wajahnya merah padam. "Siapa yang memegang ponselnya? Ponsel itu seharusnya dikubur bersamanya!"

Memang benar. Sesuai permintaan terakhir Baskara yang aneh dalam surat wasiatnya, ia ingin dikuburkan bersama ponsel pribadinya yang diletakkan di dalam saku jas. Ardan sendiri yang melihat Elena memasukkan ponsel itu ke dalam saku jas jenazah sebelum peti dipaku mati. Ting. Notifikasi kedua masuk, serentak lagi.

"Aku melihat kalian dari sini. Gelap sekali, tapi aku bisa melihat wajah kalian satu per satu."

Seorang pelayat wanita menjerit kecil dan menjatuhkan ponselnya ke lumpur. Kepanikan mulai pecah. Beberapa orang mulai mundur menjauhi liang lahat. Para penggali kubur berhenti bekerja; mereka saling pandang dengan tatapan ketakutan.

Ardan merasakan jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia menatap ke arah peti yang kini sudah tertutup separuh oleh tanah. Di bawah sana, di dalam kegelapan kayu jati itu, apakah benar-benar ada aktivitas? Ataukah ini hanya peretasan digital yang kejam? Keterlaluan, pikirnya dalam hati.

Ting. Pesan ketiga. Kali ini disertai sebuah lampiran foto. Ardan membuka foto itu dan hampir saja memuntahkan isi perutnya. Foto itu diambil dari sudut rendah, dari dalam tempat yang sangat sempit. Terlihat bagian dalam tutup peti mati yang dilapisi kain satin putih, dan di bagian bawah foto, terlihat ujung hidung serta dahi jenazah yang sudah mulai membiru.

Namun, yang mengerikan adalah apa yang terlihat di celah kecil tutup peti yang sengaja dibuka sedikit oleh sudut kamera, deretan wajah para pelayat yang sedang berdiri di tepi liang lahat. Semua yang melihatnya langsung tersentak ketakutan. Kebingungan.

Foto itu diambil secara real-time. Di dalam foto tersebut, Ardan melihat dirinya sendiri sedang memegang ponsel dengan ekspresi ngeri. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun kenyataan memberinya tamparan keras.

"Buka petinya!" teriak seseorang. "Dia masih hidup! Baskara masih hidup di dalam sana!"

Kekacauan pecah. Elena pingsan di pelukan kerabatnya. Para pria mulai melompat ke dalam lubang, mengabaikan protokol pemakaman, dan mulai menggali tanah dengan tangan kosong serta sekop yang tersisa. Ardan hanya berdiri terpaku. Matanya tidak lepas dari layar ponselnya. Ting. Pesan keempat muncul hanya di ponsel Ardan.

"Kau tahu kenapa aku tidak mati seketika saat jatuh, Ardan? Karena aku sempat menarik kancing lengan kemejamu. Aku punya buktinya di sini, terselip di sela kuku jariku."

Ardan refleks melihat lengan kemejanya. Benar. Satu kancing di lengan kanannya hilang. Ia teringat malam itu, di balkon yang licin. Baskara yang mabuk berdiri di tepi, dan Ardan yang selama ini merasa bayarannya sebagai asisten tidak pernah sebanding dengan hinaan Baskara. Ardan memberikan satu dorongan kecil. Hanya satu sentuhan di punggung yang membuat Baskara kehilangan keseimbangan.

Ardan mengira tidak ada saksi. Tidak ada kamera CCTV di balkon itu. Polisi pun tidak menemukan apa pun pada jenazahnya. Wajahnya makin pucat dan perasaannya makin tidak enak. Pikirannya terus mencari penjelasan rasional, namun tidak ada. Kacau.

Di dalam liang lahat, para pria berhasil mencapai peti. Dengan linggis darurat, mereka mencongkel tutup peti itu dengan kasar. Krak! Kayu itu pecah. Seluruh mata langsung terpaku pada peti mati dengan pecahan kecil yang menganga.

"Baskara!" teriak mereka.

Namun, saat tutup peti terbuka sepenuhnya, jeritan yang keluar dari mulut para penggali jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah Ardan dengar. Awalnya ia berniat untuk segera kabur karena makin takut. Namun, Ardan memberanikan diri mendekat ke tepi lubang.

Ia melihat ke dalam peti. Baskara memang ada di sana, kaku dan dingin. Namun, posisinya tidak lagi tenang. Tubuhnya terpilin secara tidak wajar. Matanya terbuka lebar, putih semua, dan mulutnya menganga seperti sedang meneriakkan jeritan tanpa suara. Hening.

Yang paling mengerikan, ponsel itu tidak berada di saku jasnya. Ponsel itu tertancap di dalam rongga mulut Baskara yang terbuka. Layarnya masih menyala terang, memancarkan cahaya biru ke wajah jenazah yang mulai membusuk.

Tiba-tiba, ponsel di tangan Ardan bergetar lagi. Sebuah panggilan masuk dari Baskara. Ardan mencoba melempar ponselnya, namun jempolnya seolah terkunci oleh kekuatan magnetis. Telepon itu terjawab secara otomatis. Suara yang keluar dari speaker bukan lagi suara manusia, melainkan suara gesekan tulang dan tanah yang bergeser.

"Kancingnya... Ardan... kancingnya..."

Ardan melihat ke dalam peti. Tangan jenazah Baskara yang tadinya kaku, kini perlahan bergerak. Jari-jarinya mulai menggapai ke atas, ke arah tepi liang lahat, ke arah kaki Ardan. Di antara kuku telunjuknya yang hitam, terselip sebuah kancing kemeja putih yang mungil.

Ardan mundur selangkah, namun kakinya licin karena lumpur. Ia jatuh terjengkang tepat di tepi lubang. Saat ia berusaha bangkit, ia merasakan sebuah tangan yang sangat dingin dan kuat mencengkeram pergelangan kakinya. Putus asa.

"Pesan terakhirku belum selesai," bisik suara dari ponsel yang masih tertancap di mulut jenazah itu, meski jaraknya beberapa meter dari telinga Ardan.

Para pelayat lain berlarian menjauh, meninggalkan Ardan yang berteriak histeris saat tubuhnya mulai ditarik perlahan masuk ke dalam liang lahat yang sempit itu. Tanah di pinggiran lubang mulai longsor, menimbun mereka berdua ke dalam kegelapan yang abadi.

Pesan terakhir yang diterima semua orang sore itu hanya berisi satu kata.

"Lunas."