Hayuning Ratri Hapsari | Irhaz Braga
Ilustrasi perempuan sedang duduk dan membaca buku di coffee shop (Pixabay)
Irhaz Braga

Dalam satu dekade terakhir, kopi mengalami pergeseran makna di ruang-ruang kota. Ia tak lagi sekadar minuman pengusir kantuk, melainkan penanda gaya hidup, identitas kelas, bahkan ekspresi diri. Kedai kopi estetik tumbuh subur di sudut-sudut perkotaan, menawarkan lebih dari sekadar cita rasa. Ada desain interior yang “instagramable”, narasi tentang biji kopi lokal, serta pengalaman yang dikemas dengan rapi. Di balik geliat ini, muncul fenomena romantisasi konsumsi urban yang patut dicermati.

Kedai kopi hari ini menjadi ruang sosial baru bagi kelas menengah perkotaan. Ia berfungsi sebagai tempat bekerja, berdiskusi, atau sekadar hadir secara simbolik di ruang publik. Kopi diminum bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk ditampilkan. Foto cangkir, sudut ruangan, dan latte art menjadi bagian dari narasi digital yang menyertai pengalaman ngopi. Konsumsi pun bergeser dari kebutuhan menjadi representasi diri.

Romantisasi ini bekerja secara halus. Kopi dipresentasikan sebagai bagian dari kehidupan kreatif, produktif, dan sadar lingkungan. Kata-kata seperti “single origin”, “manual brew” membangun kesan etis dan autentik. Namun, narasi tersebut sering kali berhenti pada lapisan simbolik, tanpa pembacaan kritis terhadap relasi produksi di balik secangkir kopi.

Dalam banyak kasus, nilai tambah terbesar justru terkonsentrasi di ruang konsumsi, bukan pada hulu produksi. Petani kopi tetap berada dalam posisi rentan terhadap fluktuasi harga, perubahan iklim, dan keterbatasan akses pasar. Sementara itu, di kota, kopi dijual dengan harga berlipat, dibungkus pengalaman estetik dan bahasa gaya hidup. Ketimpangan ini jarang hadir dalam percakapan di balik meja kayu minimalis.

Kedai kopi estetik juga mencerminkan transformasi ruang kota. Banyak ruang publik yang sebelumnya inklusif kini bergeser menjadi ruang semi-eksklusif berbasis konsumsi. Akses terhadap ruang sosial mensyaratkan kemampuan membeli. Mereka yang tidak memiliki daya beli secara perlahan tersingkir dari lanskap kota yang kian dikomersialkan. Kota pun berubah menjadi etalase gaya hidup, bukan ruang hidup bersama.

Romantisasi konsumsi urban ini diperkuat oleh budaya digital. Media sosial mendorong pengalaman yang serba visual dan singkat, di mana makna sering kali direduksi menjadi citra. Kopi tidak lagi dinilai dari rasa atau relasi sosial yang dibangunnya, melainkan dari bagaimana ia tampil di layar. Konsumsi menjadi performatif, dan kedai kopi menjadi panggungnya.

Hal ini bukan berarti budaya ngopi harus dipandang secara sinis. Kedai kopi juga membuka ruang pertemuan lintas latar belakang, mendukung ekonomi kreatif, dan memberi alternatif ruang kerja di kota yang kian padat. Namun, tanpa kesadaran kritis, budaya ini mudah terjebak dalam glorifikasi konsumsi yang menutupi persoalan struktural: ketimpangan ekonomi, eksploitasi sumber daya, dan komodifikasi ruang publik.

Pertanyaan pentingnya adalah sejauh mana konsumsi urban memberi makna di luar kepuasan sesaat. Apakah kopi yang kita minum benar-benar menghadirkan relasi yang lebih adil bagi petani? Apakah ruang yang kita nikmati terbuka bagi semua, atau hanya bagi mereka yang mampu membayar? Romantisasi tanpa refleksi berisiko menjadikan konsumsi sebagai tujuan, bukan sarana.

Di tengah krisis lingkungan dan ketimpangan sosial, praktik konsumsi sehari-hari memiliki dimensi etis. Kesadaran ini tidak harus diwujudkan dalam penolakan terhadap kedai kopi, melainkan dalam sikap yang lebih reflektif. Menghargai kopi berarti juga menghargai proses, manusia, dan ruang yang terlibat di dalamnya.

Pada akhirnya, kopi adalah cermin kehidupan urban hari ini. Ia merekam kegelisahan, aspirasi, dan kontradiksi kota modern. Di balik aroma yang menenangkan dan ruang yang estetik, tersimpan pertanyaan tentang bagaimana kita memaknai konsumsi. Apakah ia sekadar romantisasi gaya hidup, atau pintu masuk menuju kesadaran sosial yang lebih dalam. Jawaban itu, seperti kopi, bergantung pada cara kita meraciknya.