M. Reza Sulaiman | Hafsah H.
Ilustrasi Boneka Hantu (Gemini AI)
Hafsah H.

Seperti hari-hari yang sudah-sudah, aku melakukan rutinitasku di sebuah hotel sebagai room boy. Lokasinya yang berhadapan langsung dengan bibir pantai menyajikan pemandangan yang begitu memesona. Tak heran jika banyak wisatawan memilih hotel tempatku bekerja ini sebagai tempat menginap.

"Selamat pagi," sapa salah seorang pengunjung hotel yang baru saja check out dari salah satu kamar.

"Selamat pagi juga, Pak," balasku sambil tersenyum ramah.

"Semalaman saya tidak bisa tidur. Kayak ada suara benda diseret-seret di depan kamar. Berisik banget. Tapi pas saya cek, di depan kamar tidak ada apa-apa. Lorong kosong dan sepi," cerita bapak tersebut.

Aku merasa akrab dan maklum karena memang hal ini sering kali terjadi di kamar tersebut.

"Nggak cuma itu saja, Mas. Tadi malam selepas saya rapat sama rekan bisnis saya, jam 10 malam saya salat Isya terus menaruh tas saya di lemari. Pagi ini pas saya bangun mau salat Subuh, saya lihat tas saya ada di samping tempat tidur dan laptop saya sudah menyala di atas meja."

Meskipun sudah terbiasa mendengar cerita seperti ini, rasa merinding itu cukup kuat untuk menaikkan bulu tengkukku.

"Ya sudah, Mas. Saya mau buru-buru ke bandara dulu," pamit lelaki jangkung itu.

"Semoga Anda puas dengan pelayanan kami. Maaf atas ketidaknyamanan ini. Hati-hati di jalan, Pak."

Selesai membersihkan kamar 123, aku pun melanjutkan tugasku ke kamar 130 yang masih satu lorong dengan kamar sebelumnya.

"Selamat pagi." Kali ini aku yang terlebih dahulu menyapa pengunjung yang kutebak berusia 30-tahunan itu.

"Selamat pagi," balas seorang ibu muda dan seorang gadis yang sepertinya anak dari ibu muda itu.

"Gimana istirahatnya? Semoga puas dengan pelayanan kami," tanyaku tulus pada gadis kecil itu.

"Di sini serem, Om," jawab gadis kecil itu.

"Om?!" Apa aku terlihat setua itu? Aku mencoba tetap sabar dan tersenyum. Usiaku baru 22 tahun, tentu aku lebih nyaman kalau dipanggil "Mas".

"Seram kenapa, Nona kecil?" tanyaku berusaha ramah.

"Aku mimpi buruk tadi malam," terang anak kecil itu.

"Kamu mimpi buruk karena lupa berdoa, Sayang, bukan karena hotelnya seram." Ibu dari anak itu berusaha menenangkan anaknya sambil mengusap puncak kepalanya.

"Iya, tapi tetap saja seram. Aku mimpinya kayak nyata banget, Bun. Di jendela itu kayak ada yang lagi memperhatikan aku. Aku penasaran, terus aku lihat tidak ada apa-apa. Pas aku mau balik, tiba-tiba di jendela itu ada boneka seram banget. Bisa jalan sendiri terus matanya melotot. Pas aku bangun juga kayak ada bayangan boneka gitu di jendela."

Gadis kecil itu tampak bergidik menceritakan mimpinya.

"Kamu cuma habis nonton film horor, Sayang. Makanya lain kali kalau takut jangan nonton Annabelle, dan baca doa sebelum tidur, ya."

Setelah bercerita, ibu dan anak itu pun berpamitan untuk segera check out dari hotel. Aku hanya merasa kasihan dengan para pengunjung yang masih saja dihantui oleh cerita kelam hotel ini. Namun, tentu aku tidak bisa menceritakan kejadian yang sebenarnya karena ini adalah rahasia perusahaan yang harus dijaga oleh para karyawannya.

Dua cerita horor hari ini, semoga tidak ada lagi cerita horor yang ketiga. Aku pun kembali melakukan aktivitas dengan sapu dan seprai-seprai kotor yang harus kubawa ke laundry.

Kamar ketiga sebelum jam makan siang adalah kamar 147. Berbeda dengan dua kamar sebelumnya yang masih menyisakan pengunjung, kamar yang akan kubersihkan kali ini sudah kosong. Aku pun memulai pekerjaanku dengan mengganti seprai lama dengan seprai yang baru.

Baru beberapa saat berada di kamar ini, aku sudah mendengar suara-suara yang menyeret di lantai. Kuhalau rasa takut itu, toh aku sudah bersahabat dengan hal ini selama tujuh bulan. Selesai mengganti seprai, aku hendak mengambil sapu sebelum mengepel lantai. Aku terkejut saat mengamati sapu yang berada di troli alat kebersihanku telah berubah posisi menjadi di luar troli.

"Aneh," aku bergumam dalam hati. Namun, terkadang Nirmala memang sedikit membantu, meskipun risiko bekerja sambil ketakutan sering kualami. Kulihat lantai kamar 147 telah bersih dan siap untuk dipel. Aku pun bergegas untuk menyelesaikan sisa pekerjaan karena kamar ini telah direservasi untuk pukul 1 siang.

Tiga hari berlalu tanpa ada hal istimewa selain selalu berkutat dengan sapu, pel, dan seprai kotor. Namun, ketika hari menjelang siang, aku bertemu dengan seorang ibu-ibu tua. Rupanya Bu Nur inilah yang mereservasi kamar 147 tempo hari dan hari ini ia berniat untuk check out. Saat selesai membersihkan kamar 146, Bu Nur memanggilku.

"Mas, di kamar ini ada anak kecil yang pernah mati, ya?"

Sontak aku pun terkejut mendengar pertanyaan Bu Nur. "Bagaimana Ibu bisa tahu?" tanyaku tanpa menyembunyikan rasa penasaran.

"Saya sudah dua kali menginap di hotel ini karena pelayanannya bagus. Tapi tiap menginap di hotel ini saya selalu mimpi buruk. Saya melihat di jendela itu kayak ada yang lagi memperhatikan. Tapi tiap saya lihat lagi, di jendela memang tidak ada apa-apa. Aneh. Pas saya mau balik, tiba-tiba di depan saya ada boneka seram banget. Saya kaget, boneka itu bisa jalan sendiri terus matanya melotot. Tapi saya tidak takut, saya lempar boneka itu.

"Boneka itu malah tertawa sambil menangis, dia bilang kalau dia itu anak kecil yang dibunuh di lorong ini. Tempo hari pas saya menginap di hotel ini, saya juga menginap di lorong ini, cuma beda kamar. Di sana saya juga mimpi boneka hantu itu. Dia tertawa sambil menangis kayak minta tolong. Dia dianiaya sebelum dibunuh. Dia juga bilang kalau tubuhnya dijahit dan dibungkus dengan kain boneka. Pas saya bangun, di jendela memang beneran ada boneka yang kayak di mimpi," cerita Bu Nur panjang lebar.

Mendengar penuturan Bu Nur, mau tidak mau akhirnya mulutku tergerak untuk menceritakan kisah di hotel ini.

"Dulu memang ada anak kecil yang menginap di hotel ini, namanya Nirmala. Usianya 5 tahun. Dia anak yang cantik dan tidak rewel seperti anak seusianya yang lain. Hari kedua dia menginap di sini, dia mengalami pelecehan seksual, hampir seperti penganiayaan karena Nirmala banyak berontak. Jadi banyak yang menduga kalau itu membuat pelaku sangat kesal dan ketakutan sampai-sampai ia tega menghabisi nyawa Nirmala.

"Pelakunya juga salah satu pengunjung di hotel ini, di sebelah kamar tempat Nirmala menginap. Pelaku menghilangkan jejak pembunuhan Nirmala dengan cara menjahit tubuh Nirmala ke dalam kain boneka. Boneka Nirmala memang ada di belakang kamar ini, makanya para tamu yang menginap di lorong ini pasti mengalami hal yang aneh. Kejadian ini sengaja ditutup rapat-rapat sama pemilik hotel biar para tamu yang menginap di sini tidak takut, Bu. Tapi rupanya Bu Nur tidak takut sama sekali sama Nirmala. Malah Bu Nur ini sudah dua kali menginap di sini," paparku.

"Seperti yang sudah saya bilang, saya suka dengan pelayanan di hotel ini. Lokasinya juga bagus, dekat dengan pantai. Harganya juga tidak begitu mahal. Mengenai Nirmala, saya justru kasihan sama dia, bukannya takut. Makanya saya balik ke sini mau doain dia, semoga dia tenang di alamnya. Setiap saya selesai berdoa untuk dia, dia kelihatan lebih tenang. Mas tahu dia dibunuh dengan cara apa? Terus orang tua Nirmala gimana?" tanya Bu Nur.

"Setahu saya Nirmala tidak dibunuh dengan cara sadis. Dia diracun, Bu, begitu kata teman saya. Cuma mayat Nirmala memang disayat-sayat di bagian pipinya. Saya juga tidak tahu kenapa boneka Nirmala juga dibuat mirip dengan mayat Nirmala, ada sayatan di bagian pipi kanan dan kirinya. Begitu pun matanya, Nirmala punya mata yang besar, makanya boneka Nirmala dibuat seakan melotot."

Mendengar kisah Nirmala kembali membuatku bergidik ketakutan sekaligus iba di saat yang bersamaan. Orang tua Nirmala tentu shock mengetahui putri mereka mengalami kekerasan seksual parah dan sampai diracuni. Ibu Nirmala akhirnya terkena serangan jantung dan meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Lalu, ayah Nirmala melaporkan pelaku ke polisi. Orang tua Nirmala adalah pemilik hotel ini.

Karena kesedihan yang mendalam atas kematian anak dan istrinya, Pak Samsul awalnya tetap menaruh boneka Nirmala di sudut halaman belakang. Tetapi karena bau busuk yang semakin menyengat dari jasad Nirmala, para karyawan dan keluarga pun membujuk Pak Samsul supaya mau mengubur jenazah Nirmala secara baik-baik.

"Saya sering mendengar boneka itu menangis ketakutan, mungkin itu yang dirasakan Nirmala saat mengalami kekerasan seksual hingga berujung pada pembunuhan."

Rasa iba itu kembali menjalar di wajah Bu Nur. Setelah mengakhiri cerita tragis mengenai Nirmala, Bu Nur pun pamit untuk segera check out dari hotel ini. Begitu pun denganku yang kembali melanjutkan pekerjaan.