Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh perbedaan pandangan, identitas, dan kepentingan. Empati sering terdengar sebagai konsep yang indah secara teori, tetapi sulit diwujudkan dalam praktik.
Buku The Empathy Effect: Seven Neuroscience-Based Keys for Transforming the Way We Live, Love, Work, and Connect Across Differences karya Dr. Helen Riess, MD dan Liz Neporent ditulis untuk mematahkan anggapan tersebut.
Buku ini menegaskan bahwa empati bukan sekadar sifat bawaan, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dikembangkan secara ilmiah.
Isi Buku
Sebagai seorang psikiater, dosen klinis di Harvard Medical School, serta Direktur Program Empati dan Ilmu Relasional di Massachusetts General Hospital (MGH), Dr. Helen Riess membawa pendekatan yang berbeda dari buku empati pada umumnya.
Ia tidak hanya berbicara tentang empati sebagai nilai moral, tetapi sebagai kapasitas neurobiologis yang dapat diperkuat melalui latihan terstruktur. Pendekatannya menggabungkan ilmu saraf, psikologi, sosiologi, dan teori evolusi, menjadikan buku ini bukan sekadar inspiratif, tetapi juga berbasis sains yang kuat.
Buku ini mengenalkan Metode E.M.P.A.T.H.Y. Metode ini telah digunakan secara internasional dan terbukti efektif dalam berbagai bidang profesional.
- E (Eye contact / Kontak mata)
Kontak mata yang tepat membuat seseorang merasa diperhatikan dan dihargai. Riess menekankan pentingnya tatap muka yang cukup untuk menciptakan koneksi emosional, bukan tatapan agresif, tetapi kehadiran visual yang penuh perhatian.
- M (Muscles of facial expression / Otot ekspresi wajah)
Manusia secara alami meniru ekspresi orang lain. Dengan mengenali pola ekspresi emosi dan meresponsnya secara reflektif, kita dapat mengomunikasikan empati tanpa kata-kata.
- P (Posture / Postur tubuh)
Postur terbuka, duduk tegak, condong ke depan, tidak menyilangkan tangan. Menciptakan rasa aman dan kepercayaan. Bahasa tubuh menjadi bahasa empati yang sering kali lebih kuat daripada kata-kata.
- A (Affect / Afek atau emosi)
Mengidentifikasi dan menyebutkan emosi orang lain membantu membangun pemahaman yang lebih dalam. Ini bukan soal menilai, tetapi mengenali perasaan yang mendasari perilaku.
- T (Tone / Nada suara)
Nada suara menyampaikan lebih dari 38% konten emosional dalam komunikasi nonverbal. Nada yang menenangkan menciptakan rasa aman, sementara penyesuaian nada membantu membangun koneksi emosional yang lebih sehat.
- H (Hearing / Mendengar)
Mendengar secara empatik berarti mendengar tanpa menghakimi. Mengajukan pertanyaan yang tepat dan memberi ruang bagi orang lain untuk mengekspresikan dirinya menjadi inti empati sejati.
- Y (Your response / Tanggapan Anda)
Bukan sekadar apa yang dikatakan, tetapi bagaimana kita beresonansi secara emosional dengan orang lain. Sinkronisasi emosi inilah yang menciptakan rasa kedekatan dan kepercayaan.
Kesimpulan
Buku ini menunjukkan bahwa empati bukan sikap pasif, melainkan tindakan aktif. Empati bukan hanya memahami, tetapi juga bertindak dengan kepedulian.
Dalam konteks kehidupan modern yang penuh stres, konflik, dan tekanan. Empati menjadi keterampilan sosial yang sangat penting, bukan hanya untuk keharmonisan relasi, tetapi juga untuk kesehatan mental kolektif.
The Empathy Effect juga menegaskan bahwa empati memiliki dampak struktural: memperbaiki kualitas hubungan, meningkatkan efektivitas komunikasi, memperkuat kepemimpinan, serta menciptakan lingkungan kerja dan belajar yang lebih manusiawi.
Tidak heran jika metode pelatihan empati Dr. Riess telah digunakan luas di bidang medis, bisnis, dan pendidikan.
Pada akhirnya, buku ini menawarkan satu pesan besar: empati bukan kelembutan yang lemah, melainkan kekuatan yang cerdas. Ia bukan hanya soal perasaan, tetapi soal keterampilan relasional yang dapat mengubah cara kita hidup, mencintai, bekerja, dan terhubung satu sama lain.
Dalam dunia yang sering keras dan terpolarisasi, empati bukan lagi pilihan etis semata, melainkan kebutuhan sosial yang mendesak.
Identitas Buku
- Judul: The Empathy Effect (Rahasia Membangun Hubungan yang Lebih Dalam dan Penuh Makna)
- Penulis: Dr. Helen Riess dan Liz Neporent
- Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
- Tahun Terbit: September 2024
- ISBN: 9786230419577
- Tebal: 340 halaman
Baca Juga
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
-
Menemukan Jalan Pulang ke Diri Sendiri di Buku 'Semua Orang Butuh Curhat'
-
Menampar Diri Lewat Buku How to Stop Feeling Like a Sh*t Karya Andrea Owen
Artikel Terkait
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah: Rahasia Gelap Sejarah Tionghoa Indonesia
-
Selangkah Lebih Dekat dengan Anak di Buku Anak yang Penuh Kecemasan
-
Bagaimana Islam Memuliakan Perempuan? Ulasan Buku Karya Al-Buthi
-
Menghempas Energi Buruk di Buku Memaafkan yang Tak Termaafkan
Ulasan
-
Sinopsis The Unexpected Family, Pura-Pura Jadi Keluarga Demi Pengidap Alzheimer
-
Teman Tegar Maira: Film Inspiratif tentang Cinta Alam dan Persahabatan
-
Film 'The Tank': Tank Tempur dan Penjara Jiwa dalam Peperangan
-
Seni Mencintai dengan Waras di Buku Closer to Love Karya Vex King
-
Review Novel Perkumpulan Anak Luar Nikah: Rahasia Gelap Sejarah Tionghoa Indonesia
Terkini
-
Peran Journaling dalam Film Even If This Love Disappears Tonight di Netflix
-
Self-Love Terbaik Perempuan Modern, Prioritaskan Diri Tanpa Rasa Bersalah
-
Tayang Maret, Pemain Drakor Phantom Lawyer Mulai Lakukan Pembacaan Naskah
-
Lee Chae Min Digaet Bintangi Adaptasi Drama Korea dari Novel Jepang Populer
-
Intip 4 Outfit Tank Top ala Ruka BABYMONSTER, Girly Look ke Edgy Vibes!